Nyanyi yang Semangat!

Sains

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Nyanyi yang Semangat!

Menyanyi bisa melepaskan hormon endorfin. Hormon ini berperan meningkatkan tingkat kebahagiaan seseorang. Sekelompok orang yang bernyanyi bersama juga bisa mendapat manfaat lain, dalam bentuk koneksi sosial. Lalu apa hubungannya dengan sepakbola?

Pertandingan olahraga yang melibatkan tim nasional sebuah negara biasanya akan melibatkan kegiatan bernyanyi, yaitu menyanyikan lagu kebangsaan. Kegiatan menyanyi ini bisa menggugah semangat nasionalisme.

Semua pertandingan di kompetisi sepakbola antar negara seperti Piala Dunia, Piala Eropa, Copa América, Piala Asia, sampai yang selevel Piala AFF diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan masing-masing.

Pada studi yang dirilis European Journal of Sport Science pada Februari 2018 disebutkan bahwa menyanyikan lagu kebangsaan dengan semangat akan memberi dampak positif terhadap penampilan pemain di atas lapangan.

Jadi semakin semangat sebuah timnas bernyanyi, maka akan semakin baik juga permainan mereka. Begitu, kan?

Portugal Juara Eropa karena Paling Bersemangat Menanyi Lagu Kebangsaan (?)

Matthew Slater dari Staffordshire University melakukan studi terhadap 51 pertandingan Piala Eropa 2016. Ia dan dua rekannya dari Sekolah Psikologi University of Queensland mengobservasi semangat yang ditunjukkan para “penyanyi dadakan” itu, dalam bentuk verbal maupun non-verbal.

Cara mengukur semangat ini yaitu dengan ekpresi wajah dan bahasa tubuh. Misalnya seberapa dekat para pemain berdiri dan apakah tangan mereka merangkul rekan-rekan mereka, diletakkan di dada, atau bahasa tubuh lainnya.

Mereka menemukan jika tingkat gairah yang para pemain tunjukkan saat bernyanyi lagu kebangsaan bisa memprediksi nasib tim mereka di pertandingan tersebut.

Secara khusus, tim yang para pemainnya bernyanyi dengan semangat akan lebih sedikit kebobolan. Meski demikian, itu hanya berlaku untuk rasio kebobolan, bukan mencetak gol (gairah mereka tak berpengaruh banyak kepada gol mereka).

Sementara pada fase gugur (knock-out) efek ini lebih terasa daripada saat fase grup. Artinya semakin bergairah mereka bernyanyi lagu kebangsaan, maka kemungkinan hasil pertandingan akan positif untuk mereka.

Sebagai contoh nyata, Spanyol dan Swiss adalah dua negara yang dinilai paling tak bergairah saat bernyanyi lagu kebangsaan mereka. Tak mengherankan kemudian keduanya hanya bisa sampai ke babak 16 besar.

Tak usah kaget juga karena lagu kebangsaan Spanyol yang berjudul “Marcha Real” adalah lagu kebangsaan yang tak memiliki lirik.

Sebaliknya, ada Italia (perempat finalis), Wales (semifinalis), Perancis (runner-up), dan Portugal (juara) yang para pemainnya dinilai paling bergairah saat menyanyi lagu kebangsaan mereka.

Gairah Harus Berasal dari Diri Sendiri

Pada sepakbola tingkat tertinggi, segala hal—bahkan detail sekecil apa pun—bisa berpengaruh dan patut dipertimbangkan. Salah satu perintilan yang perlu diperhatikan timnas tentu adalah soal gairah dalam menyanyi lagu kebangsaan ini.

Pada Piala Dunia 2014, Roy Hodgson, Pelatih Inggris, sempat menginstruksikan para pemainnya untuk menyanyikan lagu kebangsaan “God Save the Queen”, salah satu lagu yang memiliki irama penuh gairah meski liriknya tidak demikian.

Namun ini ternyata tak berpengaruh. Di Piala Dunia 2014, Inggris berada pada posisi juru kunci Grup D. Ini menandakan jika gairah para pemain harus hadir dari dalam diri mereka sendiri, bukan sesuatu yang dipaksakan.

Bernyanyi serta menari bersama dengan penuh gairah bisa memengaruhi psikologis. Ini seperti menyiratkan sekelompok pemain yang siap bertarung mati-matian untuk negara mereka. Hal ini dibuktikan oleh Timnas Rugbi Selandia Baru.

Nyanyian dan tarian “haka” sebelum Selandia Baru bertanding rugbi memberi mereka semangat sekaligus lawan terintimidasi. Meski sejujurnya “haka” ini jauh berbeda dengan menyanyikan lagu kebangsaan, tapi yang patut ditiru adalah efek psikologisnya.

Hal itu juga berlaku bagi beberapa pemain yang mengaku lebih bersemangat dan bergairah ketika mendengar lagu anthem Liga Champions. Kalimat penutup “the champions” bahkan dinilai menjadi efek yang paling menggairahkan bagi pemain dan penonton; seperti yang ditunjukkan pada video di bawah ini.

Lagu Kebangsaan Mana yang Paling Menggairahkan?

Kembali ke lagu kebangsaan: jadi, negara mana yang memiliki lagu kebangsaan yang paling menggugah semangat dan gairah?

Sejauh ini belum ada studi yang bisa menjawab itu. Bagi kita, “Indonesia Raya” mungkin terasa sangat menggairahkan. Namun The Telegraph sempat iseng menyusun peringkat gairah lagu kebangsaan berdasarkan musik dan liriknya di Piala Dunia 2018. Siapa pemimpin klasemennya?

Mereka menilai “La Marseillaise” dari Perancis sebagai lagu kebangsaan yang paling menggairahkan. Bukan hanya musik yang menggugah jiwa (meski agak mirip “Dari Sabang Sampai Merauke” versi lebih berapi-api), tapi liriknya menggambarkan keberanian dan perjuangan sampai napas penghabisan dalam membela negara melawan penjajah.

Sumber jurnal:

  • Brisola, E., Cury, V. (2015) Singing your troubles away: The experience of singing from a psychological standpoint – contributions from a heuristic research. The Humanistic Psychologist, 43, 396–408.
  • Edensor, T. (2015) Producing atmospheres at the match: Fan cultures, commercialisation and mood management in English football. Emotion, Space and Society. Volume 15, May 2015, Pages 82-89
  • Jackson, S., Hokowhitu, B. (2002) The New Zealand all Blacks Haka and the Politics of Identity. Journal of Sport and Social Issues, Vol 26, Issue 2, 2002
  • Slater, J., Haslam, S., Steffens, N. (2018) Singing it for “us”: Team passion displayed during national anthems is associated with subsequent success. European Journal of Sport Science, Volume 18, 2018 - Issue 4

Komentar