Jonathan Tah Remaja Istimewa

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Jonathan Tah Remaja Istimewa

Perkenalkan Jonathan Tah. Ia sudah tampil dalam dua pertandingan DFB-Pokal, dua pertandingan play-off Liga Champions UEFA, lima pertandingan fase grup Liga Champions, dan 14 pertandingan Bundesliga Jerman. Singkatnya: semua pertandingan Bayer 04 Leverkusen musim ini.

Ia tidak pernah masuk dari bangku cadangan. Ia selalu bermain sebagai starter dan selalu bermain hingga pertandingan selesai; iya, Tah selalu bermain penuh dalam setiap pertandingan. Dan ia masih remaja!

Bagi semua orang yang menyaksikan debut Bundesliganya dua musim lalu, pencapaian Tah musim ini mungkin tidak mengejutkan. Tah, yang baru berusia 17 tahun ketika menjalani pertandingan Bundesliganya pada pekan ketiga musim 2013/14, adalah debutan Bundesliga termuda dalam sejarah Hamburger SV. Tah memang hanya bermain selama satu menit di pertandingan tandang melawan Hertha Berlin tersebut. Ia juga tidak lagi bermain dalam dua pertandingan Bundesliga setelah laga tandang melawan Hertha itu. Namun di pekan keenam ia kembali bermain, dan kali ini sebagai starter.

Tah bermain penuh di pertandingan Bundesliga keduanya. Dan ketiganya. Dan keempatnya. Dan kelimanya. Dan begitu seterusnya hingga pertandingan ke-15; Tah menjalani debut selama satu menit, absen selama dua pekan, dan kembali untuk bermain penuh 14 pekan berturut-turut.

Namun hidup tidak selamanya menyenangkan. Kedatangan Mirko Slomka membuat Tah tersingkir dari kesebelasan utama. Tah, yang menerima arahan dari tiga pelatih kepala berbeda dalam tiga pertandingan Bundesliga pertamanya – pelatih kepala Hamburg di debut Bundesliga Tah: Thorsten Fink; Pelatih kepala Hamburg di pertandingan kedua Tah: Rodolfo Cardoso; Pelatih kepala Hamburg di pertandingan ketiga Tah (hingga pertandingan ke-15): Bert van Marwijk – hanya bermain dalam satu pertandingan di sisa musim 2013/14; di pekan ke-33 melawan Bayern München dan hanya selama 14 menit.

Minimnya kesempatan bermain di bawah arahan Mirko Slomka membuat Tah mengambil keputusan meninggalkan Hamburg untuk sementara. Tah menghabiskan musim 2014/15 di divisi kedua bersama Fortuna Düsseldorf. Tah bermain dalam 23 pertandingan divisi kedua dan menorehkan catatan 64 persen kemenangan duel. Dengan itu Tah membantu Düsseldorf menduduki peringkat kesepuluh dan menarik perhatian banyak kesebelasan divisi pertama.

Fortuna Tah
Jonathan Tah semasa di Fortuna Düsseldorf

Dari Düsseldorf, Tah memilih untuk tidak kembali ke kota kelahirannya. Jumlah pertandingan Bundesliga yang Tah jalani bersama Hamburg berhenti di angka 16. Tah menerima pinangan salah satu langganan empat besar dalam beberapa musim terakhir, Bayer Leverkusen.

“Jonathan Tah adalah bek tengah yang sangat berbakat, yang mendapatkan pengalaman bertanding yang penting selama menjalani masa pinjaman di Fortuna Düsseldorf musim lalu dan telah membuktikan diri sebagai bagian penting dari kesebelasan,” ujar Rudi Völler, direktur olahraga Leverkusen, setelah kesebelasannya resmi mendapatkan Tah. “Ia adalah investasi masa depan yang sangat besar, namun Jonathan juga memiliki kualitas untuk langsung menjadi andalan saat ini juga.”

Yang Völler katakan terbukti benar. Tah – yang awalnya ia masuk kesebelasan utama Leverkusen karena Ömer Toprak dan Tin Jedvaj cedera – langsung menjadi andalan. Untuk ukuran pemain berusia 19 tahun, ketenangan Tah luar biasa. Dengan ketenangan (dan positioning serta kekuatan juga) pula Tah mempertahankan posisinya dan bermain baik dari pertandingan ke pertandingan. Salah satu bukti terbaik ketenangan bermainnya adalah leg pertama pertandingan play-off Champions League melawan SS Lazio. Pada pertandingan yang dilangsungkan di Olimpico tersebut, Tah bersama Wendell dan Karim Bellarabi menjadi korban rasisme para pendukung Lazio. Tah tidak terpengaruh. Ia tetap bermain.

Tah tetap bermain dan terus bermain. Hingga saat ini ia sudah menjalani 23 pertandingan bersama Leverkusen dan tidak melewatkan satu menit pertandingan pun. Tidak banyak pemain seusianya yang mendapat kepercayaan sebesar ini sehingga tidak berlebihan, rasanya, jika Tah disebut istimewa.

Komentar