Robben-Lewandowski dan Media Inggris yang Ikut Ribut

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Robben-Lewandowski dan Media Inggris yang Ikut Ribut

Situasi kurang menyenangkan yang mengiringi kemenangan telak 4-0 Bayern München atas VfB Stuttgart pada Spieltag 12 Bundesliga Jerman musim ini kabarnya masih terasa di Bayern hingga sekarang; lebih dari dua pekan setelah pertandingan yang berlangsung pada 7 November tersebut berlalu. Bayern sendiri terlihat tidak banyak terpengaruh dan sewajarnya demikian. Media-media Inggris, sementara itu, menjadi pihak yang paling ribut.

Robert Lewandowski, selepas pertandingan, menuduh Arjen Robben bermain egois. Pada banyak kesempatan Lewandowski yang berada dalam posisi yang baik merasa diabaikan Robben yang memiliki bola sepanjang babak kedua. Robben yang tidak terima melayangkan tuduhan yang sama terhadap Lewandowski menganai permainan penyerang berkebangsaan Polandia tersebut di babak pertama. Kabar ketidakakuran ini pertama kali dihembuskan Bild. Andai benar demikian adanya, kondisi tersebut dapat dimengerti.

Ingin selalu tampil baik adalah sifat atlet kelas satu. Lewandowski yang sedang tajam-tajamnya tentu ingin terus mencetak gol. Ia menginginkan setiap umpan untuk diubah menjadi gol. Robben yang memiliki keahlian menggiring bola, sementara itu, selalu ingin berlama-lama dengan bola karena sedang dalam misi membuktikan diri masih layak diandalkan walau sudah tidak lagi muda dan melewatkan banyak kesempatan bermain karena cedera. Dalam perjalanannya, Robben mengabaikan banyak permintaan termasuk dari Lewandowski. Pada dasarnya kedua pemain memang tidak saling melengkapi.

“Lewandowski lebih banyak terlibat daripada sebelumnya,” ujar Franz Beckenbauer, salah satu legenda Bayern, kepada Sky Deutschland. “Robben dan (Franck) Ribéry selalu menggiring bola dan melepas tembakan sendiri. Mereka hanya mencari Lewandowski ketika mereka kebingungan. Sekarang Lewandowski lebih membaur dengan kesebelasan.”

Lewandowski sendiri kabarnya lebih senang bermain dengan Kingsley Coman dan Douglas Costa, kedua pemain sayap yang baru bergabung dengan Bayern musim ini, berbarengan dengan cedera yang menimpa Ribéry dan Robben. Namun pernyataan Lewandowski bermain lebih baik tanpa Robben (dan/atau Ribéry) tidak sepenuhnya benar. Lewandowski telah mencapai titik di mana ia dapat bermain baik terlepas dari seperti apa susunan pemain Bayern. Dengan atau tanpa Robben, gol demi gol tetap tercipta darinya.

Satu statistik memanaskan suasana: Robben belum pernah memberi assist kepada Lewandowski. Dari situ sekilas terlihat jelas adanya hubungan yang kurang harmonis antara keduanya. Padahal gambaran besarnya tidak berkata demikian. Robben, hingga mencetak satu assist kepada Javi Martínez dua hari lalu, sama sekali belum mencetak assist. Wajar jika ia tidak memiliki satu assist pun untuk 19 gol Lewandowski musim ini.

Lewandowski sendiri memiliki empat assist dan dua di antaranya adalah untuk Robben. Malah, pemain dengan jumlah assist terbanyak untuk Robben adalah Lewandowski. Tiga pemain lain yang pernah mencetak assist kepada Robben musim ini – Douglas Costa, Roberto Hilbert (Bayer Leverkusen), dan David Alaba – masing-masing hanya memiliki satu assist kepada Robben.

Katakanlah memang Robben terlalu egois untuk memberi assist kepada Lewandowski. Andai ini benar pun, Bayern tidak dalam masalah. Lewandowski, pencetak gol terbanyak mereka, masih tetap tajam tanpa assist dari Robben. Ia dapat mencetak gol dengan cara apa pun dan dengan bantuan siapa pun. Douglas Costa memimpin daftar pemberi assist terbanyak kepada Lewandowski. Enam pemain lain yang pernah memberi assist kepada Lewandowski adalah Thiago Alcântara (3), Thomas Müller (2), Mario Götze (2), Kingsley Coman (1), Arturo Vidal (1), dan Jérôme Boateng (1). Efek hubungan buruk Lewandowski dan Robben terhadap Bayern nyaris tidak ada.

Yang paling terpengaruh justru adalah media Inggris, yang ramai memberitakan masalah ini membuat peluang Robben untuk pindah ke Manchester United pada pertengahan musim semakin besar. Termasuk di antara yang ikut ribut adalah Mirror, Independent, dan Telegraph.

Komentar