"The Underperfomers" Liga Primer Inggris musim 2015/2016

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

"The Underperfomers" Liga Primer Inggris musim 2015/2016

Liga Primer Inggris musim ini bagaikan sebuah drama yang punya plot tak terduga. Jalannya liga tak seperti yang dikira; klub semenjana menjadi juara, klub yang buang-buang harta justru tak berdaya.

Kejutan besar ada dalam diri Leicester City yang ceritanya begitu dalam digali. Namun ada sejumlah kesebelasan yang membikin para juru ulas menanggung malu. Perjalanan kesebelasan-kesebelasan tersebut tak seperti yang diharapkan; tak seperti yang dibayangkan.

Pandit Football telah memilih Chelsea, Newcastle United, dan Everton, sebagai kesebelasan yang mengejutkan dalam konotasi negatif musim ini.

Chelsea

Awal musim ini Chelsea tidak melakukan banyak perubahan. Jose Mourinho tidak mengubah skuat juara musim lalu. Hanya ada nama Pedro yang baru masuk dan diproyeksikan langsung dipasang di tim utama.

Chelsea masih dihuni skuat yang kuat. Diego Costa hadir dengan ditopang Eden Hazard dan Willian. Di lini tengah, Nemanja Matic dan Cesc Fabregas masih menjadi mesin penggerak utama tim. Sementara di pos penjaga gawang, Thibaut Courtois dianggap akan mencapai performa maksimalnya pada musim ini.

Namun, siapa sangka dengan skuat seperti itu, cobaan justru datang dari luar hal teknis? Perselisihan Jose Mourinho dengan Eva Carnerio menjadi pemantik masalah-masalah lain yang secara tidak langsung mengganggu urusan teknis permainan.

Tiba-tiba saja, Costa yang tajam musim lalu, lebih sering diejek karena perilakunya. Hal senada terjadi pada Oscar dan Hazard yang tak lagi tajam dan kreatif. Chelsea pun seperti mobil tua karena Fabregas dan Matic tak seagresif musim lalu.

Pada akhir musim ini, Chelsea mengakhiri musim di peringkat ke-10 dengan raihan 50 poin. Hasil ini sejatinya mungkin saja tambah buruk kalau permainan Chelsea tak membaik usai ditukangi Guus Hiddink.

Apa yang terjadi pada Chelsea tentu mengejutkan. Sebelum musim dimulai, mereka dijagokan untuk mempertahankan gelar. Penampilan Chelsea pada musim lalu pun terbilang menjanjikan, yang semestinya bisa menjadi modal mereka untuk mengarungi musim ini.

The Blues pada musim lalu menempati peringkat pertama dengan raihan 87 poin hasil 26 kali menang dan sembilan kali seri. Mereka pun mencetak 73 gol dan kebobolan 32 gol. Sepanjang musim, Chelsea tak pernah turun dari peringkat pertama liga.

Newcastle United

Musim lalu, banyak yang menyudutkan pemilik Newcastle, Mike Ashley, karena dianggap pelit tak mau membeli pemain baru. Kepindahan Alan Pardew kabarnya didasari karena manajer Crystal Palace tersebut tak mendapatkan dana yang pas untuk mengelola tim.

Musim ini, Newcastle jor-joran. Berdasarkan data Transfermarkt, Newcastle mengeluarkan 84,7 juta pounds untuk belanja pemain musim ini. Angka tersebut merupakan yang terbesar kedua setelah Manchester City. Berdasarkan Squawka, tidak ada kesebelasan yang belanja sedemikian besar lalu terdegradasi.

Melihat kasus Newcastle hal ini terbilang wajar kalau tidak ada yang menduga mereka akan terdegradasi. Pasalnya, mereka mendatangkan sejumlah pemain berkualitas macam Georginio Wijnaldum, Aleksandar Mitrovic, Florian Thauvin, Jonjo Shelvey, Chancel Mbemba, hingga Henri Saviet. Nama-nama di atas didukung oleh para rekrutan di musim sebelumnya seperti Remy Cabella, Siem de Jong, Emmanuel Riviere, Daryl Janmat, Jack Colback, hingga Ayoze Perez.

Dengan skuat seperti itu, wajar jika banyak juru ulas yang berpikiran kalau Newcastle amat serius musim ini, setidaknya untuk mengamankan tiket ke Eropa. Yang terjadi justru sebaliknya. Tim terlihat tidak padu, baik itu antar pemain maupun dalam pelaksanaan taktik di atas lapangan.

Newcastle pun lebih banyak berkutat di zona degradasi. Capaian tertinggi mereka ada di peringkat ke-10 pada pekan pertama, lalu peringkat ke-15 pada pekan ke-16. Selebihnya, selama 28 pekan, The Magpies selalu berada di zona merah.

Pergantian pelatih sejatinya baru menghasilkan dampak pada pertengahan April. Sebelumnya, Rafael Benitez yang direkrut pada 11 Maret, harus menelan empat pertandingan tanpa kemenangan. Enam pekan selanjutnya, Newcastle selalu meraih poin, termasuk kemenangan 5-1 atas Tottenham Hotspur, 3-0 atas Swansea, dan 1-0 atas Crystal Palace.

Capaian tersebut tak mampu membuat Newcastle bertahan di Premier League. Pada akhir musim, mereka berada di peringkat ke-18 dengan perolehan 37 poin hasil sembilan kali menang dan 10 hasil seri. Colback dan kolega terpaut dua poin dengan Sunderland yang berada di atasnya.

Everton

Everton sejatinya tak jauh berbeda dengan Newcastle. Banyak juru ulas yang berharap banyak pada kesebelasan asal Merseyside tersebut. Ini tentu bukannya tanpa alasan mengingat performa stabil Everton selama beberapa musim.

Roberto Martinez memberikan warna baru buat The Toffees. Pada musim pertamanya, mantan manager Wigan Athletic tersebut mampu membawa Everton ke peringkat kelima. Capaian ini memang menurun pada musim lalu dengan berada di peringkat ke-11, tapi hal tersebut tak lepas dari belum padunya Romero Lukaku, Gareth Barry, Muhammed Besic, serta Brendan Galloway, yang baru didatangkan pada awal musim 2014/2015.

Nama-nama di atas diprediksi bisa menjadi amunisi Everton pada musim ini. Terlebih mereka pun diperkuat Gerard Deulofeu, Ramiro Funes Mori, serta Aaron Lennon yang dipermanenkan pada musim ini.

Namun, penampilan Everton bisa dibilang tidak konsisten. Sempat naik ke peringkat kedelapan setelah meraih dua kemenangan beruntun pada pekan ke-25, dalam 13 pekan selanjutnya, Everton meraih delapan kekalahan.

Buruknya penampilan The Toffees membuat Martinez akhirnya dipecat. Dengan capaian ini pula, bukan tidak mungkin Everton akan ditinggal sejumlah pemain yang diminati oleh kesebelasan lain seperti John Stones, Lukaku, maupun Deulofeu.

Komentar