Agar Jadwal Liga Indonesia Bisa Selesai Tepat Waktu

Sains

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Agar Jadwal Liga Indonesia Bisa Selesai Tepat Waktu

Sebelum menentukan jadwal liga sepakbola di Indonesia, yang harus dipertimbangkan setidaknya ada dua, yaitu agenda politik (Pilkada, Pilpres, dll) dan bulan Ramadan.

“Untuk Liga 1 Indonesia tahun 2019, kick-off akan dilakukan [sekitar] 1 Mei 2019 dan paling lambat 8 Mei 2019,” ujar Pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum PSSI, Joko Driyono—yang terkenal dengan keahliannya membuat jadwal, katanya—dikutip dari Antara.

Jadwal tersebut dinilai sebagai langkah antisipatif sekaligus pragmatis mengingat Pemilihan Umum Presiden Indonesia (Pilpres) 2019 akan dilangsungkan pada 17 April 2019.

Namun Ramadan 1440 H diperkirakan akan jatuh pada 5 Mei sampai 4 Juni 2019. Itu artinya Liga 1 akan dimulai sebelum atau berbarengan dengan Ramadan. Sebenarnya ini bukan masalah kompleks, tapi Ramadan sudah berkali-kali disikapi sebagai jeda tengah kompetisi (mid-season break). Tapi musim ini menjadi aneh, masak jeda “tengah” kompetisi malah terjadi di “awal” kompetisi?

Liga 1 sendiri memiliki 18 kesebelasan. Tidak sebentar menyelesaikan liga dengan 18 peserta. Setidaknya harus ada 34 pekan pertandingan (gameweek) dengan format kandang dan tandang, meski dalam satu pekan bisa saja memainkan dua gameweek sekaligus: di akhir pekan dan tengah pekan.

Masalah tidak hanya sampai di situ. Masih ada juga pekan yang dipakai untuk FIFA matchday alias jeda internasional. Tahun 2019 ini terdapat lima jeda internasional, dengan empat di antaranya terjadi setelah Pilpres.

Kalau Liga 1 dimulai pada awal Mei 2019, maka otomatis akan tersisa 35 pekan sampai Tahun Baru 2020. Kemudian dikurangi empat pekan Ramadan (belum lagi ada libur Idulfitri) dan empat pekan FIFA matchday, maka secara efektif Liga 1 hanya memiliki 27 pekan.

Banyak pertanyaan muncul dari sini. Pertama, apakah 27 pekan cukup untuk memainkan 34 gameweek? Kedua, memangnya kenapa kalau Liga 1 selesai setelah Tahun Baru 2020? Terakhir, apakah ini merupakan jadwal yang ideal di tahun politik seperti ini?

Skenario Umum di Liga dengan 18 Peserta

Setelah kami melakukan pengecekan kepada liga-liga sepakbola dunia, tidak banyak liga yang memiliki jumlah peserta di atas 18 kesebelasan. Di Asia, hanya Liga 1 (Indonesia), J1 League (Jepang), dan Liga Champions Sri Lanka yang memiliki 18 peserta. Sisanya di bawah itu.

Sementara dari Eropa, hanya Bundesliga Jerman, Eredivisie Belanda, Primeira Liga Portugal, dan Süper Lig Turki. Kemudian dari Benua Amerika hanya Liga MX (Meksiko) dan Divisi Utama Venezuela.

Liga dengan 18 peserta lebih banyak terdapat di Benua Afrika seperti di Liga Primer Mesir, Liga Primer Kenya, Elite One Kamerun, Liga Primer Mali, dan Liga Primer Zimbabwe.

Melihat liga dari negara-negara di atas, hanya Indonesia dan Meksiko yang bisa dibilang sebagai negara dengan luas terbesar. Jika ingin berasumsi, semakin besar sebuah negara maka akan semakin banyak kesebelasan papan atasnya, meski itu tak terjadi di Rusia (16 peserta Liga Primer Rusia) sebagai negara terbesar dunia atau Tiongkok (16 peserta Liga Super) sebagai negara dengan penduduk terbanyak di dunia.

Hal yang perlu dipelajari dari liga-liga dengan 18 peserta di atas adalah waktu yang mereka habiskan untuk menyelesaikan satu musim kompetisi. Itu bisa dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 1 – Perbandingan durasi jadwal liga-liga dengan 18 kesebelasan peserta

Dari 14 sampel yang diambil, 78,5% liga di atas memainkan 34 gameweek dalam lebih dari 34 pekan. Ini adalah jumlah yang normal jika setiap pekan mereka memainkan satu gameweek.

