Membayangkan Solidnya Lini Tengah Man United Bersama Schweinsteiger

Taktik

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Membayangkan Solidnya Lini Tengah Man United Bersama Schweinsteiger

Pekan demi pekan berlalu, dan gosip transfer Manchester United menyebar seperti abu vulkanik Gunung Raung yang membuyarkan banyak jadwal penerbangan di sekitar Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Setidaknya abu vulkanik berdampak serius, sementara gosip transfer United banyak yang tak berdampak. Lha hanya rumor yang tak menjadi nyata soalnya.

Yang nyata malah kepindahan pemain dari Old Trafford. Tidak banyak yang bisa dilakukan fans United selain membaca satu demi satu berita-berita transfer di atas. Mulai dari David de Gea yang ingin pergi ke Real Madrid, Robin van Persie yang ingin menyusul Nani ke Fenerbahce, Matteo Darmian yang sudah resmi berseragam United, sampai beberapa pemain seperti Sergio Ramos, Morgan Schneiderlin, dan masih banyak lagi.

Risiko jadi kesebelasan terkenal katanya. "Terkenal", lho, bukan "sukses", soalnya, kan, "cuma peringkat empat." Jadi beritanya juga banyak, ada yang benar, tapi lebih banyak lagi yang cuma gosip.

Akhirnya kali ini bukan cuma gosip, karena chief executive FC Bayern Munich, Karl-Heinz Rummenigge, mengkonfirmasi pada Sabtu kemarin (11/07/2015) bahwa kesebelasannya sudah menyepakati transfer Bastian Schweinsteiger dengan United.

“Bastian ingin ada sesuatu yang baru dalam karirnya,” kata Rummenigge. “Dia berkata bahwa ini adalah keinginannya. Pihak saya sedang berkomunikasi dengan Manchester United. Kami sudah mencapai kesepakatan transfer.”

“Sangat disayangkan karena Bastian punya arti yang besar untuk kesebelasan ini. Dia sudah mencapai banyak prestasi. Kami akhirnya berpisah secara baik-baik.”

Tepat sekali, Bastian dan Bayern berpisah secara baik-baik, tidak seperti Iker Casillas dengan Real Madrid yang dilepeh begitu saja.

Dilaporkan bahwa Bayern akan mendapatkan 15 juta poundsterling untuk biaya transfer Schweinsteiger ini. Kapten Jerman berusia 30 tahun ini katanya akan mendapatkan gaji sebesar 140.000 poundsterling per pekan selama tiga tahun ke depan. (Baca juga: 6 Langkah Terjadinya Transfer Pemain Sepakbola)

Schweinsteiger, yang memiliki sisa satu tahun saja di kontraknya bersama Bayern, akan menjadi pemain asal Jerman pertama yang berseragam Setan Merah. Setelah 13 tahun bermain untuk Die Bayern, ia akan menjalani petualangan barunya di Kota Manchester.

Sebelumnya, waktu United masih di bawah era Sir Alex Ferguson, kabarnya Bastian berkali-kali menolak untuk pindah ke United, padahal manajer asal Skotlandia itu sudah sering kesemsem dengan der Kommandant.

Satu hal yang membuat Manchester United menjadi pilihan Basti saat ini, bukan dahulu kala, adalah kehadiran Louis van Gaal, mantan manajernya di Bayern dulu. Bahkan, Schweinsteiger adalah fans Sang Meneer jauh sebelum ia bekerja di Säbener strasse, kandang latihan Bayern.

Antara 2009 sampai 2011, Van Gaal membuat karir Schweinsteiger terang-benderang. Ketika perkembangannya dinilai stagnan saat itu, ia dipindahkan dari posisi sayap kiri ke gelandang tengah yang membuat permainannya semakin ciamik.

Kedatangan Schweinsteiger tentunya akan membuat lini tengah United semakin segar. Pemain kelahiran Kolbermoor ini dinilai dapat meningkatkan skuat Van Gaal yang dinilai tidak seimbang. Ia sangat versatille dan bisa dimainkan di posisi mana saja di tengah.

Apa yang akan United dapatkan dari kehadiran Schweinsteiger?

Van Gaal sudah seringkali protes tentang skuatnya yang tidak seimbang, dan kealfaan gelandang tengah berkaki/di sisi kanan yang bisa berperan sebagai holding midfielder seperti Michael Carrick (di saat ia absen).

United sekarang akan memiliki gelandang berarketipe seperti itu, gelandang yang bisa menyerang dan bertahan sama baiknya, serta menjadi gelandang box-to-box.

