Menjaga Kebesaran Sebuah Kesebelasan à la Santos (Bagian 2)

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Menjaga Kebesaran Sebuah Kesebelasan à la Santos (Bagian 2)

Meski kehebatan para pemain muda Santos FC sudah dikenal sejak awal terbentuknya klub ini, Santos era 60-an disebut-sebut sebagai masa emas sepanjang sejarah Santos. Adanya salah satu bakat terbaik sepanjang sejarah sepakbola, Pele, Santos menjuarai Campeonato Serie pertama pada 1961 yang diikuti oleh trofi juara hingga 1965, lima musim berturut-turut, ditambah dua gelar Copa Libertadores.

Pada era 70 dan 80-an, Santos mengalami kemunduran. Pada masa ini, hanya dalam dua puluh tahun, hanya tiga trofi yang berhasil diraih kesebelasan berjuluk Peixe yang berarti ‘Ikan’ ini. Tahun 90-an lebih buruk. Hanya dua trofi yang berhasil ditambahkan Santos menjelang akhir milenium.

Keberhasilan memang sempat membuat Santos lupa diri. Pada era tersebut manajemen sempat putus asa menghadapi hutang yang melilit klub karena pembangunan sebuah tempat spa mewah. Kesalahan investasi ini membuat Santos terpaksa menjual kembali tempat spa tersebut. Santos pun seolah kembali membangun klub dari awal.

Memasuki abad 20, kebesaran Santos diambang kejatuhan. Tapi dengan para pemain akademi, Santos sukses menjadi  kebelasan tersukses di Brasil. Dua trofi tambahan menjadikan Santos menyamai raihan Palmeiras sang pemegang trofi terbanyak Serie A.

Bermula dari Era Teixiera

Campeonato Brasilerao Serie A adalah kompetisi yang paling bergengsi di Brasil. Dan saat ini, Santos disebut-sebut sebagai kesebelasan tersukses di Brasil karena telah delapan kali menjadi juara (terbanyak) dan enam kali menjadi runner-up.

Torehan ini lebih baik dari kesebelasan Palmeiras yang juga mencatatkan delapan kali juara. Palmeiras yang namanya semakin meredup, hanya tiga kali berhasil menjadi runner-up. Status Palmeiras sebagai kesebelasan tersukses di Brasil pun tergantikan oleh Santos karena terakhir kali menjadi juara Serie A pada 1994.

Bagi Santos, keberhasilan menjadi kesebelasan peraih terbanyak trofi Serie A tak lepas dari kebijakan yang dilakukan Marcelo Pirillo Teixeira, presiden yang mulai memimpin Santos FC sejak 1999. Di awal kepemimpinannya, ia menginginkan Santos bisa menjadi kesebelasan yang ditakuti di Brasil pada era milenium menggunakan pamain lulusan akademi.

Pada 2002, impian Teixeira mulai terwujud. Dalam skuatnya itu, terdapat Domingos Alexandre atau akrab disapa Alex (kini bermain untuk AC Milan) yang masih berusia 20 tahun, Robinho (18 tahun), dan Diego Ribas (17 tahun).

Ketiga pemain ini melengkapi skuat Santos yang dihuni oleh mayoritas pemain muda. Dari 21 pemain, hanya dua pemain yang berusia di atas 30 tahun. Renato yang kemudian menjadi legenda kesebelasan Spanyol, Sevilla, masih berusia 23 tahun. Elano Blummer yang didatangkan dari Internacional pada 2000 pun masih berusia 22 tahun.

Jurnalis asal Sao Paulo, Eaun Marshall, menyebutkan pada These Football Times, “Pada 2002, di tengah himpitan krisis keuangan, mereka [Santos] memutuskan untuk tak berinvestasi dalam perihal membeli pemain, dan lebih memilih untuk mempromosikan pemain U-20. Rencana ini berjalan sesuai rencana. Diego, Robinho, dan Elano mempersembahkan trofi Serie A tahun berikutnya.”

Kesuksesan Santos ini mulai mengundang banyak pemandu bakat dari Eropa. Dengan situasi keuangan yang tak mendukung, para pemain terbaik pun harus dilepas manajemen. Elano menjadi pemain pertama yang hengkang ke Eropa, di mana ia digaet kesebelasan asal Ukraina, Shakthar Donetsk, dengan nilai transfer lebih dari 6 juta pounds. Elano sendiri kemudian sempat membela Manchester City.

Jika Elano hengkang pada bursa transfer musim dingin Eropa, Alex dan Diego hijrah ke Eropa pada musim panas 2004. Alex diboyong Chelsea dengan nilai transfer sekitar 10 juta pounds. Sementara Diego, direkrut FC Porto dengan nilai yang tak jauh berbeda dengan banderol Elano.

Meskipun begitu, Santos masih mampu meraih trofi Serie A ke-8 tanpa pemain-pemain tersebut. Pada Serie A 2004, Santos yang ditukangi pelatih Vanderlei Luxemburgo unggul tiga poin atas Atletico Paranaense di akhir klasemen.

Duet Robinho dan Deivid  sukses mencetak 43 gol dari total 102 gol yang dicetak Santos pada musim itu. Pada akhir musim, kedua pemain ini pun direkrut oleh dua kesebelasan Eropa. Deivid yang mencetak 22 gol, hijrah ke Sporting Lisbon dengan nilai transfer 3 juta pounds, sementara Robinho yang baru memasuki usia 20 tahun, direkrut raksasa Spanyol, Real Madrid, dengan harga fantastis, 21 juta pounds.

Satu per satu pemain terbaiknya hijrah. Tapi Teixeira lebih memilih untuk meningkatkan kualitas akademi mereka agar bisa lebih banyak menelurkan talenta berbakat. Pada 2006, dibangunlah pusat latihan baru yang diberi nama ‘Robinho & Diego’.

Dengan akademi yang semakin berkualitas nomor satu di Brasil, pemain-pemain muda berbakat pun bermunculan dalam satu dekade terakhir. Neymar da Silva (Barcelona), Rafael Cabral (Napoli) dan Felipe Anderson (Lazio) adalah beberapa pemain lulusan akademi Santos yang menjadi penerus jejak Robinho, Elano, dan Alex: melanjutkan karier di Eropa.

Halaman berikutnya, Era Baru Santos FC dan Kelahiran Neymar Baru

Komentar