Bahkan hampir setengah di antara mereka memainkan liga setidaknya dalam 40 pekan, dengan Liga Primer Mesir menjadi yang terlama, yaitu 43 pekan, padahal pada musim sebelumnya mereka hanya memakan 31 pekan.

Sementara liga-liga Eropa dengan 18 peserta kebanyakan menyelesaikan liga mereka antara 38 sampai 41 pekan. Jika ingin mengambil sesama liga di Asia, J1 League musim lalu memakan waktu 41 pekan.

Skenario Tercepat

Dari liga dengan jumlah peserta serupa Liga 1, Liga Champions Sri Lanka (namanya berat banget) menjadi yang paling cepat merampungkan liga mereka, yaitu hanya dalam 14 pekan. Ini lebih cepat daripada 27 pekan efektif yang Liga 1 miliki sampai 2020.

Apakah Sri Lanka menyelesaikan liga mereka dengan luar biasa cepat? Tidak juga, karena ternyata liga mereka hanya memainkan satu putaran, alias tanpa home dan away, sehingga liga sudah selesai pada gameweek ke-17.

Lagi pula untuk apa mencontoh Liga Sri Lanka, karena ternyata liga ini menempati peringkat ke-45 (kedua dari bawah) dalam ranking liga di AFC.

Selanjutnya ada Liga Primer Kenya dan Elite One Kamerun yang sama-sama menyelesaikan liga mereka dalam 24 pekan. Jika Indonesia mau meniru kedua liga ini, bisa jadi Liga 1 selesai sebelum Tahun Baru 2020.

Namun meski berlangsung cepat, Liga Kenya dan Kamerun sama-sama mengabaikan FIFA matchday dan memadatkan liga mereka dengan berkali-kali bermain di tengah pekan. Soal mengabaikan FIFA matchday, ini mungkin bisa dipahami karena kebanyakan para pemain Timnas Kenya dan Kamerun tak bermain di liga domestik mereka.

Pada skuat jeda internasional terakhir, tak ada satu pemain Kamerun pun yang bermain di Liga Kamerun. Sementara dari Timnas Kenya, hanya ada 11 pemain yang bermain di Liga Kenya, itu juga memiliki caps terendah di antara para pemain dari luar liga domestik kecuali Allan Wanga dan Francis Kahata.

Selanjutnya Liga Kamerun juga memiliki 11 pertandingan yang dimainkan tengah pekan. Dengan hanya 18% penduduknya yang beragama Islam, Kamerun juga tak keberatan memainkan pertandingan-pertandingan di bulan Ramadan.

Kenya lebih banyak lagi memainkan pertandingan tengah pekan, yaitu 13 kali, yang membuat liga mereka bisa selesai dengan cepat. Lalu dengan hanya 9,7% penduduk mereka yang beragama Islam, itu juga membuat Liga Kenya tetap berjalan saat puasa Ramadan.

Sebenarnya jika Indonesia mau meniru Kenya dan Kamerun, dengan sedikit lebih sibuk di Ramadan, mengesampingkan FIFA matchday, dan tanpa jeda kompetisi, maka Liga 1 bisa-bisa saja selesai sebelum 2020. Namun rasanya tak elok terutama jika Indonesia tak memanfaatkan FIFA matchday karena tahun 2019 ini tak ada agenda timnas yang bisa membuat peringkat FIFA kita naik kecuali jeda internasional.

Lagi pula Liga Kamerun juga menduduki peringkat ke-20 dan Liga Kenya peringkat ke-23 dari 28 liga yang ada di Afrika. Peringkat itu sangat rendah sehingga mencontoh liga mereka bukan menjadi sesuatu yang baik.

Skenario Terbaik

Liga 1 tak bisa hanya dikira-kira dengan melihat angka durasi dengan liga sejenis (dalam hal jumlah peserta). Salah satu yang harus diperhatikan adalah konteks.

Liga Indonesia berada di Asia Tenggara. Pada tahun lalu saja Indonesia mengalami masalah ketika Liga 1 masih berjalan ketika Piala AFF (Asia Tenggara) diselenggarakan. Maka Indonesia harus melihat bagaimana negara-negara di Asia Tenggara menjalankan liga mereka.

