Denzel Dumfries Membuat Penguasaan Bola Amerika Serikat Terbuang Percuma

Piala Dunia

by Bayu Aji Sidiq Pramono

Bayu Aji Sidiq Pramono

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Denzel Dumfries Membuat Penguasaan Bola Amerika Serikat Terbuang Percuma

Belanda memastikan tempatnya di babak perempat final setelah berhasil menaklukan Amerika Serikat dengan skor 3-1 di Khalifa Stadium, Sabtu (3/11) pukul 10.00 WIB. Belanda mengawali laga dengan sangat agresif hingga membuahkan gol dari kaki Memphis Depay (10’) dan Daley Blind (45’). Amerika Serikat berhasil memperkecil jarak melalui gol Haji Wright (76’) namun Denzel Dumfries (81’) mengubur harapan TheYanks untuk membalikan keadaan. Hasil ini membawa mereka ke perempat final yang ketujuh dalam ajang Piala Dunia.

Louis van Gaal menurunkan kekuatan penuh. Kali ini ia memasangkan Frenkie de Jong dengan Marten de Roon di lini tengah dalam formasi 3-4-1-2.


Di kubu lawan, Christian Pulisic yang terindikasi cedera ternyata tetap tampil sejak menit pertama. Gregg Berhalter justru kehilangan Josh Sargent akibat cedera sehingga tempatnya diisi oleh Jesus Pereira sebagai penyerang tengah dalam formasi 4-3-3. Tyler Adams, Yunus Musah, dan Weston McKennie, tetap menjadi pilihan utama di lini tengah. Mereka bermain lebih rapat ke tengah agar bisa bersaing dengan dua gelandang Belanda sekaligus memberikan ruang kepada bek sayap agar lebih sering melakukan overlap.

Gambar 1 - Sebelas Pertama Belanda dan Amerika Serikat

Secara statistik, Amerika Serikat lebih banyak mendapatkan kesempatan menguasai bola. Tercatat 58,4 persen penguasaan bola ada di kaki The Yanks. Tidak hanya itu, mereka tidak terlalu kesulitan mengirimkan umpan ke dalam sepertiga akhir pertahanan De Oranje. Tercatat 38 persen umpan berhasil mencapai sepertiga akhir. Jauh lebih baik dari Belanda hanya mencapai 21 persen. Tidak heran jika selama laga berlangsung, Amerika Serikat lebih sering melepaskan tembakan dengan total 17 tembakan yang sembilan diantaranya dilepaskan dari dalam kotak penalti.

Keberhasilan sang wakil Benua Amerika tersebut dalam menguasai bola, menciptakan peluang, dan melepaskan lebih banyak tembakan tidak cukup membawa mereka melangkah ke delapan besar. Hal ini disebabkan karena Belanda memiliki beberapa hal yang tidak dimiliki oleh mereka. Pengalaman dan jam terbang tentu jadi faktor kunci. Tapi secara teknis, Belanda juga unggul dalam beberapa hal yang sangat krusial.

Transisi dan Efektivitas

Rencana serangan Berhalter adalah menumpuk banyak pemain di lini tengah lalu menyerang melalui sayap. Ia berusaha memberikan ruang seluas-luasnya bagi dua bek sayap agar rajin melakukan overlap. Harapannya, mereka mampu mengirimkan umpan silang ke dalam kotak penalti atau cutback ke lini kedua. Rencana ini juga membuat Pulisic lebih sering masuk ke tengah sementara Weah tetap menyisi area flank.

Gambar 2 - Ilustrasi Rata-Rata Posisi Pemain Amerika Serikat (kiri) dan Arah Serangan Amerika Serikat (kanan)

Sumber : WhoScored

Jika melihat ilustrasi di atas terlihat Serginho Dest dan Antonee Robinson berada jauh dari posisinya. Hanya menyisakan Tim Ream dan Walker Zimmerman di lini belakang. Keputusan ini memang sering digunakan oleh tim yang sangat mengandalkan serangan sekaligus memiliki kemampuan untuk mempertahankan bola serta memutus serangan balik lawan dengan cepat. Jika tidak, maka ruang yang ditinggalkan kedua bek sayap akan menjadi mimpi buruk.

Mimpi tersebut semakin buruk pada situasi transisi dari menyerang bertahan. Berhalter lupa bahwa Belanda bermain dengan skema 3-4-1-2 yang unggul di sisi sayap. Dumfries dan Blind sebagai bek sayap memiliki waktu dan momen yang cukup ketika transisi dari bertahan ke menyerang. Alhasil lini pertahanan Amerika Serikat sangat kewalahan akibat Robinson dan Dest yang sudah terlalu jauh di depan.

Puncaknya adalah gol dari kaki Depay dan Blind. Dua gol terebut berasal dari sisi kiri pertahanan Amerika Serikat yang dikawal Robinson. Dumfries dua kali melakukan cutback dan keduanya berbuah gol. Hal ini menunjukan bahwa efektivitas Belanda sangat tinggi

Situasi akan membaik jika agresivitas Robinson dan Dest didukung oleh tiga gelandang yang sinergis untuk menutup ruang yang ditinggalkan mereka berdua. Tugas ini idealnya dilakukan oleh Adams sebagai seorang gelandang bertahan. Alternatif lainnya adalah dengan mempercepat reaksi ketika serangan gagal dan bola jatuh di kaki lawan. Tujuannya agar menghentikan serangan balik lawan secepat mungkin.

Komentar