Studi Menunjukkan Wasit Lebih Memihak Tuan Rumah

Sains

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Studi Menunjukkan Wasit Lebih Memihak Tuan Rumah

Masih dalam rangka ulang tahun Pierluigi Collina, wasit paling terkenal di sepakbola hingga saat ini, kami akan mencoba membahas artikel sains sepakbola yang berkaitan dengan wasit.

Akademisi telah membuktikan keluhan para manajer di Liga Primer Inggris bahwa wasit berlaku tidak konsisten dan cenderung mendukung tim tuan rumah adalah benar adanya.

Para peneliti menganalisis lebih dari 2.500 pertandingan Liga Primer, dan menemukan bahwa wasit secara statistik lebih mungkin untuk memberi kartu kuning atau merah terhadap pemain tim tamu, bahkan ketika keuntungan sebagai tuan rumah, pertandingan penting, dan ukuran kerumunan penonton turut diperhitungkan.

Mereka juga menemukan bukti yang jelas dari inkonsistensi antara wasit, dengan beberapa wasit yang secara signifikan akan lebih mungkin untuk menghukum pemain.

Para akademisi di balik studi, yang telah diterima untuk publikasi dalam Journal of the Royal Statistical Society Series A, berharap bahwa penelitian mereka akan memberi otoritas sepakbola bukti kuat yang mereka butuhkan untuk membantu meningkatkan kinerja wasit sepakbola.

"Keputusan yang diambil oleh wasit dapat mempengaruhi hasil dari pertandingan, dan tindakan mereka dapat memiliki konsekuensi keuangan yang penting bagi kesebelasan dan individu yang terlibat," kata Dr. Peter Dawson, seorang penggemar Wigan dan dosen Ekonomi di University of Bath.

"Manajer telah tepat untuk menyoroti inkonsistensi dan keputusan kontroversial dalam pertandingan sepakbola, tetapi tanpa analisis yang tepat dari keputusan wasit selama periode waktu, komentar mereka terlihat seperti keluhan pasca-pertandingan yang sudah biasa, terutama jika mereka berada di pihak yang kalah."

"Bukti yang kami telah kumpulkan dan analisis memberikan dasar faktual yang akan membantu otoritas sepakbola untuk memperdebatkan tindakan positif apa yang mereka mungkin ambil untuk memastikan wasit yang adil dan merata dari pertandingan di masa depan."

"Ini bisa termasuk mendorong wasit untuk menghindari apa yang mungkin menjadi bias yang tidak disengaja terhadap tim tuan rumah dalam pengambilan keputusan mereka, dan memeriksa sejauh mana tindakan korektif diperbolehkan yang dilakukan secara variatif oleh mereka."

Para peneliti, dari University of Bath, St Andrews & Wales, Bangor, dan Otago (Selandia Baru) menganalisis seluruh 2.660 pertandingan yang terjadi di musim Liga Primer Inggris dari 1996/97 sampai 2002/03 untuk pelanggaran disiplin (dalam hal jumlah kartu kuning dan kartu merah yang diberikan) untuk tuan rumah dan tim tamu.

Mereka kemudian mengembangkan persamaan untuk menjelaskan banyak variabel yang berbeda yang dapat menjelaskan variasi dalam jumlah pelanggaran disiplin. Sebagai contoh, mereka diperbolehkan untuk tim bermain lebih baik ketika mereka berada di rumah dan lebih agresif ketika menjadi tim tamu. Untuk pertandingan yang tingkatnya lebih bergengsi, seperti derby, akan lebih banyak terjadi pelanggaran, dan untuk jumlah penonton yang lebih besar bisa berpotensi mempengaruhi keputusan wasit.

Saat menemukan bias tuan rumah yang berbeda dalam tindakan disipliner dan inkonsistensi wasit, penelitian ini juga menyoroti bahwa:


  • tim kuda hitam cenderung dikenakan tingkat sanksi disiplin yang lebih tinggi daripada tim favorit,

  • jumlah pelanggaran cenderung lebih tinggi dalam pertandingan antara tim yang seimbang atau merata, dalam pertandingan yang menentukan hasil akhir klasemen, dan pertandingan dengan kehadiran penonton yang tinggi,

  • tim tuan rumah tampak bermain lebih agresif di depan penonton yang jumlahnya lebih besar,

  • ukuran kerumunan penonton tampaknya tidak mempengaruhi kejadian sanksi disipliner terhadap tim tamu,

  • tidak ada bukti bahwa baik perilaku tim maupun wasit adalah berbeda ketika pertandingan yang disiarkan televisi.


"Lapangan sepakbola adalah seperti sebuah laboratorium bagi para penjahat ekonomi," kata Dr. Dawson, dari departemen Economics & International Development di Universitas.

"Anda bisa memperkenalkan aturan baru atau meningkatkan keparahan hukuman dan kemudian melihat berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk wasit dan para pemain untuk menyesuaikan perilaku mereka."

"Dalam banyak hal, ini mencerminkan perilaku kriminal di jalanan dimana dibutuhkan penjahat dan aparat penegak hukum waktu untuk menyesuaikan diri dengan pelaksanaan undang-undang baru."

"Salah satu contoh disorot dalam temuan kami adalah pengenalan kartu merah otomatis untuk tekel langsung dari belakang di musim 1998/99."

"Musim ini terlihat peningkatan jumlah kartu kuning dan juga kartu merah. Tapi pada akhir musim, wasit telah belajar bagaimana menerapkan aturan secara efektif dan pemain telah menyesuaikan perilaku mereka."

Perilaku pembelajaran semacam ini juga telah diamati di olahraga basket level perguruan tinggi di Amerika Utara. Ketika dua wasit diperkenalkan, ada akibat yang langsung dalam jumlah pelanggaran yang terjadi dalam pertandingan, menunjukkan bahwa kompetensi wasit meningkat, dengan pelanggaran yang lebih sedikit yang tidak akurat.

Sebenarnya "tingkat kejahatan" pasti menurun bahkan lebih dari yang disarankan oleh penurunan jumlah pelanggaran yang disebut.

Peningkatan pemantauan pertandingan seperti penggunaan tayangan ulang video (replay), jelas sesuatu yang harus diperhitungkan dalam sepakbola.

"Sepakbola membutuhkan analisis yang mendalam jika kita ingin melihat perbaikan dalam konsistensi keputusan penting yang dibuat oleh wasit," tutup Dr. Dawson.

Sumber: University of Bath. Soccer Referees Do Favor Home Teams, Study Shows. ScienceDaily. ScienceDaily, 2 November 2006.

Komentar