Gambar 2 – Perbandingan jadwal liga-liga sepakbola di Asia Tenggara

Di Asia Tenggara (termasuk Australia yang kalender kompetisinya mengikuti Eropa), Liga 1 Indonesia adalah liga dengan jumlah peserta terbanyak. Semua liga di AFF, kecuali Australia, juga sudah sesuai dengan kalender kompetisi utama AFC, yaitu Liga Champions dan Piala AFC (selesai November 2019). Hal ini memudahkan agenda kesebelasan jika mereka lolos ke Liga Champions atau Piala AFC.

Liga 1 menjadi liga yang mulainya paling molor. Tak heran, Liga 1 juga bisa selesai paling belakangan, sama seperti tahun lalu.

Di saat Liga 1 akan memainkan gameweek pertama tahun ini, liga-liga lain sudah menjalani setidaknya enam gameweek, Liga Laos bahkan kemungkinan besar sudah selesai (jika mengacu kepada apa yang terjadi tahun lalu). Sementara Liga Champions AFC akan memainkan matchday kelima fase grup, serta Piala AFC juga baru selesai memainkan matchday kelima fase grup, pada saat Liga 1 dimulai.

Pada 2019, hal ini memang tak akan berdampak signifikan. Namun pada tahun penyelenggaraan Piala AFF, molornya jadwal ini akan berdampak pada performa kesebelasan dan tim nasional.

Liga 1 sendiri berada di peringkat ke-8 di AFF, atau ke-27 di AFC, masih kalah jauh dengan Thai League 1 (peringkat ke-8 AFC), A-League Australia (peringkat 9), Liga Super Malaysia (13), Liga Filipina (17), V-League Vietnam (19), Liga Primer Singapura (22), dan Liga Myanmar (25).

Kalau Indonesia ingin menaikkan peringkat Liga 1, tentu salah satu caranya adalah dengan mencocokkan jadwal Liga 1 dengan jadwal liga-liga Asia Tenggara, Liga Champions, dan Piala AFC.

Kemudian jika ingin melihat liga di Asia yang memiliki peringkat lebih tinggi, kita akan mendapatkan jawaban “kapan liga sebaiknya selesai?” yang mirip-mirip: Super Liga Tiongkok (peringkat 1 AFC) musim ini selesai pada 30 November 2019, QNB Stars League Qatar (2) selesai 3 November 2019, K League 1 Korea Selatan (3) selesai 8 Oktober 2019, dan J1 League Jepang (6) musim lalu selesai pada 1 Desember.

Semua liga terbaik di Asia selesai sebelum Tahun Baru. Normalnya, Indonesia—yang peringkat liganya lebih buruk dari mereka semua—seharusnya selesai sebelum Tahun Baru juga.

Skenario Terburuk

Bukan Indonesia namanya kalau tidak menyiapkan skenario terburuk. Bahkan “skenario terburuk” bisa sama artinya dengan “skenario realistis”, apa lagi 2019 ini adalah tahun politik, semua agenda (kecuali Piala Presiden) harus menyesuaikan dengan politik.

Sama seperti yang coba kami lakukan tahun lalu, berikut adalah peta problematika liga sepakbola kita tahun 2019 ini:

Gambar 3 – Peta problematika sepakbola dan politik Indonesia 2019

Sebenarnya tahun 2019 ini lebih tidak sibuk daripada 2018 di mana ada Pilkada, Asian Games, Asian Para Games, Piala AFF, serta Indonesia yang menjadi tuan rumah untuk tiga turnamen AFF dan satu turnamen AFC. Namun 2019 ini menjadi puncak agenda politik (Pilpres) yang membuat banyak pihak tak mau mengambil risiko.

Masalahnya, jika sepakbola dianggap mengganggu politik atau sebaliknya, Piala Presiden saja dijadwalkan tetap ada dan selesai sebelum Pemilu. Apa bedanya Piala Presiden yang hanya pra-musim itu dengan Liga 1? Mungkin karena namanya sejalan dengan Pilpres (Piala “Presiden”)...

Sejauh ini hanya Liga Zimbabwe yang sepakbolanya pernah terganggu agenda politik. Itu juga karena ada insiden yang menewaskan enam orang. Sementara dari olahraga lain, American football misalnya, masalah yang mengganggu mereka hanya rating siaran olahraga yang kalah dari rating pemilihan presiden.

