Seberapa Efisien Pergantian Pemain Saat Turun Minum?

Sains

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor of Pandit Football Indonesia, manager of Box2Box Media Network, podcaster of Footballieur, creative writer of Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Seberapa Efisien Pergantian Pemain Saat Turun Minum?

Saat kita melakukan perubaha, harapan kita tentu saja agar semuanya menjadi lebih baik. Namun, tidak akan selamanya hal ini akan terjadi. Dalam beberapa kejadian, kita akan mengalami saat-saat dimana perubahan tidak membuat keadaan menjadi lebih baik, atau bahkan justru membuat semuanya menjadi lebih buruk.

Paragraf di atas adalah refleksi langsung dari apa yang terjadi pada sepakbola jika kita sudah membicarakan tentang pergantian pemain.

Dalam kamus universal pergantian pemain (yang sayangnya tidak ada), memang tidak terdapat rumus yang mengikat tentang pergantian pemain. Siapa menggantikan siapa, kapan harus melakukan pergantian pemain, dan rumus-rumus lainnya tidak pernah ada dalam sains olahraga sekalipun.

Jika pun kita mau mengacu kepada salah satu riset dari Bret Myers, seorang profesor dari Pennsylvania, maka kita akan mendapatkan waktu ideal melakukan pergantian pemain: yaitu pada menit 58, 73, dan 79.

Myers mengklaim bahwa jika kita mengikuti aturan ini saat pertandingan jika tim sedang kalah, maka probabilitas hasil akhir berupa kemenangan atau imbang akan semakin meningkat. Tapi sayangnya, penelitian ilmiah ini tidak menemukan kesimpulan yang pas jika sudah dikawinkan dengan kehidupan nyata di atas lapangan hijau.

Penyebab pergantian pemain

Seringkali kita berteriak dan frustrasi saat tim yang kita bela sedang kalah, tapi sang manajer tak kunjung melakukan pergantian pemain. Tak jarang juga kita bertanya-tanya saat ada pergantian pemain di menit ke-91.

Tidak seperti sains, pergantian pemain adalah strategi tersendiri dalam sepakbola.

"Pergantian pemain adalah sebuah konsekuensi ketika kita salah membaca permainan," kata Jose Mourinho. "Kita tidak bisa memprediksinya sebelum pertandingan."

Pragmatisme Mourinho ini memang tercermin langsung dalam sikapnya ketika pergantian pemain. Umumnya, jika Chelsea sedang mengejar ketinggalan, ia akan cepat melakukan pergantian pemain. Sebaliknya, jika Chelsea sedang menang, ia akan lambat untuk melakukan pergantian.

Jargon "don't change the winning team" memang terus berkoar saat sedang unggul. Banyak yang berasumsi keseimbangan akan berubah jika melakukan pergantian ketika tim sedang menang, maka kemungkinan seri atau kalahpun akan semakin besar.

Ini juga yang kadang membuat Arsene Wenger jarang menggunakan tiga pergantian pemain dalam satu pertandingan. Ketika menang, ia seringkali menggunakan satu pergantian pemain saja.

Persentase pergantian pemain di Liga Primer Inggris 2013-2014 (sumber: The Telegraph)
Persentase pergantian pemain di Liga Primer Inggris 2013-2014 (sumber: The Telegraph)

Dalam statistik yang dikumpulkan oleh Opta, pada musim lalu Mourinho menjadi manajer yang paling sering melakukan pergantian pemain. Setelah itu ada Garry Monk (Swansea City), Nigel Pearson (Leicester City), Manuel Pellegrini (Manchester City), dan Sam Allardyce (West Ham United).

Sementara manajer yang jarang melakukan pergantian pemain adalah Sean Dyche (Burnley), Paul Lambert (mantan Aston Villa), dan Brendan Rodgers (Liverpool).

Dari data di atas, bisa kita lihat memang tidak ada hubungan langsung dari jumlah pergantian pemain dibandingkan dengan tingkat kesuksesan sebuah kesebelasan. Jadi, motif pergantian pemain adalah sepenuhnya kehendak para manajer.

Hanya saja, kadang keperluan untuk melakukan pergantian pemain bukan hanya soal strategi dan filosofi, tapi lebih kepada faktor stamina pemain, perlindungan untuk pemain yang sudah terkena kartu kuning, ketika adanya kartu merah, pencegahan cedera, atau bahkan alasan paling masuk akal seperti mengganti pemain yang cedera.

Pergantian pemain saat jeda turun minum

Pada pertandingan Piala FA Selasa dini hari lalu (10/03), Manchester United dipecundangi oleh Arsenal 2-1 di Old Trafford. Saat itu setelah jeda turun minum, Louis van Gaal melakukan dua pergantian pemain. Tak tanggung-tanggung, Meneer melakukan dua pergantian pemain sekaligus.

Michael Carrick menggantikan Ander Herrera, sementara Phil Jones masuk menggantikan Luke Shaw. Apapun tujuan Van Gaal, pada akhirnya pergantian pemain di half-time ini yang dianggap menjadi malapetaka untuk United.

Selengkapnya di #AboutTheGame Detik Sports: 'Setan Merah' Kalah Karena Blunder Taktik Van Gaal

Pergantian pemain pada awal babak ke dua ini bisa dibilang "menyalahi aturan", karena dari tiga musim Liga Primer Inggris saja, hanya 17% saja dari seluruh pergantian pemain yang terjadi sesaat setelah jeda turun minum.

