Liverpool vs Manchester United: Duel Taktik Menarik Tidak Selalu Menghasilkan Banyak Gol

Taktik

by Dzikry Lazuardi

Dzikry Lazuardi

Analis Sulut United.

Liverpool vs Manchester United: Duel Taktik Menarik Tidak Selalu Menghasilkan Banyak Gol

Tidak ada gol tercipta pada laga bertajuk North West Derby di Anfield. Liverpool menguasai laga tapi kedua tim sama-sama menciptakan peluang berkualitas. Meski berakhir dengan skor 0-0, pertandingan yang dihelat pada Minggu (17/1) waktu setempat ini tetap menarik dari perspektif taktik.

Ole Gunnar Solskjaer membuat beberapa perubahan. Meski bermain dengan 11 pemain reguler, susunan pemain di atas lapangan tidak seperti biasanya. Bermain dengan formasi 4-2-3-1, Marcus Rashford diplot sebagai striker. Anthony Martial digeser ke sayap kiri dan Paul Pogba bermain di sayap kanan.

Dari tim tuan rumah, Jurgen Klopp masih menghadapi krisis bek tengah. Alhasil, Jordan Henderson dan Fabinho kembali dipasang menjadi bek tengah. Thiago Alcantara bermain sebagai gelandang bertahan, di belakang Georginio Wijnaldum dan Xherdan Shaqiri.

Serangan Liverpool vs Pertahanan Manchester United

Susunan pemain yang cukup berbeda membuat defensive shape Man United juga berbeda. Man United membentuk 4-4-2 ketika bertahan. Fernandes naik sejajar dengan Rashford untuk menekan dua bek tengah Liverpool. Mereka bertahan dengan blok rendah, tidak banyak menekan deep build up Liverpool.

Man United mencatatkan passes per defensive action (PPDA) sebesar 19,26. Semakin tinggi angka PPDA, semakin rendah intensitas pressing sebuah tim. Sebagai pembanding, PPDA Man United pada laga ini hampir sama dengan rataan PPDA Newcastle sepanjang musim, yaitu 19,22.

Bermain reaktif hampir selalu menjadi taktik ketika berhadapan dengan Liverpool. Pada dua laga terakhir Liverpool, PPDA Southampton (19,37) dan Newcastle (26,87) juga rendah. Meski begitu, mereka berhasil mencuri poin dari sang juara bertahan, bahkan Southampton sukses mengalahkan Liverpool.

Struktur pressing Man United di lini depan tidak bisa dikatakan efektif. Fernandes dan Rashford jarang melakukan cover shadow terhadap Thiago. Selain itu, gelandang asal Spanyol ini juga kerap turun hingga sejajar lini terakhir, membuat situasi 3v2 menghadapi Fernandes dan Rashford. Alhasil, Thiago mudah diakses. Total 122 sentuhan Thiago merupakan yang terbanyak dalam laga ini. Ia menjadi menunjukkan kualitasnya sebagai deep-lying playmaker.

Di sisi lain, Man United solid ketika bertahan di area yang rendah. Double pivot Fred dan Scott McTominay memiliki peran vital. Mereka disiplin membantu fullback ketika berhadapan dengan sayap Liverpool. Situasi 1v2 sangat menyulitkan Sadio Mane dan Mohamed Salah dalam mengacak-acak pertahanan Man United. Empat bek Man United juga tampil brilian.

Liverpool menguasai pertandingan dengan 63% penguasaan bola. Mereka juga mencatatkan 17 tembakan, dua kali lipat lebih dari Man United yang hanya membuat delapan. Namun mereka gagal mencetak gol. Hasil ini membuat Liverpool meneruskan tren negatif serangan mereka. Liverpool gagal mencetak gol dalam tiga pertandingan terakhir. Pada laga ini, Roberto Firmino beberapa kali tidak mengambil keputusan terbaik.