Sebenarnya juga sebelum Pilpres tidak ada agenda penting juga yang mengganggu liga kecuali jeda internasional. Malah salah satu cara memaksimalkan jeda internasional (supaya para pemain match fit), ya, liganya harus sudah jalan.

Masalah lain juga seperti yang sudah disampaikan pada awal tulisan ini, yaitu setelah Pilpres langsung ada Ramadan.

Simulasi Jadwal Supaya Selesai Sebelum 2020

Kongres PSSI memang hanya menentukan kapan dimulainya sepak mula (kick-off) Liga 1. Sementara jadwal komplet Liga 1 atau bahkan jadwal gameweek pertama saja belum dirilis. Pemilihan tanggal ini sebenarnya oke-oke saja, mengingat jendela transfer pemain jilid pertama di Indonesia berakhir pada 9 Mei 2019 berdasarkan TMS (Transfer Matching System).

Joko Driyono meminta agar PT Liga Indonesia Baru (LIB) segera melakukan persiapan, terlebih saat ini sejumlah kesebelasan Indonesia juga masih disibukkan dengan jadwal Piala Indonesia “2018”.

“Seluruh rencana di atas harus segera digodok oleh LIB. LIB juga kami minta untuk mengadakan rapat umum pemegang saham paling lambat dua minggu setelah kongres ini selesai,” kata Jokdri.

Untuk liga yang rencananya akan dimulai empat bulan lagi, keluarnya jadwal lengkap memang bukan keniscayaan. J1 League Jepang saja (liga dengan peringkat keenam di AFC) yang akan memulai liganya pada 23 Februari 2019, baru merilis jadwal dua gameweek pertama setidaknya per hari ini (22/01).

Masalahnya jika Liga 1 dimulai pada Mei 2019, ada beberapa kendala yang hadir dari Ramadan dan Idulfitri. Tak dimungkiri, meski Ramadan tetap/baru bermain, Liga 1 setidaknya punya tiga sampai empat gameweek (bisa lebih jika ingin bermain dua kali sepekan). Kemudian budaya masyarakat Indonesia berupa mudik tak akan membendung para pemain, staf, dan pengurus untuk melakukannya.

Jika ada mudik dan liburan Lebaran, meski liga baru mulai, maka akan ada uang tunjangan (THR). Belum lagi harga tiket mudik yang melambung semakin mendekati Idulfitri, sehingga ini seharusnya membuat mereka yang terlibat di sepakbola Indonesia (termasuk suporter) mendesak PT LIB untuk merilis setidaknya jadwal liga selama Ramadan.

Liga-liga di luar negeri biasa merancang jadwal mereka dengan terlebih dahulu melihat “agenda distraksi”. Liga Inggris mengatur jadwal liga mereka dengan menggunakan boxing day sebagai pertimbangan utama. Draf jadwal liga biasanya sudah keluar dua bulan sebelum kompetisi dimulai.

Hal yang dipastikan pada draf jadwal adalah siapa melawan siapa, di mana, dan di gameweek keberapa. Untuk waktu sepak mula sampai tanggal pertandingan biasanya akan menyesuaikan lagi satu sampai dua pekan sebelum gameweek tersebut. Dengan hadirnya draf ini, akan sangat membantu bagi persiapan keuangan kesebelasan (persiapan perjalanan, akomodasi, sponsor, dll).

Selanjutnya mengikuti agenda kompetisi Asia (Liga Champions dan Piala AFC) adalah keharusan bagi PSSI dan operator liga. Ini berdampak pada verifikasi kesebelasan maupun pemain, terutama menyangkut ITC (International Transfer Certificate) atau TMS yang sering diabaikan banyak kesebelasan di Indonesia, yang pada tahun ini berpotensi membuat Persija Jakarta tidak bisa memainkan pemain-pemain asing mereka di kompetisi AFC.

Hal itu yang membuat Indonesia sebenarnya tak harus memaksakan ada 18 kesebelasan peserta di liga tertinggi kalau memang kesebelasan yang benar-benar profesional tidak sampai dua digit jumlahnya. Mungkin, lagi-lagi, Indonesia harus belajar ke Jepang soal kesebelasan harus mapan terlebih dahulu sebelum jago.

