Membandingkan Taktik Bertahan Chelsea dan Arsenal

Taktik

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor of Pandit Football Indonesia, manager of Box2Box Media Network, podcaster of Footballieur, creative writer of Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Membandingkan Taktik Bertahan Chelsea dan Arsenal

Chelsea berhasil unggul lima poin di puncak klasemen Liga Primer Inggris setelah menang 2-0 atas Arsenal dalam derby London di Stamford Bridge Hari Minggu kemarin.

Mourinho benar-benar mengajarkan kepada Arsene Wenger tentang cara bertahan yang baik. Lalu bagaimana dengan kemenangan? Tidak masalah bagi Mou, karena ia memiliki Diego Costa.

The Blues membuka keunggulan pada babak pertama setelah Eden Hazard menari meliuk-liuk menuju jantung pertahanan Arsenal sebelum akhirnya diganjar oleh Laurent Koscielny di dalam kotak penalti.

Pemain sayap Belgia itu mengambil sendiri penalti yang diberikan wasit, sekaligus membuat Chelsea memecah kebuntuan.

Chelsea kemudian berhasil menyegel tuntas keunggulan mereka pada menit ke-78 setelah Costa menerima umpan matang dari mantan pemain Arsenal, Francesc Fabregas, untuk mengelabuhi Wojciech Szczesny dengan tendangan cip cantiknya. Gol ini juga membuat Costa memimpin daftar pencetak gol sementara di Liga Inggris dengan sembilan gol.

Ilmu "Sepakbola Bertahan" dari Mourinho

Dari awal pertandingan, terlihat bahwa Chelsea menurunkan pemain-pemain bertahan utama mereka.

Sementara itu, meski Arsenal menurunkan jumlah pemain menyerang yang lebih banyak daripada Chelsea, tidak mampu menembus pertahanan ketat John Terry dkk.

Hal ini terlihat betul pada statistik akhir pertandingan: Chelsea menembak lima kali, dengan tiga tembakan akurat ke arah gawang, dan dua di antaranya menjadi gol. Sementara Arsenal menembak 10 kali, tetapi tak satupun mengarah ke gawang.

Kemandulan The Gunners ini tidak bisa disalahkan kepada ketidakmampuan penyerang-penyerang mereka dalam melakukan penyelesaian, tetapi lebih kepada kedisiplinan pertahanan Chelsea dari kuantitas maupun kualitas.

Pendekatan Mourinho dalam memenangkan setiap pertandingan hampir selalu sama. Bahkan, melawan Arsenal, ia tetap bisa bermain bertahan dengan disiplin tingkat tinggi meski bertanding di hadapan pendukung sendiri.

A-Chelsea-def-line

Sistem bertahan Chelsea yang berkali-kali membuat penyerang Arsenal buntu


Pada gambar di atas kita bisa melihat bahwa lini pertahanan Chelsea sangat ketat, sehingga tidak ada celah bagi pemain Arsenal untuk melirik ruang kosong. Hal ini juga yang membuat 8 dari 10 tendangan Arsenal (yang semuanya meleset) berasal dari luar kotak penalti.

Sekilas, Mourinho menunjukkan kepada kita bahwa cara bertahan terbaik adalah dengan menumpuk banyak pemain di defensive third Anda sendiri. Terutama dengan refleksi bahwa Chelsea memainkan 4-2-3-1 dengan empat bek dan dua gelandang bertahan, kuantitas bisa memerankan kunci dalam bertahan Chelsea di sini.

Namun, kenyataannya kuantitas bukanlah segala, melainkan kualitas. Hal ini lah yang membedakan cara bertahan Chelsea dengan Arsenal pada pertandingan Minggu malam kemarin.

Pertahanan Arsenal yang Tidak Fokus

Berseberangan dengan Chelsea, pertahanan Arsenal bisa dibilang amburadul. Secara kualitas mereka masih kalah belajar dari rival birunya tersebut.

Memang kita menemukan banyak pemain Arsenal di area pertahanan mereka, tetapi pembagian tugas mereka masih berantakan. Padahal duet Laurent Koscielny dan Per Mertesacker bisa dibilang adalah duet bek terbaik di Liga Inggris pada musim lalu.

