Bergkamp yang Jenius dan Dabizas yang Mencoba Melawan Ingatan Dunia

Cerita

by Taufik Nur Shidiq Pilihan

Taufik Nur Shidiq

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Bergkamp yang Jenius dan Dabizas yang Mencoba Melawan Ingatan Dunia

Media menilai Nikolaos Dabizas sebagai pembelian paling cerdas Kenny Dalglish. Para pendukung Newcastle United mencintai dan mengenangnya sebagai Dewa Pertahanan. Kejadian 2 Maret 2002 membuatnya harus banyak berdoa agar dunia tidak mengingatnya sebagai sosok yang tidak tahu cara bermain sepakbola.

Dabizas tidak pernah bercita-cita menjadi pemain sepakbola. Dan ia tidak cukup hebat untuk menyembunyikan kemampuan yang ia miliki. Pada 1994, saat Dabizas berusia 21 tahun, Olympiacos datang dan membawa sang pemain dari Pointoi Verias. Tiga tahun setelah merekrut Dabizas, Olympiacos mengakhiri puasa gelar liga yang sudah berlangsung sejak 1987. Permainan Dabizas bersama Olympiacos membuka lebih banyak pintu untuknya.

Temuri Ketsbaia, eks pemain AEK, mengingat satu hal tentang Dabizas: seorang pemain belakang yang sulit dilewati. Ketika Ketsbaia bergabung dengan Newcastle United pada 1997, ia merekomendasikan Dabizas kepada Dalglish, manajer Newcastle saat itu. Pada 1998, Newcastle mengeluarkan biaya transfer sebesar 2 juta pound sterling untuk seorang pemain yang sudah membela Tim Nasional Yunani sebanyak dua puluh kali.

Media menilai Dabizas sebagai pembelian terbaik Dalglish. Para pendukung Newcastle mencintainya karena ia selalu tampil sepenuh hati.

�"Jika kita memberi kemampuan terbaik, kita akan selalu mendapat dukungan dari fans,�" ujar Dabizas kepada Nick Athanasiou dari Seeka Greek. �"Seperti itulah permainan saya. Saya memiliki komitmen dan para fans dapat melihatnya. Saya tidak menghindari setiap tanggung jawab, saya tidak bersembunyi di belakang pemain-pemain lain. Saya menikmati tantangan dan peluang untuk menunjukkan kemampuan.�"

Gaya bermain itu pula yang mengantar Dabizas berhadapan satu lawan satu dengan Dennis Bergkamp (berhadapan sebenarnya bukan kata yang paling tepat karena Bergkamp memunggungi Dabizas) di menit kesebelas dalam pertandingan pekan ke-28 di Premier League 2001/02. Momen yang terjadi setelahnya akan selamanya dikenang sebagai titik paling rendah dalam karir Dabizas; lebih rendah dari degradasi bersama Leicester City.

Momen tersebut membawa Dabizas jatuh lebih jauh karena enam hari sebelumnya ia menjadi pahlawan. Dalam pertandingan Tyne-Wear Derby, Dabizas mencetak gol tunggal yang membawa Newcastle mengalahkan saingan abadi mereka, Sunderland. Namun Dewa Pertahanan yang sedang berada di titik tertinggi ternyata bukan lawan sepadan untuk Bergkamp, yang hanya dijuluki �"Dewa�" tanpa embel-embel pengikut.

�"Filosofi sepakbola Yunani adalah masalah,�" kata Dabizas kepada Athanasiou. �"Perorangan, kami memiliki pemain-pemain yang cukup baik untuk bersaing di level tertinggi. Masalah kami adalah kolektivitas. Kami tidak melakukan hal-hal sederhana dengan baik, kami tidak berkonsentrasi selama 90 menit.�"

Dabizas jelas memiliki kemampuan cukup baik untuk bermain di level tertinggi. Dan saat berhadapan dengan Bergkamp ia nyata-nyata tidak sedang kehilangan konsentrasi. Jika pada akhirnya Bergkamp membuat Dabizas terlihat bodoh, itu jelas karena Bergkamp hebat. Bukan karena Dabizas payah.

Ya, di momen itulah Bergkamp seperti naik ke kahyangan sebagai dewa sepakbola. Gerakannya tak terduga, sangat amat tak terduga, begitu lembut, dengan perubahan gerak tubuh yang tidak terlalu cepat tapi terasa sangat efektif. Tidak banyak yang bisa dilakukan Dabizas di momen pentahbisan Bergkamp sebagai jenius. Di hadapan seseorang yang sedang memperlihatkan kejeniusannya, kita sering kali memang tak bisa berbuat apa-apa selain: menjadi saksi.

Andrés Iniesta, gelandang Barcelona, pernah berkata bahwa perbedaan antara pemain hebat dan pemain biasa terletak pada kecepatan berpikir. Bergkamp mengamini pandangan serupa. David Endt, manajer kesebelasan Ajax yang juga hadir saat David Winner mewawancarai Bergkamp untuk The Blizzard, berkata: �"detik-detik pemain hebat berlangsung lebih lama dari detik-detik pemain biasa.�" Bergkamp menyepakati ucapan Endt dengan sebuah anggukan.





�"Saya rasa bola tiba sedikit lebih terlambat (dariku) jadi saya harus berputar untuk mengontrolnya,�" ujar Bergkamp berkisah mengenai gol legendarisnya ke gawang Newcastle sebagaimana dikutip The Guardian. �"Cara tercepat untuk memutar bola adalah dengan berlari ke arah sana. Gerakan ini terlihat sedikit istimewa atau aneh namun bagiku itulah cara tercepat mencapai gawang. Mengenai penyelesaian akhir: saya hanya berusaha menempatkan bola melewati penjaga gawang tanpa ia berhasil menjangkaunya.�"

Ada dua hal yang sering terlupakan dalam proses gol tersebut. Pertama, fakta bahwa Newcastle saat itu bukan kesebelasan medioker yang akrab dengan papan bawah seperti saat ini; saat itu Newcastle adalah kandidat juara. Kedua penghargaan terhadap penyelesaian akhir yang seringkali lebih kecil ketimbang penghargaan terhadap �"putaran balerina�". Thierry Henry, pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Arsenal, berkeras bahwa penyelesaian akhir Bergkamp seharusnya mendapat perhatian sama besar dengan putarannya.

�"Biasanya jika kita melakukan sesuatu yang luar biasa kita terbawa suasana,�" ujar Henry sebagaimana dilansir The Guardian. �"Seberapa sering kita melihat seorang pemain melakukan kontrol luar biasa kemudian buru-buru melakukan penyelesaian? Dennis melakukan sesuatu yang luar biasa namun ia tetap tenang. Itulah perbedaan pemain hebat dan pemain biasa.�"

Gol ke gawang Newcastle hingga saat ini masih – dan akan selamanya – dikenang sebagai gol terbaik Bergkamp di tingkat kesebelasan. Gol ini bahkan secara resmi terpilih sebagai gol terbaik Arsenal sepanjang masa. Di tingkat tim nasional, gol Bergkamp yang paling banyak dibicarakan adalah golnya ke gawang Argentina di perempat final Piala Dunia 1998; gol kemenangan yang membawa Belanda ke semifinal.

Bergkamp sendiri lebih menyukai golnya ke gawang Argentina ketimbang golnya ke gawang Newcastle. Sebaiknya Dabizas banyak berdoa agar Bergkamp lebih sering membicarakan gol tersebut; agar tidak semakin lekat citra Dabizas sebagai pemain bodoh dalam ingatan bersama semua orang di seluruh dunia.

Komentar