Sekarang jumlah peserta J1 League memang 18—sama seperti Liga 1—tapi saat pertama kali terbentuk pada 1993, jumlah peserta mereka hanya 10. Jumlahnya terus naik perlahan dengan mengedepankan asas profesionalisme dan baru pada 2005 menjadi 18 peserta.

Kemudian mengingat soal kontrak pemain di Indonesia yang seringnya hanya berdurasi setahun—biasanya sampai Desember—maka ada baiknya Liga 1 2019 berakhir sebelum Tahun Baru 2020.

Gambar 4 – Simulasi Liga 1 Indonesia 2019 jika ingin berakhir pada pekan kedua Desember 2019

Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, menurut kalkulasi kami, jika memang gameweek pertama Liga 1 2019 tidak bisa dimajukan, maka liga sebaiknya selesai dalam 32 pekan paling cepat. Rinciannya adalah sebagai berikut: Ramadan memainkan tiga gameweek, libur tiga pekan sampai sepekan setelah Idulfitri (pekan ketiga Juni).

Ada sedikit masalah di sini, yaitu ada FIFA matchday di pekan pertama Juni, yang berbentrokan dengan Idulfitri. Kita asumsikan saja Timnas Indonesia tidak memainkan pertandingan pada FIFA matchday Juni ini.

Selanjutnya dalam 11 pekan dari pekan ketiga Juni sampai awal September (FIFA matchday), liga memainkan jadwal tengah pekan juga hanya sebanyak dua kali, dengan pertimbangan banyaknya agenda Liga Champions dan Piala AFC pada rentang waktu ini, sehingga Liga 1 hanya bisa memainkan pertandingan tengah pekan di mana tidak ada agenda Liga Champions dan Piala AFC (dengan asumsi kesebelasan kita terlibat di kompetisi Asia).

Berikutnya antara FIFA matchday September ke FIFA matchday Oktober, liga memainkan empat gameweek di akhir pekan dan satu gameweek di tengah pekan, dengan pertimbangan ada tiga pekan yang dipakai untuk agenda kompetisi Asia. Kemudian antara FIFA matchday Oktober menuju FIFA matchday November, liga memainkan empat gameweek di akhir pekan dan dua gameweek di tengah pekan, dengan pertimbangan yang sama.

Setelah FIFA matchday November, liga masih memiliki sisa tujuh gameweek. Kita bisa menyelesaikannya dalam empat pekan, yaitu tiga pekan dengan memainkan dua gameweek, serta satu pekan memainkan satu gameweek (yang terjadi ketika final Liga Champions). Dengan demikian ke-34 gameweek Liga 1 2019 akan selesai setidaknya pada pekan kedua Desember 2019.

***

Idealnya Liga 1 memang dimulai tidak terlalu molor. Idealnya juga Liga 1 berakhir sebelum Tahun Baru 2020. Dari banyak riset kasus di atas, Indonesia seharusnya meniru liga-liga sepakbola Asia Tenggara, bahkan bisa jadi mengurangi jumlah peserta tidak lagi menjadi 18 kesebelasan.

Indonesia bisa saja memadatkan Liga 1 menjadi sering bermain di tengah pekan seperti Liga Kamerun dan Liga Kenya, tapi dengan catatan harus tetap memanfaatkan jeda internasional (liga libur ketika FIFA matchday) dan agenda kompetisi AFC. Biar bagaimana juga, FIFA matchday adalah agenda satu-satunya timnas senior pada 2019 yang bisa menaikkan peringkat FIFA kita. Sementara dengan memanfaatkan agenda kompetisi AFC, maka itu bisa menaikkan peringkat liga kita di Asia.

Namun semua hal di atas baru urusan jadwal, belum soal manajemen, tata kelola, match-fixing, pemilihan ketua umum PSSI, kepemilikan kesebelasan, kepengurusan PSSI, penunggakan gaji, regulasi, dan segudang masalah lainnya yang merupakan skenario terburuk yang akrab dengan sepakbola Indonesia.

Kalau memang Joko Driyono segitu andalnya membuat jadwal, seharusnya soal jadwal Liga 1 ini tak akan jadi masalah. Dengan begitu, kita bisa beralih kepada masalah-masalah lainnya di PSSI.


Simak opini dan komentar redaksi Panditfootball terkait jadwal Liga 1 yang belum juga rilis di Kamar Ganti Pandit lewat video di bawah ini:



Komentar