Dulwich Hamlet: Klub Terbaik Pilihan Para Hipster

Cerita

by redaksi Pilihan

Dulwich Hamlet: Klub Terbaik Pilihan Para Hipster

Akhir-akhir ini, sedang ramai diperbincangkan isu mahalnya harga tiket pertandingan liga Inggris. Suporter dari beberapa klub menggelar aksi protes terhadap keputusan klub menaikkan harga. Sebagian lagi mengeluhkan dampak siaran televisi yang membuat pertandingan sepakbola di Inggris harus menyesuaikan jam dengan jadwal penonton Asia.

Namun itu semua dilakukan pendukung yang tim kesayangannya bermain di Premier League. Lain lagi dengan pendukung klub yang satu ini. The Rabbles, nama sekumpulan pendukung sepakbola ini. Mereka mendukung satu tim di daerah East Dulwich, sebuah kawasan di selatan kota London.

Dulwich Hamlet FC, nama tim yang mereka dukung. Hamlet kini bermain di Divisi Utama Isthmian League atau level ke-7 dalam piramida kompetisi di Inggris. Sebagai gambaran, untuk mencapai League Two, maka Hamlet harus promosi sebanyak tiga kali. Eks-penyerang timnas Inggris, Peter Crouch pernah meperkuat klub ini pada tahun 2000.

Dulwich Hamlet saat meraih promosi ke Isthmian Premier League, 2013 lalu. Dulwich Hamlet saat meraih promosi ke Isthmian Premier Division, 2013 lalu.


Hamlet bisa dibilang klub yang secara prestasi termasuk biasa-biasa saja, bahkan untuk tim amatir. Didirikan sejak tahun 1893, The Pink and Blues-julukan Dulwich Hamlet sempat mencicipi empat gelar juara FA Amateur Cup, sebuah kompetisi untuk tim-tim amatir Inggris. Kala itu piala FA masih dipisah antara klub profesional dan amatir.

Belakangan, suporter Hamlet sampai naik 300 persen dari lima tahun sebelumnya. Hal ini diduga pendukung-pendukung muda yang menyebabkan popularitas klub ini meroket tajam.

Pertandingan terakhir mereka di musim 2014/15 ditonton oleh sekitar 3.000 penonton. Jumlah yang sangat besar bagi sebuah klub amatir yang menempati stadion yang hanya memiliki 500 tempat duduk saja. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah karena popularitas mereka.

Dukungan terhadap kampanye anti-homofobia, LGBT, dan juga anti-rasisme dianggap menjadi salah satu faktor kuat penyebab meningkatkanya popularitas klub ini, terutama pendukungnya. Hal ini ditambah juga dengan kebebasan berekspresi para penonton yang datang mendukung ke Champion Hill, markas Dulwich.

Kostum yang berwarna pink dan biru tua juga terlihat eye-catching. Sejarahnya, warna biru tua dan pink diambil dari warna seragam sekolah terkenal di daerah Dulwich.

Walaupun mayoritas pendukung Dulwich Hamlet adalah kalangan anak muda, namun banyak juga orang tua, anak-anak, bahkan keluarga datang menyaksikan. Bahkan tak jarang pendukung tim lain yang penasaran menyaksikan tim ini bertanding.
Bahkan pendukung Dulwich Hamlet hingga mancakup remaja wanita Bahkan pendukung Dulwich Hamlet hingga mencakup remaja wanita


Selain terkenal karena sikapnya yang anti-homofobia dan anti-rasisme, pendukung Hamlet juga terkenal karena kampanye aliran sayap kirinya. Salah satu kelompok yang mendukung ini menamakan dirinya ComFastChapter.
dulwich-hamlet-non-league-football-109-body-image-1420469642 Salah satu kelompok pendukung Dulwich Hamlet, ComFastChapter


Salah seorang pentolan dari kelompok tersebut adalah Robert Molloy-Vaughan. Vaughan berujar bahwa kelompoknya menjalankan kritik lebih dari sekedar sepakbola, melainkan segala aspek dalam kehidupan. Untuk itu, kelompok ini memiliki slogan "For Future Football," sebuah slogan yang menurutnya lebih membawa pesan positif daripada slogan "Against Modern Football." Menurutnya, ia prihatin dengan komersialisasi sepakbola yang terjadi sehingga membuat para pendukung yang total mendukung timnya harus melewatkan pertandingan tim kebanggaannya.

Agak aneh sebenarnya mendengar ada kelompok supporter radikal sayap kiri di stadion, namun bisa berbaur dengan keluarga dan anak-anak yang sebenarnya datang dari kelas menengah. Banyaknya penonton anak-anak beserta perempuan dengan pakaian yang fashionable juga membuat label Hamlet sebagai tim hipster semakin kuat.

Tiket untuk menonton laga Dulwich Hamlet sangat terjangkau bagi pendukungnya. Hanya dengan tiket 4 pounds atau sekitar 77.000 rupiah saja. Bandingkan dengan menonton laga di stadion Emirates seharga 97 pounds atau sekitar 1,8 juta rupiah per pertandingan, itupun kalau anda telah memesannya jauh-jauh hari.

Selain harga tiket yang murah, orang-orang yang datang menonton Hamlet biasanya membeli bir racikan lokal yang dijual di sekitar stadion yang dibanderol 3 poundsterling saja. Sehigga lengkaplah sudah kebahagiaan para pendukungnya.

Jangan harap kalau anda menemukan chant-chant berisi makian tentang gay, lesbian, ataupun kata-kata makian yang tidak sopan di kandang Dulwich Hamlet, karena fans Hamlet sangat peduli soal ini, sampai-sampai mereka menamai hal tersebut sebagi "Moral Victory" atau kemenangan moral. Malah, ada satu hal yang mungkin tidak bisa kita dengar di stadion lainnya: menyanyikan chants dengan suara falsetto.

Selain itu yang menarik adalah banner-banner yang mereka tampilkan di stadion ketika Dulwich Hamlet berlaga. Terlihat nyeleneh, usil, sekaligus keren, seperti: "No One Know Us, We Don`t Care," atau "This Is Tuscany," yang bermula dari sindiran media lokal tentang daerah Dulwich. Tuscany adalah sebuah daerah Italia yang terkenal dengan karya-karya jaman Renaissance.

Selalu ada saja cara untuk mencari sebuah kesenangan daripada hanya mengeluh mahalnya tiket menonton sepakbola. Hal ini juga menegaskan bahwa hal-hal diluar lapangan hijau akan selalu menarik perhatian orang yang hendak datang untuk menonton sepakbola. Dulwich Hamlet, contohnya.

(tr)



Sumber lain: Guardian, Independent, vice

Sumber foto: independent, guardian, brixtonbuzz

Komentar