Namun, pada pertandingan melawan Chelsea, dari segi positioning, kadang Koscielny dan Mertesacker tidak bergerak secara selaras, sehingga bek-bek sayap mereka pun berada pada posisi yang tak semestinya.

Misalnya saja pada kesempatan di bawah ini. Ketika Willian memegang bola, ia memiliki tiga pilihan daerah yang bisa ia oper. Baik daerah A, B, dan C membuat pemain Chelsea leluasa memanfaatkan ruang.

C_Arsenal-def-zone

Zona pertahanan Arsenal yang bisa dieksploitasi Chelsea


Daerah A dan B dapat dimanfaatkan oleh Costa yang berada pada posisi onside (karena Mertesacker berada pada posisi yang salah). Jika Willian mengoper kepada salah satu daerah ini, maka baik Kieran Gibbs maupun Koscielny akan kerepotan.

Lalu, akan sangat mudah bagi mereka berdua untuk menyalahkan positioning Mertesacker.

Kemudian jika Willian mengintip ke sayap kanan (daerah C), ia dapat menemukan Branislav Ivanovic memiliki space yang leluasa di depannya untuk melakukan umpan dari sayap. Pada akhirnya memang Willian mengoper ke daerah ini.

Arsenal kembali beruntung, karena Ivanovic yang menerima operan Willian, secara terburu-buru langsung melakukan umpan kepada Costa yang berdiri pada posisi offside.

Jika kita lihat lagi secara seksama, andai Ivanovic menunda umpannya kepada Costa atau Costa yang tidak berada pada posisi yang terlalu naik, pertahanan Arsenal terlihat terlambat untuk menutup Costa.

Mereka hanya bisa mengandalkan Gibbs yang bisa saja menutup arah operan Ivanovic.

E-Arsenal_def_concentration_01

Arsenal membiarkan Hazard memiliki ruang


Seolah tidak belajar dari kesalahan, hal serupa terjadi seperti awal pertandingan ketika Arsenal meninggalkan salah satu pemain Chelsea tak terkawal.

Dilihat dari arah tubuhnya, lima pemain Arsenal di dalam kotak penalti terlalu fokus kepada Costa. Mereka tidak melihat Hazard datang mengancam dari second line.

Costa yang melihat pergerakan Hazard, mengoper ke arah ruang kosong antara Koscielny dan Mertesacker. Setelah Hazard mendapat bola, Koscielny dan Alex Oxlade-Chamberlain mencoba menutup Hazard, namun arah pergerakan mereka yang sama-sama ke dalam membuat Hazard lebih leluasa lagi untuk mengeksploitasi ruang di depannya.

E-Arsenal_def_concentration_02

Baik Koscielny maupun Chamberlain tidak sempat untuk mengubah arah orientasi pergerakan tubuh mereka. Ini menyebabkan Hazard tinggal berhadapan satu lawan satu dengan Szczesny.

Lagi-lagi Arsenal beruntung karena tendangan Hazard masih melambung tinggi.

*********************

Arsenal memang memiliki lebih banyak penguasaan bola seperti yang ditunjukkan statistik. Tetapi, mereka tidak bisa membuat sesuatu yang produktif dari penguasaan tersebut. Statistik yang paling memberatkan adalah bahwa mereka tidak memiliki satu pun tembakan ke arah gawang, dan itu tentu disebabkan bahwa mereka tidak punya jawaban untuk pertahanan kokoh dan keras kepala dari Chelsea.

Chelsea tampak memiliki kendali atas pertandingan, dan jika pertandingan dilanjutkan lagi pun masih akan sulit untuk melihat The Gunners menemukan terobosan.

Pertandingan ini adalah tampilan klasik Mourinho, dengan Chelsea tak tertembus di belakang dan menyediakan beberapa sihir di depan. Mereka tidak memberi Arsenal kesempatan di final third dan tidak pernah tampak dalam bahaya kebobolan.

Musim ini Chelsea adalah tim yang tidak hanya kokoh dalam bertahan, tetapi juga klinis ketika diberi kesempatan, ini adalah kombinasi yang bisa membuat mereka mengakhiri klasemen sebagai pemuncak klasemen Mei tahun depan.

Jose Mourinho tetap tak terkalahkan melawan Arsene Wenger, dan sejujurnya sulit untuk melihat kapan kekalahan pertama Chelsea akan terjadi di Liga Primer musim ini.

Komentar