Jago di UCL tapi Butut di Liga, Kok Bisa?

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Jago di UCL tapi Butut di Liga, Kok Bisa?

Real Madrid, Liverpool, AS Roma dan Bayern adalah empat kesebelasan yang berhasil melangkah ke babak semifinal UCL 2017/18. Menariknya, penampilan Real Madrid, Liverpool dan AS Roma di UCL ini berbanding terbalik dengan penampilan mereka di liga domestik masing-masing. Ketiganya sudah tereliminasi dari perburuan gelar juara liga musim ini.

Pada babak perempatfinal, justru kesebelasan-kesebelasan yang saat ini memuncaki klasemen liga domestik berguguran. Hanya Bayern, yang sudah memastikan gelar Bundesliga musim ini, yang mampu bertahan. Juventus (Serie A), Manchester City (Liga Primer), dan Barcelona (La Liga) adalah tiga pimpinan klasemen liga yang tersingkir tersebut. Mereka menyusul Paris Saint-Germain (peringkat teratas Ligue 1) yang lebih dulu tersingkir pada babak 16 besar.

Lalu kenapa mereka yang tak istimewa di liga domestik justru berjaya di UCL? Apakah mereka benar-benar memprioritaskan UCL? Apakah karena mereka punya DNA Eropa? Atau apa?

Saya bukan orang yang percaya adanya "DNA Eropa" di kesebelasan-kesebelasan tertentu. DNA Eropa bagi saya hanya ilusi. Bahkan DNA Eropa cenderung lebih menjadi tameng bagi mereka yang tampil buruk di liga agar tetap terlihat "suci". Begitu juga dengan keberhasilan Madrid dan Liverpool (juga Roma), DNA Eropa, saya rasa, bukan jawaban atas gemilangnya capaian mereka di UCL musim ini.

DNA Eropa tidak seperti DNA sebuah klub. Ya, sebaliknya, saya percaya jika setiap kesebelasan punya DNA masing-masing. Saya percaya dengan adanya DNA Real Madrid seperti yang dikatakan Zinedine Zidane untuk meyakinkan banyak orang bahwa ia punya DNA tersebut, atau DNA Manchester United seperti yang pernah dikatakan Jose Mourinho soal tujuan mengembalikan kembali DNA United. DNA sebuah klub adalah filosofi yang memang melekat dengan klub itu sendiri, entah itu dari gaya bermain, metode perekrutan, hingga model bisnis.

Walau begitu, pastilah ada penjelasan mengapa Real Madrid menjadi kesebelasan dengan jumlah trofi UCL terbanyak. Begitu juga dengan AC Milan, Bayern Munchen, Barcelona, dan Liverpool yang menguntit di belakang El Real.

Tapi penampilan Madrid, Liverpool dan Roma pada musim ini cukup menjelaskan penyebabnya. Secara garis besar, dalam pengamatan saya, mereka tampil luar biasa di UCL tapi butut di liga domestik adalah adanya perbedaan "budaya" pada kesebelasan-kesebelasan UCL dengan kesebelasan liga. Ada berbagai aspek, salah satu yang paling menonjol adalah aspek taktikal.

Kita lihat perjalanan Madrid, Liverpool, dan Roma untuk mencapai semifinal. Ketiganya cukup susah payah lolos dari fase grup. Ketiganya juga bukan kesebelasan yang dominan di masing-masing grup. Real Madrid lolos sebagai runner-up Grup H. Liverpool juara grup E, tapi bisa tersingkir andai kalah di laga terakhir melawan Spartak Moskwa. Ya, Roma lolos dengan status juara grup. Tapi mereka "mencuri" posisi teratas Grup C pada matchday terakhir, ketika kemenangan Qarabag dibarengi dengan hasil imbang antara Chelsea dan Atletico Madrid.

Liga Champions itu berat. Formati turnamen yang diusung UEFA pada Liga Champions-lah yang menjadikannya berat. Karenanya sejak fase grup sudah terasa ketatnya kompetisi UCL. Akan tetapi ketatnya kompetisi UCL ini sebenarnya menjadi santapan empuk bagi kesebelasan-kesebelasan besar. Musim ini Real dan Liverpool yang diuntungkan.

Setiap laga UCL menjadi laga hidup-mati bagi setiap kesebelasan. Karena hal itu, maka setiap kesebelasan pun akan berusaha semaksimal mungkin meraih kemenangan. Dengan upaya yang tinggi dalam meraih kemenangan, serangan pun akan semakin ditingkatkan. Nah, ketika serangan makin ditingkatkan, semakin besar pula risiko kebobolan sebuah kesebelasan.

Contohnya adalah Liverpool melawan Spartak di laga terakhir. Spartak, untuk melenggang ke babak berikutnya, harus mengalahkan Liverpool. Maka mau tak mau mereka harus lebih menyerang. Skuat asuhan Massimo Carrera itu pun berusaha mengungguli penguasaan bola (Liverpool 573 operan, Spartak 517). Tapi itu justru menguntungkan Liverpool yang mengandalkan Gegenpressing. Alih-alih menang, Spartak justru kalah dari Liverpool dengan skor 7-0.

Itu juga yang terjadi ketika Liverpool mendapatkan Manchester City di perempat final. Menghadapi City yang merupakan raja penguasaan bola, pressing (dan serangan balik) The Reds justru membuat City kocar-kacir. Semakin City menguasai bola, semakin tinggi juga kans Liverpool mencetak gol. City kalah agregat 1-5 di perempat final.

