AC Milan Lebih Besar dari Donnarumma

Cerita

by Randy Aprialdi 74502

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

AC Milan Lebih Besar dari Donnarumma

Dalam satu bulan terakhir ini, Milan penuh dengan rasa semangat dan optimisme atas kepastian empat pemain baru dalam rentan waktu dua minggu. Andre Silva, Franck Kessie, Mateo Mussacchio dan Ricardo Rodriguez sudah direkrut dengan harga mahal. Namun, mereka juga tampaknya harus menerima kenyataan bahwa pemain terbaik mereka, Gianluigi Donnarumma, kemungkinan besar akan hengkang dalam waktu dekat setelah enggan memperpanjang kontraknya yang habis 2018 mendatang.

"Kami berkecil hati. Mino Raiola (agen Donnarumma) telah menyampaikan kepada saya keputusan Donnarumma untuk tidak memperbaruinya. Ini keputusan terakhirnya," imbuh Marco Fassone seperti dikutip dari La Gazzetta dello Sport.

Penolakan perpanjangan kontrak Donnarumma ini tentu menjadi musibah bagi AC Milan. Kesetiaan dalam sepakbola telah mati, mungkin begitu reaksi para pendukung Milan mengenai hal ini. Padahal Milan sedang berusaha membangun kembali skuat mereka setelah musim-musim yang mengecewakan karena terlempar ke papan tengah.

Pada Oktober 2015, Donnarumma masih 16 tahun dan tidak diketahui namanya. Namun sejak saat itu, ia mulai memamerkan keterampilannya di bawah mistar gawang yang membuatnya mendapatkan dihujani pujian. Ditambah lagi pada waktu itu kualitas para pemain bintang Milan sedang inkonsisten sehingga dengan cepat menjadikan Donnarumma sebagai favorit baru di kalangan para pendukung kesebelasan tersebut.

Semangat dalam diri Donnarumma sejak awal kemunculannya selalu merefleksikan bahwa ia memiliki kesempatan untuk menjadi ikon Milan. Donnarumma sendiri pernah mengatakan ambisinya bersama Milan pada masa depan. "Saya selalu menjadi suporter Milan dan saya harus mengatakan ban kapten adalah impian saya, sebuah prestasi di perjalanan karier saya," aku Donnarumma pada Juli 2016 lalu, seperti dikutip dari Bleacher Reports.

Memang jika bukan karena Milan dan kepercayaan kepadanya, mungkin Donnarumma saat ini masih duduk di kesebelasan akademi saja. Maka dari itu keputusan kiper 18 tahun tersebut benar-benar mengejutkan. Tentu setiap pendukung Milan pasti menginginkannya bertahan, namun pihak Donnarumma berkehendak lain.

Jika ditinjau dari perspektif Milan, tentu manajemen tidak bisa melakukan apa yang "lebih" dari saat ini. Tapi yang jelas itu semua tidaklah cukup bagi Donnarumma dan Raiola. Maka tidak mengherankan jika Raiola menerima sejumlah kritik dan hinaan atas perannya dalam hal ini. Para petinggi Milan pasti merasa sangat tidak dihormati oleh tindakan Raiola. Tapi memang pada akhirnya Donnarumma-lah yang membuat keputusan untuk tidak memperpanjang kontraknya. Dan di sisi lain, Donnarumma dan Raiola tentu memiliki hak untuk meminta bayaran tinggi.

Akan tetapi, apapun yang terjadi Milan seharusnya terus maju dengan cara yang positif bersama Fassone dan Massimiliano Mirabelli, dua sosok transfer guru Milan belakangan ini. Maka keputusan terbaik adalah menjualnya pada musim panas ini dan menginvestasikan dana yang didapatkannya. Jika tidak, Milan akan rugi berlipat-lipat karena Donnarumma bisa didapatkan secara gratis oleh kesebelasan mana pun.

Manchester United tertarik kepadanya untuk mengantisipasi kepergian David De Gea yang diisukan ke Real Madrid. Tapi Madrid juga mengincar Donnarumma andai kembali gagal mendapatkan De Gea. Bahkan Tancredi Palmeri, kontributor Gazzettta dello Sport, membocorkan bahwa Madrid siap menggaji Donnarumma sebesar 6 juta euro per tahun, lebih tinggi dari Milan yang kabarnya "hanya" menawarkan lima juta euro per tahun.

Sementara itu dari perspektif Donnarumma, idealnya ia bertahan di Milan. Di tempat lain, dengan lingkungan baru apalagi jika ia bermain di luar Italia, ia akan mendapatkan tekanan lebih besar di usianya yang baru menginjak 18 tahun. Karena selama di Milan pun sebenarnya Donna tak lepas dari kesalahan-kesalahan elementernya yang merugikan klub.

Milan pun sudah mempersiapkan Alessandro Plizzari, kiper akademi berusia 17 tahun, yang bisa menjadi hal-hal besar berikutnya. Mereka juga mengincar kiper lain seperti Mattia Perin, Norberto Neto, Pepe Reina dan Wojciech Szczesny. Yang jelas Fassone dan Mirabelli akan sibuk menemukan pengganti Donnarumma.

"Kami benar-benar berharap Gigio (panggilan Donnarumma) menjadi kiper Milan yang baru, sebuah pilar dari apa yang sedang kami bangun di sini, tapi kami harus mengevaluasi kembali banyak hal. Keputusan yang diambil oleh pemain dan agennya ini membuat kami sedih tapi kami harus bergerak maju, Milan harus bergerak maju," tutur Fassone.

Jika Plizzari atau kiper lain bisa membantu Milan lolos ke Liga Champions, sementara Donnarumma sedang berada di posisi sulit bersama kesebelasan barunya, itu akan menjadi kepuasan batin tersendiri bagi Milan yang mungkin merasa dikhianati. Namun sebagai pendukung sebuah kesebelasan sepakbola, tidak seharusnya membenci maupun khawatir. Apalagi Milan memiliki Plizzari dan uang yang banyak saat ini. Penjualan Donnarumma pun diprediksi akan menambah manuver Milan untuk mengejar target-target pemain mereka, salah satunya Andrea Belotti.

Tinggal kita lihat apakah Donnarumma bisa sukses tanpa Milan atau tidak. Jika Milan tidak cukup baik bagi Donnarumma, hal itu juga tak menutup sebaliknya. Bagi Milan juga Milanisti, rasa kesedihan, kaget dan marah setelah pengumuman Donnarumma itu tentu tak terelakkan. Tapi perlu diingat bahwa tidak ada satu bakat ataupun pemain yang lebih besar dari kesebelasan sepakbola itu sendiri. Apalagi untuk kesebelasan sarat sejarah seperti AC Milan.

Sumber lain: ESPN FC, Gianluca Di Marzio, SB Nation, Talk Sport.

Komentar