Yerusalem Ditolak, Kemenangan atas Nama Kemanusiaan

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Yerusalem Ditolak, Kemenangan atas Nama Kemanusiaan

UEFA telah menetapkan 13 kota sebagai penyelenggara Piala Eropa 2020. Untuk pertama kalinya gelaran tersebut tidak dilangsungkan hanya di satu atau dua negara, melainkan di sejumlah negara yang masing-masing menggelar empat pertandingan, serta satu kota dengan tiga pertandingan.

Di balik hingar bingar penetapan kota penyelenggara tersebut, sebenarnya ada pihak yang berjuang atas nama kemanusiaan.

Sebelum hari pengumuman, tim sepakbola Palestina serta sejumlah NGO (Non-Govermental Organization—organisasi non-profit) mengirim surat kepada presiden UEFA, Michel Platini, untuk mengeluarkan Federasi Sepakbola Israel, IFA, dari proses bidding. Mereka menganggap Israel telah melakukan kejahatan perang terhadap warga Gaza, pendudukan, serta pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan secara terus menerus, termasuk dalam olahraga.

“Memberi hak istimewa pada Israel dengan menyelenggarakan turnamen besar, yang waktunya hanya beberapa pekan setelah mereka membantai rakyat Palestina, berarti memberi lampu hijau pada kriminalitas di masa yang akan datang,” tutur Abdulrahman Abunahel koordinator Palestinian Boycott, Divestment and Sanctions National Committee (BNC).

“Rakyat Palestina di Gaza menikmati permainan indah jauh lebih besar dari siapapun. Namun, Israel meluncurkan perang terhadap sepakbola. Mereka membunuh pesepakbola, mengebom stadion, dan menolak pemain timnas lewat untuk menjalani pertandingan,” tambah Abunahel.

Federasi Sepakbola Palestina, sebelumnya telah meminta FIFA mengeluarkan Federasi Israel dari keanggotaan. Penyebabnya, karena negara tersebut sering menyerang fasilitas olahraga Palestina.

Penolakan pun dikampanyekan ke seluruh daratan Eropa. Ini yang membuat UEFA tertekan, karena diminta untuk menolak Israel. Mereka pun menggelar aksi di depan kantor federasi Prancis dan Italia.

“Kami berterimakasih untuk semua yang bergabung bersama kami dalam menentang penawaran Israel, yang akan menggelar pertandingan di Yerusalem, sebuah kota di mana Israel menghabisi rakyat Palestina. UEFA harus menangguhkan keanggotaan Israel jika pemerintah Israel terus melakukan pendudukan, kolonialisasi, dan apartheid.”

Ribuan orang turut berpartisipasi di twitter. Mereka menganggap memberi kesempatan bagi Israel berarti menyetujui pembantaian serta pendudukan di Gaza.

Baru-baru ini, Israel mengumumkan akan memperluas permukiman ilegal di timur Yerusalem, yang merupakan tanah Palestina. PBB telah memperingatkan hal ini akan mengakibatkan ribuan rakyat Palestina terusir dari rumahnya.

Akhirnya, pada Jumat (19/9) lalu, UEFA pun menolak Israel dalam bidding penyelenggaraan Piala Eropa 2020. Atas keputusan tersebut, Israel menjadi satu dari enam negara yang penawarannya ditolak.

Dunia mesti menunggu langkah konkrit yang akan dilakukan UEFA ke depannya. Keputusan untuk mengeluarkan Israel dari UEFA bisa menjadi hukuman moral atas tindakan Israel selama ini.

Sumber gambar: nytimes.com

Komentar