Hal di atas terjadi karena ketika lawan lebih bernafsu mencetak gol, maka semakin renggang pula pertahanan mereka. Sementara itu transisi permainan, baik itu saat bertahan ke menyerang maupun menyerang ke bertahan, begitu krusial dalam sepakbola. Karena itu pula kesebelasan-kesebelasan yang punya serangan balik mematikan, seperti Liverpool dan Real, trengginas di UCL.

Cristiano Ronaldo bisa mencetak banyak gol di UCL pun karena lawan-lawan yang mereka hadapi bermain lebih menyerang ketimbang lawan-lawan mereka di liga. Saat Real menang 6-0 di kandang APOEL (Ronaldo mencetak brace), APOEL berhasil mencatatkan 12 tembakan, sementara Real 18 tembakan. Ini membuktikan bahwa kesebelasan seperti APOEL pun tidak berarti kalah dominan melawan kesebelasan-kesebelasan besar.

Sekarang bandingkan Ronaldo ketika bermain di La Liga. Ronaldo tak mencetak gol melawan Real Betis (Real kalah 0-1) karena Betis bermain begitu defensif. Selama 85 menit hanya mencetak lima tembakan saja. Imbang melawan Levante pun sang lawan hanya mencetak lima tembakan saja. Apalagi banyak pemain yang sudah terbiasa menghadapi Ronaldo di La Liga setiap musimnya.

Mohamed Salah juga mengalami hal yang tak jauh berbeda saat menghadapi kesebelasan medioker di liga. Manchester United yang bermain lebih defensif di tangan Mourinho tak bisa dibobol Salah (dan Liverpool tak menang) pada dua pertemuan musim ini. Penyerang asal Mesir ini pun tak mencetak gol saat melawan West Bromwich Albion (imbang tanpa gol), Crystal Palace (menang 1-0), dan Swansea City (kalah). Liverpool memang lebih sering mendapat hasil minor ketika melawan kesebelasan yang lebih jarang menguasai bola.

Menurut catatan WhoScored, di Serie A, La Liga, dan Liga Primer, kesebelasan yang rataan penguasaan bolanya di bawah 50% mencapai setengahnya. Ini artinya setengah dari masing-masing liga domestik lebih sering tidak menguasai bola ketimbang menguasai bola. Setengah tersebut berarti 9 atau 10 kesebelasan yang bermain lebih defensif.

Hal itu cenderung tidak banyak terjadi di UCL. Dalam satu grup, mungkin hanya satu dari empat kesebelasan saja yang berstatus medioker. Kesebelasan-kesebelasan medioker pun sebenarnya merupakan kesebelasan juara di liga domestiknya masing-masing. Kesebelasan lainnya paling penghuni peringkat tiga atau empat di liga domestik musim sebelumnya, yang artinya salah satu kesebelasan terbaik di liga domestiknya.

Maka bisa dikatakan UCL adalah pertarungan antara pemangsa melawan pemangsa. Ketika pertarungan antara pemangsa terjadi, maka kemenangan menjadi tidak terprediksi dengan mudah karena kedua kesebelasan akan saling menyerang. Sementara itu di liga domestik kita masih bisa menentukan mana kesebelasan pemangsa dan mangsanya. Pemangsa memang terlihat lebih kuat dari mangsanya. Akan tetapi itu tak menjamin pemangsa mendapatkan mangsanya. Pada momen-momen tertentu, seekor elang akan gagal mendapatkan kelinci buruannya.

Contoh lain, Juventus dan Chelsea adalah kesebelasan yang dominan hampir di setiap pertandingan liga. Itu terlihat dari rataan penguasaan bola Juventus yang mencapai 56% di Serie A dan Chelsea 53,6% di Liga Primer. Tapi di UCL, penguasaan Juventus 43% dan Chelsea 48%.

UCL adalah adu kualitas pemain top yang dikombinasikan kejelian strategi pelatih di setiap laga. Madrid sejak dulu selalu dihuni oleh pemain dan pelatih bermental juara sehingga paling sering menjuarai liga. Begitu juga AC Milan era Carlo Ancelotti yang menukangi Paolo Maldini atau bahkan Internazionale Milan era Jose Mourinho dan Samuel Eto`o. Mental ini sangat krusial di laga fase gugur hingga sebuah laga final.

Di UCL, satu kekalahan bisa berakibat fatal. Di UCL persentase kegagalan dan keberhasilan hanya setipis kertas. Ada prestise juga. Ditambah lagi setiap kesebelasan mempertaruhkan wibawa liga domestik mereka. Belum lagi hadiah setiap sebuah kemenangan yang menggiurkan dari UEFA. Inilah yang dimaksud "budaya" di UCL yang menyebabkan sebuah kesebelasan bisa tampil mengerikan di UCL ketika penampilan di liga mereka bukan yang terbaik; Real Madrid dan Liverpool musim ini buktinya.

Itu berbeda dengan liga domestik. Liga domestik yang berjalan hingga 9 bulan ini membuat kesebelasan medioker memilih bermain jauh lebih defensif menghadapi kesebelasan besar. Melawan kesebelasan besar, mendapatkan satu poin sudah menjadi keuntungan, apalagi jika menang. Satu kekalahan bisa tidak terlalu berarti karena masih ada belasan bahkan puluhan laga berikutnya yang bisa menentukan atau mengubah nasib mereka di akhir musim. Bahkan ketika kalah, jika di saat yang sama kompetitornya di liga juga mengalami kekalahan maka kekalahan tersebut masih bisa termaafkan.

Jadi bukan "DNA Eropa" yang membuat sebuah kesebelasan bisa tampil hebat di UCL. "Budaya" UCL yang menguntungkan kesebelasan-kesebelasan besar dalam memainkan skema dan performa terbaik khususnya dalam menyerang, rasanya menjadi jawaban yang lebih logis untuk menjawab pertanyaan pada judul ini.

Komentar