Menanti Kemajuan Sepakbola Indonesia di 2045

Berita

by M. Rifky Herlanda P.

M. Rifky Herlanda P.

Bola adalah teman.

Menanti Kemajuan Sepakbola Indonesia di 2045

Satu hari sebelum laga persahabatan antara tim nasional sepakbola Indonesia menghadapi Islandia, PSSI melaksanakan kongres luar biasa di gedung ICE, Bumi Serpong Damai, Sabtu (13/01). Kongres yang diadakan Sabtu ini merupakan lanjutan dari kongres sebelumnya yang diadakan di Kota Bandung akhir tahun 2017.

Pada kongres luar biasa ini, ada beberapa agenda yang dibahas. Salah satu agenda yang dibahas adalah target PSSI untuk sepakbola Indonesia di tahun 2018 dan target jangka panjang PSSI untuk masa depan sepakbola Indonesia.

Sebelumnya, Ratu Tisha Destria yang menjabat sebagai Sekjen PSSI mengatakan bahwa semua voter dan para pengurus PSSI berikrar bahwa ketika Indonesia berusia 100 tahun, yaitu pada tahun 2045, sepakbola Indonesia harus menjadi wajah membanggakan bangsa ini di mata internasional. "Tidak hanya dilihat dari performa saja, tapi dilihat dari integritas juga," kata Tisha.

Dari mimpi besar ini, arahan dari ketua umum beserta komite eksekutif diterjemahkan menjadi rancangan program kerja yang di dalamnya terdapat target-target dan lini masa yang harus dicapai. Sebelum mencapai tahun 2045, terdapat tonggak sejarah yang sebelumnya yang harus dilalui.

Yang pertama adalah di tahun 2034, Indonesia yang sudah dipercaya sebagai pemimpin konsorsium AFF bersama Thailand untuk bidding Piala Dunia 2034, agar sudah mengalami kemajuan pesat.

Namun sebelum mencapai tonggak sejarah tersebut, terlebih dahulu ada Olimpiade 2024. Apabila ingin terlibat di olimpiade, rentang usia pemain muda Indonesia yang harus dibina adalah 9 tahun, 12 tahun, hingga 15 tahun. Itu yang akan menjadi fokus PSSI.

Oleh karena itu, rancangan seluruh agenda PSSI di tahun 2018 menjadi pondasi dasar dan harus dilanjutkan setiap tahun per tahun yang nantinya akan dievaluasi pada tahun 2020 untuk mencapai tujuan besar di tahun 2024. Perencanaan strategis adalah suatu proses jangka panjang. Pada tahun 2018 ini menjadi tahun yang terdapat alur kerja riset dan diartikan sebagai tahun pembuatan rencana jangka panjang dan melibatkan banyak stakeholder dari pelaku-pelaku sepakbola Indonesia untuk mencapai ikrar yang ditargetkan.

"Maka dari itu, pada tahun 2018 ini atas nama organisasi, PSSI akan melakukan riset jangka panjang selama satu tahun untuk menentukan rancangan konsep yang matang dan strategis menuju 2045 dimana arahannya berbasis pembinaan usia dini melalui filosofi sepak bola," lanjut Tisha.

"Selanjutnya, Pencapaian yang ingin dicapai di tahun 2024 bisa dicapai terlebih dahulu untuk bisa dicapai di tahun 2020. Di mana pada tahun itu PSSI menargetkan pengembangan pemain, perwasitan, kompetisi, dan organisasi."

Dalam hal pengembangan pemain, PSSI menargetkan terdapat tiga ratus ribu pemain terdaftar, empat ribu pelatih, 10 wasit berlisensi FIFA, satu wasit elite Asia, lima juta suporter terdaftar, dan timnas U16 yang selalu berada di tiga besar Asia.

Kemudian di area pengembangan sepakbola, ada tujuh hal yang menjadi fokus program kerja PSSI di tahun 2018. "Capacity building terdiri dari kepelatihan dan kursus, riset dan perkembangan, youth development, grass root, perwasitan, sepakbola wanita, futsal, dan tim sepakbola," katanya. Setiap masing-masing elemen tersebut akan diurai sesuai target yang PSSI inginkan secara kualitatif dan kuantitatif.

Untuk mencapainya, PSSI menentukan dua fokus, yaitu riset dan pengembangan filosofi Indonesia dengan tag line "berbeda-beda tapi satu cara bermain".

Selanjutnya, untuk kompetisi yang menjadi misi dari PSSI adalah manajemen kompetisi yang berstandar dan kompetisis domestik yang mendukung pengembangan sepakbola. Salah satu produk kompetisi domestik yang akan digelar pada tahun ini adalah Piala Indonesia yang setara dengan Piala FA di Inggris, artinya melibatkan seluruh kesebelasan dari berbagai divisi.

Sementara dari area bisnis dan pendukung, ada lima elemen yang dibicarakan, yaitu marketing dan sponsorship, hubungan dengan fans, promosi digital, event management, quality control atas infrastruktur, dan keamanan. "Semua itu diharapkan mampu dilakukan oleh tingkat provinsi maupun tingkat klub dalam pengembangan kualitas event kompetisi," lanjut Tisha.

Maksud pernyataan tersebut adalah agar kesebelasan mampu terus meningkatkan mutu liga, sementara asprov mampi meningkatkan mutu kompetisi seperti Piala Soeratin. Jika semua elemen sudah mampu bersinergi dan mengalami kemajuan, maka Tisha yakin itu akan semakin memudahkan target-target yang sudah disusung PSSI di atas.

Untuk aktivitas bisnis yang mendukung PSSI, dari sisi program akan fokus terhadap digitalisasi PSSI di mana pada tahun 2018 mampu mengoleksi data sebanyak-banyaknya, mulai dari pemain, pelatih, wasit, kesebelasan, dan database lainnya. Digitalisasi ini direncanakan untuk dilakukan bertahap sehingga bisa sukses mencapai target di tahun 2024.

"Semua yang ditargetkan PSSI di atas bertujuan untuk membawa sepakbola lebih baik di masa depan dan tentunya target utama yang telah dijelaskan di atas bisa saja tercapai apabila semua pihak mampu bekerja sama; tidak hanya PSSI yang harus menangani semua. Dengan adanya kerja sama antara semua stakeholder sepakbola Indonesia, bukan tidak mungkin target Olimpiade 2024 dan tuan rumah Piala Dunia [2034 bersama Thailand] bisa tercapai," tutupnya.

Jika rencana ini semua berjalan lancar, maka kita bisa melihat Indonesia akan terlibat di Olimpiade 2024, kemudian menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034, dan pada akhirnya sepakbola Indonesia bisa menjadi "wajah membanggakan bangsa ini di mata internasional" pada 2045, atau satu abad setelah negara kita merdeka.

Komentar