Pada prinsipnya, kehadiran Schweinsteiger akan menambah pengalaman Liga Champions dan juga mental juara dunia pada skuat United, terutama di lini tengah, posisi di mana Marouane Fellaini ataupun Ander Herrera tidak miliki saat ini.

Suporter United mungkin akan sedikit khawatir, di usianya yang akan menginjak 31 tahun Agustus nanti, Basti pasti sudah berada di akhir puncak karirnya. Namun, performanya pada musim lalu membuktikan bahwa ia masih memiliki banyak hal untuk ditawarkan secara skill, mental, maupun sistem strategi. United adalah kesebelasan yang sangat cocok untuk Bastian.

Schweinsteiger seringkali beroperasi di tengah, tapi ia adalah pemain yang serba bisa, bahkan di sayap kanan maupun kiri. Dia dinilai sebagai salah satu gelandang terbaik di dunia. yang memiliki kemampuan tendangan jarak jauh yang mantap, mengoper bola, eksekusi bola mati, dan juga energi yang tiada tara.

Juga dijuluki "midfield motor," Schweinsteiger juga pemain taktis yang dapat membaca permainan dengan baik melalui kemampuan pengambilan posisinya. Sampai-sampai ia disebut sebagai "otak" kesebelasan negara Jerman oleh pelatihnya, Joachim Löw. Gelar "midfield mastermind" adalah justifikasi lainnya yang menjelaskan kejeniusannya di atas lapangan hijau.

Schweini

Gelandang Jerman ini rata-rata membuat 87 operan setiap 90 menit di Bundesliga Jerman musim lalu, dengan 88% di antaranya adalah operan sukses. Jumlah ini lebih banyak 13 daripada Herrera di Liga Primer Inggris.

Bahkan ketika menghadapi lawan yang tangguh di Eropa, Basti masih bisa mencetak 83 operan selama 90 menit. Angka-angka di atas adalah jumlah yang fantastis bahkan jika dibandingkan dengan sederet gelandang United ketika terakhir kali mereka berlaga di Liga Champions dua musim lalu.

Ketika dibandingkan dengan Herrera dan Carrick, Bastian bisa dibilang adalah gabungan keduanya. Persentasi operan suksesnya tidak jauh berbeda dari mereka yang terbukti vital bagi filosofi Van Gaal yang mengutamakan penguasaan bola dan mengontrol lapangan tengah.

Secara defensif, Carrick memang masih lebih unggul, tapi ia dinilai bisa menggantikan Carrick jika gelandang Inggris berusia 33 tahun itu tidak bermain. Schweinsteiger rata-rata melakukan 1,58 tekel sukses setiap 90 menit, unggul atas Carrick.

Persentase take-on-nya juga terbilang tinggi, yaitu mendekati 70%, unggul di antara seluruh gelandang United. Ditambah angka intersepnya yang mendekati 2 dalam setiap 90 menit membuatnya bisa berkontribusi dalam bertahan. Ini lah yang membuatnya menjadi gelandang serba bisa, ditambah pengalaman yang tinggi, maka lengkap lah sudah.

Kapten Jerman ini dianggap bisa memberikan pengaruhnya yang kalem dan cool, hampir mirip Carrick dan Paul Scholes, tapi lebih elegan dan energik. Hubungan baiknya dengan Van Gaal adalah salah satu hal lainnya yang membuat kami yakin untuk menyajikan angka-angka di atas sebagai sebuah "rumus" alih-alih "teori".

Bagi United, transfer Schweinsteiger adalah transfer yang sangat menguntungkan.

Mencari taktik yang ideal bagi Schweinsteiger

Pemain kelahiran 1 Agustus 1984 ini diharapkan akan menjadi kuas utama dalam kanvas formasi 4-3-3 United. Namun, hal ini akan menimbulkan pertanyaan tentang di mana Carrick akan bermain.

Namun, jika kita melihat efek Carrick, maka menjadikan Carrick sebagai pusat (di tengah) adalah keputusan yang paling bijaksana. Dengan demikian, maka Schweinsteiger berada agak di depannya bersama dengan Herrera.

Dengan trio Schweinsteiger-Carrick-Herrera, United akan memiliki tulang punggung tim yang kuat. Ini akan mengingatkan kita akan era Roy Keane dan Paul Scholes di Setan Merah dahulu. Bersama pemain-pemain pekerja keras seperti mereka, meskipun kadang keras kepala, United akan bisa memantapkan status mereka sebagai kesebelasan besar.

