Begini Seharusnya Cara Memainkan Schneiderlin!

Taktik

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Begini Seharusnya Cara Memainkan Schneiderlin!

Ketika Morgan Schneiderlin datang ke Manchester United setelah sebelumnya mereka berhasil mendatangkan Bastian Schweinsteiger, kami sempat menulis analisis taktik yang sangat memanjakan dan PHP-is untuk para pendukung “Setan Merah”.

Entah Louis van Gaal yang kelewat jenius, kami yang kelewat bodoh dan sok tahu taktik, atau apa, semua bacotan yang kami tulis seolah tak mau terealisasi padahal (sejujurnya) Van Gaal sudah memiliki formula sempurna untuk membangun lini tengah terbaik di tanah Inggris.

Ini bukan mengenai cara bermain mereka yang mengandalkan penguasaan bola, karena dengan spesifikasi pemain tengah yang mereka miliki (Schneiderlin, Schweinsteiger, Michael Carrick, Ander Herrera, Juan Manuel Mata, sampai Marouane Fellaini), Red Devils sebenarnya bisa bermain lebih bebas dengan formasi yang memiliki seorang holding midfielder.

Dari seluruh pemain tengah United, hanya Schneiderlin yang memiliki spesifikasi sebagai pemain No. 6 atau holding midfielder yang bisa bermain sendirian, tanpa pendamping (misalnya dalam 4-2-3-1 di mana terdapat dua gelandang bertahan).

Pemain homegrown Inggris asal Prancis ini (karena ia sudah bermain di Inggris sejak kecil) adalah gelandang bertahan yang lengkap karena memiliki kecerdasan dalam mengambil posisi, kelihaiannya melepaskan operan, melakukan aksi defensif, dan fisik yang mendukung (tinggi badan 185 cm).

Namun dari sembilan bulan yang sudah berlalu sejak ia datang ke Manchester, Schneiderlin belum bisa menemukan peran yang sesuai dengan yang ia benar-benar kuasai seperti yang pernah ia mainkan di Southampton sebelumnya. Ia juga tidak bermain reguler, Van Gaal kerap merotasinya.

Sejauh ini, Van Gaal hampir selalu memainkannya dalam skema 4-2-3-1, artinya ia bermain sebagai gelandang bertahan berdampingan dengan gelandang bertahan lainnya. Dari 34 pertandingan United dengan 4-2-3-1 di semua kompetisi, mereka menang sebanyak 15 kali dan kalah sebanyak 11 kali. Ini bukan lah pencapaian yang menggembirakan.

Sejujurnya Morgan memang tidak bisa maksimal jika bermain berdampingan dengan gelandang bertahan lainnya, kecuali dengan tipikal gelandang bertahan yang mengandalkan fisik seperti Vincent Wanyama di Southampton. Sayangnya United tidak memiliki gelandang bertahan tipikal seperti ini (sebenarnya, sih, ada, yaitu Fellaini dan Timothy Fosu-Mensah).

Untuk itu lah kenapa kami berpendapat United lebih cocok bermain dengan 4-3-3 yang juga bisa ditranslasi menjadi 4-1-4-1 seketika sesuai kebutuhan, dengan Schneiderlin bermain sebagai holding midfielder tunggal di depan back four.

Pada pertandingan dini hari kemarin (21/04/2016) saat mereka mengalahkan Crystal Palace 2-0 di Old Trafford, akhirnya kami bisa melihat United bermain dengan 4-3-3.

Bermain sebagai holding defensive midfielder yang lebih kompleks daripada sekadar gelandang bertahan, Schneiderlin akhirnya bisa berkonsentrasi penuh kepada keunggulannya selama ini, yaitu melindungi back four, memecah serangan lawan, dan mengoper bola ke depan.

Perhatikan statistiknya pada pertandingan tersebut: 90% operan sukses dengan jumlah mencapai 94 operan, lima buah tekel, satu buah sapuan bola, dan satu intersep. Angka-angka itu adalah alasan utama kenapa Schneiderlin didatangkan dan menjadi properti paling panas di jendela transfer musim panas tahun lalu.



Grafik permainan Morgan Schneiderlin (Manchester United 2-0 Crystal Palace, 21/04/2016) - sumber: FourFourTwo Stats Zone

Van Gaal sangat jarang memainkan 4-3-3 di United, padahal ia sering sekali memainkan skema ini di AFC Ajax, FC Barcelona, AZ Alkmaar, FC Bayern Munchen, dan kesebelasan negara Belanda. Di United di segala kompetisi selama musim ini, ia hanya memainkan 4-3-3 sebanyak 6 kali dengan lima kemenangan dan satu kekalahan.

Meskipun Van Gaal terkenal bukan hanya gemar merotasi pemain, tetapi juga merotasi posisi pemainnya, sudah saatnya ia sadar bahwa ada beberapa pemain yang tidak cocok dipaksakan di posisi barunya. Misalnya saja Jesse Lingard tidak akan cocok untuk bermain sebagai No. 10, Mata juga kurang maksimal sebagai sayap kanan, Marcus Rashford bukanlah pemain sayap, dan Ashley Young juga bukan penyerang.

Beberapa pengecualian mungkin bekerja sangat baik untuk Daley Blind (kini sebagai bek tengah), Luis Antonio Valencia (bek sayap kanan), Wayne Rooney (gelandang), atau contoh yang paling terkenal adalah David Alaba dan Schweinsteiger di Bayern; tetapi khusus untuk Schneiderlin, ia harus bermain dengan memanfaatkan kekuatan utamanya sebagai holding midfielder tunggal.

Di musim pertamanya ini, bisa dibilang Schneiderlin sudah menjadi korban eksperimen Louis van Gaal. Namun, jika memang Van Gaal saat ini lebih mementingkan hasil daripada permainan indah (ini dia sendiri, lho, ya, yang bilang), memainkan Schneiderlin sebagai holding midfielder tunggal di skema 4-3-3 (atau 4-1-4-1) sesungguhnya bisa membuat United mendapatkan dua hal tersebut dalam satu paket.

Komentar