Alasan dari sedikitnya angka di atas memang masih belum jelas. Tapi seperti yang disebutkan di atas, biasanya manajer melakukan pergantian pemain secara dini ketika timnya sedang ketinggalan, terutama ketika ketinggalan satu gol.

Efek pergantian pemain saat jeda turun minum ketika kesebelasan sedang kalah  (sumber: Opta)
Efek pergantian pemain saat jeda turun minum ketika kesebelasan sedang kalah (sumber: Opta)

Dari 784 pertandingan yang diambil sampelnya oleh Opta, 27% manajer melakukan pergantian pemain pada saat jeda turun minum saat timnya sedang kalah. Hasilnya? Kemungkinan hasil akhir menjadi imbang justru turun dari 23,4% (jika tidak melakukan pergantian) menjadi 20,6%, namun kemungkinan menang naik dari 8,3% menjadi 13,9%.

Hasilnya dinilai berisiko. Pergantian pemain saat jeda turun minum sudah disinonimkan dengan istilah "kitchen sink" ketika mereka mencoba untuk mendapatkan tiga poin dari posisi kalah.

Kemudian jika kesebelasan sedang unggul, hanya 6% dari seluruh manajer yang melakukan pergantian pada saat jeda turun minum.

Efek pergantian pemain saat jeda turun minum ketika kesebelasan sedang menang  (sumber: Opta)
Efek pergantian pemain saat jeda turun minum ketika kesebelasan sedang menang (sumber: Opta)

Hasilnya adalah sangat kebalikan dari angka sebelum ini. Kemungkinan hasil akhir seri dan bahkan kalah malah semakin tinggi ketika kesebelasan yang menang melakukan pergantian pemain pada detik pertama babak ke dua ini.

Melihat sedikitnya angka di atas, jika dikaitkan dengan motifnya, pergantian seperti ini biasanya dilakukan karena ada pemain yang cedera. kembali ke pernyataan awal tulisan ini, tidak semua pergantian pemain adalah keputusan taktikal.

Efek pergantian pemain saat jeda turun minum ketika kesebelasan sedang imbang  (sumber: Opta)
Efek pergantian pemain saat jeda turun minum ketika kesebelasan sedang imbang (sumber: Opta)

Sedangkan yang dilakukan Van Gaal, yaitu pergantian pemain pada half-time saat sedang imbang hanya terjadi sebanyak 11% saja dari 1.568 sampel pertandingan di Liga Primer.

Perubahan tidak banyak terjadi dengan presentase kemungkinan menang sedikit menurun (31,8% menjadi 31,2%), dan kalah sedikit naik (31,3% menjadi 35,5%).

Kasus Piala Dunia

Pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Amerika Serikat memuncaki Grup C dengan 5 poin meskipun bergabung segrup dengan Inggris. Mereka  harus ketinggalan selama lebih dari 270 menit selama babak penyisihan grup.

Di babak knockout, Amerika Serikat langsung kalah saat berhadapan dengan Ghana setelah perpanjangan waktu, tapi mereka hampir comeback lagi setelah ketinggalan di awal babak pertama.

Dalam setiap pertandingan, dengan pengecualian dari pertandingan melawan Inggris, sebelum babak ke dua, pelatih AS, Bob Bradley, selalu melakukan pergantian pemain.

Melihat kembali kepada Piala Dunia, sejak formatnya berubah menjadi 64 pertandingan di tahun 1998, efisiensi dari half-time substitution mengalami perubahan yang dramatis.

Ketika ketinggalan satu gol saat jeda turun minum, pergantian pemain bisa jauh meningkatkan kemungkinan tim meraih hasil imbang dan bahkan menang.

Efek pergantian pemain saat jeda turun minum ketika kesebelasan sedang kalah di Piala Dunia (sumber: Opta)
Efek pergantian pemain di Piala Dunia saat jeda turun minum ketika kesebelasan sedang kalah (sumber: Opta)

Namun, jika melihat jumlah sampel pertandingan yang hanya 127 pertandingan saja, kita memang tidak bisa membandingkannya dengan Liga Primer.

Jika kita berasumsi bahwa pergantian saat jeda turun minum akan lebih efektif di pertandingan Piala Dunia daripada pertandingan liga normal, maka apa yang membedakannya?

Sebenarnya peningkatan dalam perjudian pelatih lebih masuk akal terjadi di Piala Dunia karena tim yang kalah akan langsung tereliminasi. Tapi itu tidak menjelaskan perubahan dalam efisiensi.

Ini adalah salah satu contoh bagaimana kesesuaian dengan tradisi dalam olahraga membatasi analisis dalam sains. Tapi yang jelas, keputusan ini memang tidak akan secara langsung membuat kita tahu bahwa pergantian pemain saat jeda turun minum adalah "salah" ataupun "benar".

Kecenderungan semacam ini akan kembali membawa kita kepada hasil daripada prosesnya. Itulah kenapa, berubah maupun tidak berubah, kpanpun perubahan itu akan terjadi, tidak ada yang pasti dalam sepakbola.

Baca juga:

Perlukah Sepakbola Melakukan Pergantian Pemain Keempat?

Pergantian Ganda Bielsa Ubah Peruntungan Marseille


Sumber: Opta Sports Pro dan The Telegraph

Komentar