Pada sebuah artikel di Soccer Issue berjudul "The Four Types: Bastian Schweinsteiger is a Type 4 player", Ronen Dorfan menyebutkan bahwa Schweinsteiger adalah pemain sepakbola tipe ke-4 (dari empat tipe). Dia bukan hanya bisa mendikte gaya bermain, tetapi juga bisa mengintegrasikan kembali rekan-rekan setimnya dalam sebuah permainan. Basti akan meningkatkan pemain-pemain di sekitarnya secara komprehensif.

United yang ingin terbang ke Seattle untuk menjalani tur pra-musim (International Champions Cup) pada Hari Senin esok (13/07/2015), dikabarkan memang sedang buru-buru mengamankan pemain-pemain incaran mereka, yaitu Darmian, Schweinsteiger, dan juga (katanya) Schneiderlin.

Jika United benar-benar mendatangkan Schneiderlin, maka Setan Merah akan memiliki stok gelandang yang melimpah. Bayangkan alternatif-alternatif seperti apa yang bisa dibangun oleh pemain-pemain seperti Schweinsteiger, Carrick, Herrera, Blind, Fellaini, ditambah Schneiderlin: keseimbangan, kekuatan, kecepatan, kegaharan, keeleganan, ketenangan, dan kesetanan.

Ini adalah sesuatu yang kontras dengan yang bisa kita temui pada musim lalu ketika Van Gaal beberapa kali dipaksa memainkan Wayne Rooney dan Phil Jones sebagai gelandang.

Pola dasar 4-5-1

ManUtd_451

Formasi dan cara bermain dengan penyerang tunggal yang didukung oleh gelandang yang kuat sudah menjadi formula instan di Liga Primer. Van Gaal juga banyak memakai formula ini di paruh kedua musim yang lalu.

Jika ia ingin memakai formula ini lagi musim depan, maka ia menginginkan kemitraan yang apik antara Schweinsteiger dan Carrick di jantung lini tengah: Si orang Jerman lebih fokus bermain gahar (dengan tekel), sementara si orang Inggris lebih fokus untuk kalem dan mengoper.

Bayangkan juga di depan mereka ada pemain-pemain seperti Juan Manuel Mata, Herrara, Rooney, dan Memphis Depay, yang bisa dimanjakan menjadi kuartet mematikan.

Seperti di die Roten dahulu, Schweinsteiger ditempatkan di posisi yang lebih ofensif dari dua gelandang bertahan (angka '2' pada 4-2-3-1), memungkinkan rekannya saat itu, Mark van Bommel, untuk membangun perisai yang stabil di depan keempat bek mereka.

“Dia (Schweinsteiger) tidak cocok di sayap kiri (posisinya ketika Van Gaal pertama kali datang ke Bayern),” kata Van Gaal dalam sebuah wawancara yang dimuat di FIFA.com pada bulan Mei lalu.

“Ketika saya datang [ke Bayern], saya berbicara dengan semua pemain mengenai perihal posisi mereka, kepribadian mereka, tim secara keseluruhan, dan bagaimana mereka bekerja sama dengan seluruh rekan setim mereka. Saya berkata kepada Bastian: ‘Saya rasa Anda harus bermain di tengah.’"

“Pada saat itu, kami bermain dengan dua holding midfielder dan seorang pemain tipikal No. 10, yang pada saat itu adalah [Thomas] Müller. Kemudian dia bermain dengan peran holding dan bisa bersinar jauh lebih terang daripada sebelumnya. Sekarang (pada saat itu, Mei 2015) ia bermain sebagai No. 6 bersama [manajer Pep] Guardiola.”

Jadi sudah jelas, di mata Van Gaal, Schweinsteiger memiliki spesifikasi sempurna: operan yang bagus, agresivitas, kepemimpinan. Ia menjadi sosok utama di "ruang mesin" Bayern. Peran yang sama akan menantinya di United nanti.

Ditambah kemampuan multidimensional Schweinsteiger dalam menggiring bola di tengah lapangan dan meredam tekanan tinggi dari lawan, ini adalah kelebihan tambahan lainnya. Sangat menarik.

Pola 4-3-3 sebagai pola terbaik

ManUtd_433

Kembali kepada dua sub-judul sebelum ini, 4-3-3 sepertinya akan menjadi pola terbaik bagi Van Gaal (meskipun bisa jadi bukan pola favoritnya). Kenyataannya, Van Gaal adalah manajer yang fleksibel dan seorang pemikir bak filsuf.

Ketika misalnya ia sudah merasa buntu dengan 4-5-1 (atau 4-2-3-1), maka ia bisa mengubahnya menjadi 4-3-3 yang lebih bersifat agak ofensif dan seringkali dapat memanfaatkan kesalahan lawan.