Kelemahan pertahanan Man United terlihat jelas di sisi kanan mereka. Pogba kerap terlambat trackback. Momen di bawah ini contohnya, kala Robertson overlap tanpa terkawal. Alih-alih memberi umpan terobosan ke Robertson, Firmino justru melepaskan tembakan. Situasi seperti ini terjadi beberapa kali, akhirnya Liverpool gagal memanfaatkan lubang di pertahanan Man United.

Pogba yang terlambat turun juga mengawali peluang Liverpool ini. Gelandang asal Prancis itu kembali tidak mengantisipasi pergerakan Robertson. Trent Alexander-Arnold melepaskan umpan diagonal ciri khasnya ke Robertson. Bek kiri 26 tahun ini membuat umpan silang yang mampu disambut Firmino namun masih tertahan Harry Maguire.

Transisi

Kedua tim sama-sama melancarkan serangan balik cepat ketika transisi positif (bertahan ke menyerang). Dari kubu tuan rumah, posisi Jordan Henderson sebagai bek tengah menjadi keuntungan terselubung. Setelah berhasil merebut bola, Henderson bisa langsung melepaskan umpan lambung ke trio lini depan Liverpool. Empat bek Man United tampil apik dalam mengantisipasi serangan cepat Liverpool, terutama Luke Shaw yang berhasil meredam Salah.

Intensi Solskjaer dalam memasang Rashford sebagai striker terlihat pada fase ini. Kecepatan Rashford dibutuhkan untuk menyerang ruang di belakang lini pertahanan Liverpool, memanfaatkan garis pertahanan Liverpool yang tinggi. Sayangnya pergerakan Rashford tidak sempurna pada laga ini. Lima kali offside menjadi bukti. Taktik ini tidak lagi digunakan setelah Edinson Cavani masuk pada menit ke-61 menggantikan Martial. Rashford kembali bermain sebagai sayap kiri.

Selain itu, pengambilan keputusan Rashford juga tidak baik. Contohnya pada momen di bawah ini, Cavani membuat pergerakan bagus dari titik buta Fabinho. Alih-alih melepaskan umpan terobosan simpel, Rashford justru dribel ke arah kanan yang membuat ia ditutup oleh Fabinho dan Henderson.

Pertahanan Liverpool vs Serangan Manchester United

Liverpool bermain high pressing seperti biasa. Trio lini depan membentuk segitiga dengan Firmino berada di area paling rendah. Salah dan Mane menekan dua bek tengah Man United dengan intens, memaksa mereka melepaskan umpan lambung. Firmino kerap dibantu oleh Wijnaldum atau Shaqiri dalam menekan double pivot Man United. Sementara fullback Liverpool naik menekan fullback Man United.

Man United memang kalah secara jumlah tembakan, tapi jika melihat expected goals, Liverpool dan Man United tidak terpaut jauh. Liverpool mencatatkan xG sebesar 1,20 sementara Man United sedikit di bawah Liverpool dengan xG 1,19. Perbedaannya, Liverpool secara konstan membuat peluang, tapi hanya menghasilkan satu peluang dengan xG tinggi. Sementara Man United membuat dua peluang emas. Terlihat dari xG timeline berdasarkan data Understat.

Dua peluang emas Man United berasal dari umpan silang. Pertama, umpan silang Shaw berhasil disambut Fernandes. Kedua, umpan silang Aaron Wan-Bissaka sukses diterima Pogba. Namun keduanya gagal menjadi gol karena penyelamatan impresif Alisson.

Henderson dan Fabinho secara keseluruhan tampil baik sebagai bek tengah darurat. Tapi tetap saja posisi tersebut bukan posisi natural mereka. Dua umpan silang Man United yang berbuah peluang emas berasal dari marking yang tidak sempurna. Terlihat pada peluang Pogba di bawah ini, Henderson tidak menyadari keberadaan Pogba.

*

Kedua tim membuat peluang dengan caranya masing-masing namun tidak ada gol tercipta. Pertandingan berjalan menarik meski hasil akhir tidak mengindikasikan demikian. Skor akhir pertandingan memang tidak selalu menggambarkan jalannya pertandingan.

Komentar