Menculik Tamburini, Kisah Kiper yang Diculik Rezim Militer

Cerita

by Frasetya Vady Aditya Pilihan

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Menculik Tamburini, Kisah Kiper yang Diculik Rezim Militer

Tepat pada hari ini (22/1), Aksi Kamisan berjalan selama sewindu. Delapan tahun sudah, mereka berjuang melawan ketidakadilan atas kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Di sepakbola, aksi yang sama juga terjadi di Argentina. Pada Piala Dunia 1978, aksi serupa dikenal dengan "Mothers of the Plaza de Mayo".

Saat itu, junta militer menguasai Argentina sejak 1976. Mereka menumpas kaum oposisi yang kebanyakan berhaluan kiri. Junta militer menculik aktivis, yang hingga kini tak pernah kembali. Salah satu korban, yang akhirnya bisa selamat, adalah Claudio Tamburrini, seorang kiper kesebelasan amatir di Argentina.

Tamburrini lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Namun, ayahnya mendidik dia dengan penuh kebebasan. Saat memilih menjadi pesepakbola, ayahnya melatihnya dengan cara yang ia menyebutnya menyenangkan. Bermain di klub sepakbola menjadi impiannya. Padahal, Tamburrini terbilang menonjol dalam hal akademis. Dan selama di Argentina, ia sempat belajar filsafat sebelum akhirnya diculik. Ia terbilang seorang yang cerdas dan kritis, tentu saja ia mengikuti perkembangan politik di Argentina yang sedang dikangkangi oleh rezim militer pimpinan Jenderal Jorge Videla.

Kejadian memilukan itu pun terjadi pada November 1977. Tamburrini diculik oleh pasukan khusus polisi Argentina. Ia ditanyai tentang sejumlah informasi yang ia sendiri tak tahu. Di dalam kurungan, nyawanya bisa melayang kapan saja.

Pada 23 Maret 1978, ia, yang kala itu berusia 23 tahun, dan ketiga rekannya memutuskan untuk kabur dari Mansion Sere, tempatnya dikurung dan disiksa. Di tengah hujan petir yang tak henti menggelegar, Tamburrini melompati jendela dengan tangan terikat borgol, tanpa busana. Mereka berlari dengan rasa sakit dan rasa takut yang bercampur aduk.

Sebenarnya Tamburrini tak ingin benar-benar kabur. Apa yang mereka lakukan adalah bagian dari keputusasaan karena siksaan yang mendera. Ia menyebutnya sebagai "perilaku bunuh diri".

Apa yang ditakutkan Tamburrini sebenarnya bukan ketakutan akan dibunuh. Ia takut tak dilepaskan oleh militer. Ia tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya ditahan selama 20 hingga 30 tahun di Mansion Sere.

Di dalam penjara, ia telah kehilangan namanya. Para penjaga lebih senang memanggil sesukanya, kadang "Alquero", kadang "Almagro", kadang "Girls", tidak jarang juga mereka menyebutnya "homo". Ia terus-terusan merenung tentang karir sepakbolanya. Mimpinya untuk menjadi pesepakbola yang berkarir di Eropa pupuslah sudah.


Simak editorial kami tentang sepakbola dan politik penculikan.

Selepas kabur dari Mansion Sere, Tamburrini mendapat kabar yang mengejutkan. Klubnya tidak melakukan apa-apa. Bahkan, Tamburrini dilepas klub dengan status "bebas transfer". Di sisi lain, keluarganya ikut terpojok. Tetangga dan teman-temannya mulai menjauhi keluarga Tamburrini.

Tamburrini tak bisa langsung menemui ayah dan ibunya. Untuk sementara, ia bersembunyi hingga keadaan telah benar-benar stabil..

Cerita Tamburrini akhirnya difilmkan pada 2006 oleh sutradara Uruguay, Adrian Caentano. Film berjudul "Chronicle of an Escape" tersebut merupakan adaptasi dari otobiografi Tamburrini, Pase libre-la fuga de la Mansion Sere. Film tersebut mengisahkan bagaimana Tamburrini diculik karena dianggap teroris anti pemerintah.

Sumber gambar: futbolistaconhistoria


Kini, Tamburrini berada di Swedia setelah mendapatkan suaka. Ia melanjutkan studi filsafatnya di Swedia. Pada 1992, Tamburrini menyelesaikan thesisnya yang berjudul "Moral Justification of Punishment". Setelah itu, Tamburrini tak henti belajar. Ia mendapatkan gelar "Doctor of Philosophy" (Ph.D), dan kini mengajar di Universitas Stockholm. Tamburrini sendiri mengaku tak ambil pusing soal negaranya saat ini. Ia malah ambil bagian dalam dukungan terhadap Argentina di Piala Dunia 2006 silam.

"Segera, aku akan terbang ke Jerman untuk menyemangati timnasku. Tidaklah salah untuk berpartisipasi. Ini membuktikan bahwa kita memberikan hal positif pada perayaan sepakbola, dengan cara demokratis," tulis Tamburrini dalam artikelnya yang berjudul The Right to Celebrate, "Sepakbola adalah senjata politik terkuat. Kita tidak boleh menyerahkannya ke tangan musuh!"

Di usianya yang kian senja, Tamburrini masih bermain sepakbola untuk kesebelasan di tingkat ke delapan Liga Swedia. Ia masih fasih bagaimana caranya menimang-nimang bola. Tentu, ia juga tak akan pernah lupa bagaimana rasanya disiksa.


Tulisan ini didedikasikan untuk mereka yang setiap Kamis sore selalu berjaga di perbatasan ingatan dan lupa!

Sumber gambar: popsugar.com

Komentar