Pada 4-3-3, Schweinsteiger bisa berada di tengah didampingi Herrera di kanan dan Blind atau Fellaini di kiri. Atau juga, Schweinsteiger bisa berada di salah satu sisi (biasanya kiri), sementara di tengah ada Carrick, dan di sebelahnya ada Herrera. Seperti yang sudah dijelaskan pada dua sub-judul sebelum ini.

Namun, kecepatan akan sedikit menjadi masalah pada 4-3-3 ini. Meskipun demikian, distribusi dan keseimbangan lini tengah, di atas kertas dan secara teori, akan mampu memecahkan masalah kecepatan ini.

Maka dari itu lah, pola 4-3-3 ini akan menjadi sempurna jika Schneiderlin bisa dihadirkan dan diletakkan pada posisi tengah. Sempurna.

Sementara dengan 4-3-3 ini, kelemahan berupa kemampuan Mata, Depay, Adnan Januzaj, Ángel Di María, Ashley Young, Luis Antonio Valencia, Jesse Lingard, Andreas Pereira, atau siapapun pemain sayap Setan Merah dalam melakukan track-back dan bertahan akan menjadi pekerjaan rumah lainnya untuk LVG.

Tapi jika United memiliki bek yang solid, seperti misalnya Sergio Ramos, mungkin saja masalah ini akan menyublim dengan otomatis.

Alternatif 4-4-2 berlian

ManUtd_442

Saat ini formasi 4-4-2 berlian (diamond) atau 4-1-2-1-2 memang sudah tidak terlalu populer. Tapi formasi ini dapat menjadi alternatif lainnya untuk United di musim depan, seperti juga pada musim yang lalu.

Formasi ini akan sangat bergantung pada Carrick sebagai landasannya, dengan Schweinsteiger, Herrera, dan Blind atau Fellaini atau Mata yang akan menjadikan lini tengah United bermain tiki-taka.

Kemampuan mengoper Schweinsteiger dianggap bisa dijalankan dengan baik pada alternatif ini. Ditambah kemampuan bek dalam meluncurkan operan panjang, maka Basti bisa saja menjalankan peran yang lebih dalam.

Namun, formasi ini menjadi kemungkinan terkecil karena akan terlalu banyak mengorbankan pemain United lainnya, terutama para pemain sayap. Ini tentunya tidak baik bagi perkembangan kesebelasan.

Waspada cedera

Setelah "janji-janji manis" di atas, tentunya ada hal yang tak mengenakkan mengenai kedatangan Schweinsteiger. Pada usianya yang akan menginjak 31 tahun di awal Agustus nanti, ditambah Carrick yang sudah mulai beruban, kasus cedera tampak menjadi ganjalan yang paling mengesalkan.

Kadang cedera itu tidak bisa terhindarkan, apalagi musim depan United bisa saja terlalu sibuk dengan bermain di empat kompetisi: Liga Primer, Piala Liga Inggris, Piala FA, dan Liga Champions.

Jika Schweinsteiger dan Carrick absen secara bersamaan, maka United akan sangat kerepotan. Maka dari itu, sebelum United terbang ke Seattle, mereka dikabarkan terus mendesak Southampton untuk menyetujui pembelian Schneiderlin.

Schneiderlin sendiri adalah pemain yang berkelas. Tidak ada pemain di Liga Primer yang membuat tekel dan intersep sebanyak yang ia cetak dalam tiga musim terakhir (626). Bahkan pemain seperti Pablo Zabaleta, yang merupakan salah satu bek andalan di Liga Primer, berada di peringkat ke dua (521) di bawah pemain Perancis berusia 25 tahun ini.

Momen transisi antara bertahan ke menyerang dan menyerang ke bertahan sudah terbukti menjadi salah satu kelemahan United musim lalu. Anak-anak asuhan Van Gaal seringkali kerepotan jika penguasaan bola mereka terebut seketika dan menderita serangan balik. Mari tengok kembali kekalahan 5-3 United atas Leicester City untuk memahami situasi ini.

Kehadiran Schneiderlin pasti mampu menambal lubang tersebut. Ditambah, akan sangat menguntungkan bagi United karena Schneiderlin merupakan pemain homegrown di Liga Primer.

Andai saja United masih punya Paul Pogba, bersama Schweinsteiger dan Carrick, pasti lini tengah United sudah menjadi yang paling menakutkan di Inggris.

Namun untuk saat ini, mari kita berikan salam selamat datang yang hangat untuk Bastian Schweinsteiger. Willkommen nach Manchester, Der Kommandant von Kolbermoor.

Sumber: Squawka, The Guardian, FIFA, Sportskeeda, WhoScored, EPL Index, Soccer Issue

Komentar