Protes Lama Suporter Dortmund kepada RB Leipzig yang Bersemi Kembali

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Protes Lama Suporter Dortmund kepada RB Leipzig yang Bersemi Kembali

Pada musim 2016/2017, hubungan antara Borussia Dortmund dan RB Leipzig mulai memanas. Sekarang, hubungan antara Dortmund dan Leipzig tampaknya akan sedikit memanas kembali. Ini dikarenakan suporter Dortmund yang direncanakan akan kembali melancarkan protes terhadap Red Bull, perusahaan yang menaungi RB Leipzig. "RB" pada "RB Leipzig" sendiri bukan memiliki singkatan "Red Bull", melainkan "RasenBallsport".

Dortmund kemudian akan bersua Leipzig dalam partai lanjutan Bundesliga musim 2017/2018 spieltag 8. Saat ini, Dortmund sedang berada di peringkat pertama, dengan torehan enam kali menang dan sekali seri. Sementara itu, Leipzig berada di posisi keempat dengan torehan empat kali menang, sekali seri, dan dua kali kalah.

Pertemuan keduanya pun diprediksi akan kembali ramai seperti halnya musim 2016/2017 silam. Pada musim tersebut, musim ketika RB Leipzig baru pertama kali menginjakkan kaki di Bundesliga, rekor pertemuan kedua tim adalah masing-masing sekali menang dan sekali kalah. Baik itu Dortmund maupun Leipzig sama-sama saling mengalahkan ketika mereka bermain di kandang sendiri. Leipzig mengalahkan Dortmund di Red Bull Arena, dan Dortmund mengalahkan Leipzig di Westfalenstadion.

Namun keseruan ternyata tidak hanya terjadi di dalam lapangan saja. Dari luar lapangan, suporter Dortmund siap akan sebuah protes yang sebenarnya sudah mereka layangkan sejak musim 2016/2017 silam: protes terhadap perusahaan minuman berenergi Red Bull.

Awal mula perselisihan, boikot sampai kericuhan

Awal mula perselisihan antara Dortmund dan Leipzig ini terjadi pada awal musim 2016/2017. Berangkat dari kekesalan sebuah firma suporter Dortmund yang biasa berdiam di tribun selatan, yaitu The Südtribune, sebuah pergerakan pun dilakukan. Para suporter Dortmund yang tergabung dalam The Südtribune ini memilih untuk melakukan boikot dalam laga RB Leipzig lawan Borussia Dortmund yang dilangsungkan di Red Bull Arena pada awal musim 2016/2017.

Setelah melakukan boikot, yang sedikit berakhir dengan kekecewaan karena Die Borussen kalah 1-0 dari Leipzig ketika itu, pada putaran kedua Bundesliga, Februari 2017 silam, banner-banner yang sifatnya provokatif, serta serangan-serangan yang dilakukan oleh para suporter Dortmund kepada suporter Leipzig di luar lapangan membuat suporter Dortmund dihukum oleh DFB. Denda sebesar 100.00 juta euro dan absennya Yellow Wall dalam satu pertandingan adalah hukuman yang harus diterima suporter Dortmund.

Banner provokatif suporter Dortmund saat lawan Leipzig musim 2016/2017 silam

Tindakan yang sedikit anarkis dari para suporter Dortmund itu adalah buah dari ketidaksetujuan mereka akan kemunculan RB Leipzig yang mereka anggap sebagai klub plastik dan hanya mengandalkan uang sebagai jalan untuk meraih prestasi. Hal ini mereka anggap tidak sesuai dengan nilai-nilai tradisional sepakbola Jerman, termasuk aturan 50+1 yang menurut suporter Dortmund, sudah dilanggar oleh RB Leipzig.

Kericuhan ini juga ditambah dengan tindakan dari CEO Dortmund, Hans-Joachim Watzke. Disinyalir, keributan yang terjadi di Westfalenstadion ini merupakan akibat dari tindakan Watzke yang menghina Leipzig. Ia menyebut bahwa selama bermain di Bundesliga, Leipzig seperti sedang menjual satu kaleng minuman soda. Tuduhan ini langsung ditampik oleh Watzke.

"Percayalah, saya selalu menjaga perkataan saya. Saya tidak pernah mengatakan ucapan semacam itu (menjual satu kaleng soda). Saya tidak pernah mengejek RB Leipzig. Saya tidak pernah mengucapkan kata-kata yang bersifat diskriminatif ataupun ofensif seperti itu," aku Watzke disitat dari ESPN FC.

Baca Juga: Hubungan Dortmund-Leipzig Kian Memanas

Protes yang kembali akan dilancarkan

Sempat mereda beberapa saat, setidaknya sampai akhir Bundesliga musim 2016/2017, ternyata suporter Dortmund belum sepenuhnya lupa akan tuntutan yang pernah mereka lancarkan. Jelang laga Dortmund lawan Leipzig yang akan dihelat pada Sabtu (14/10/2017) malam, suporter Dortmund berujar bahwa mereka akan kembali melancarkan protes yang dulu pernah mereka lancarkan. Protes ini kembali dipimpin oleh kelompok yang sama, yaitu The Südtribune.

"Proyek yang sedang dilangsungkan oleh Dietrich Mateschitz (pemilik Red Bull), seperti apapun proyeknya itu, akan tetap kami protes. Protes ini sudah kami lancarkan dari musim kemarin, dan sekarang akan kami lancarkan kembali," ujar pernyataan resmi yang dilansir dari laman The Südtribune.

"Oleh karena itu, kami mengajak kepada semua suporter yang lain untuk melakukan march (jalan bersama) ke Westfalejstadion, untuk menunjukkan bahwa uang tidak bisa membeli loyalitas, fanatisme, dan sebuah budaya suporter yang sudah mengakar sejak lama," tambah pernyataan resmi tersebut.

Khawatir akan adanya kembali kericuhan yang terjadi di Signal Iduna Park, pihak kepolisian Dortmund pun sudah mempersiapkan anggotanya guna mengamankan pertandingan antara Borussia Dortmund melawan RB Leipzig ini. Anggota polisi yang diterjunkan pun akan lebih banyak mengingat akan banyak pula suporter Dortmund yang datang menonton pertandingan.

"Pada Sabtu (14/10/2017) nanti, kami sudah mempersiapkan diri untuk menjaga pertandingan antara Dortmund dan Leipzig tetap berjalan aman, sehingga suporter akan terhindar dari tindak ricuh dan anarkis, yang biasanya dilancarkan oleh para kriminal dan hooligan yang sebenarnya tidak pantas disebut sebagai suporter," ujar kepala kepolisian Dortmund, Gregor Lange, disitat dari ESPN FC.

Tapi terlepas dari baik atau buruknya protes yang dilancarkan oleh suporter Dortmund ini, hal tersebut menunjukkan bahwa suporter, selain mendukung, bisa juga menyuarakan ketidaksetujuan mereka akan hal-hal yang terjadi di sepakbola. Ini menunjukkan bahwa suporter, juga harus memiliki kepekaan akan situasi sepakbola di sekitarnya.

Komentar