Surat untuk Persebaya

PanditSharing

by Budi Windekind

Budi Windekind

Penikmat sepakbola, khususnya Indonesia & Italia.

Surat untuk Persebaya

Biar jembatan merah
seandainya patah aku pun bersumpah
Akan kunanti dia di sini
bertemu lagi............

Harapan terkadang memang menyakitkan
Tapi kalau tak punya harapan
Apa guna hidup

Uhuk uhuk uhuk

Ke mana Andik Vermansah dan Evan Dimas Darmono melanjutkan karier sepakbolanya diketahui juga oleh publik. Alih-alih terbawa arus rumor dengan pulang ke Persebaya Surabaya, dua pemain jebolan tim internal Bajol Ijo tersebut bergabung dengan Madura United dan Barito Putera. Kami, Bonek, khususnya saya, kecewa.

Keinginan buat melihat keduanya mengenakan kostum hijau-hijau khas Persebaya menguap sekali lagi. Kesempatan membawa pulang mereka ke kota Pahlawan terbuka lebar lebar, lho, setelah Andik dan Evan tak melanjutkan petualangannya di Liga Super Malaysia. Karena itu juga ketika di laga pamungkas Liga 1 musim 2018 melawan PSIS Semarang di Stadion Gelora Bung Tomo ada koreografi spesial yang kami tampilkan buat Andik dan Evan sekaligus sentilan buat manajemen.

Jujur saja, ada harapan tinggi yang bersemayam di dada kami untuk melihat keduanya kembali berjuang dengan seragam Persebaya. Ini bukan sekadar romantisme masa lalu atau kecintaan kami yang kelewat besar terhadap mereka. Buat kami, tak ada pemain manapun yang lebih besar ketimbang Persebaya itu sendiri. Namun menyaksikan tim kesayangan yang dijejali banyak pemain internal dengan kualitas ciamik adalah kebanggaan yang paripurna. Terlebih, Andik dan Evan memiliki nama besar yang bisa menarik atensi lebih Bonek buat memadati Stadion Gelora Bung Tomo setiap kali Bajol Ijo bertanding.

Perlu dipahami juga bahwa keinginan melihat Andik dan Evan mengenakan kostum Persebaya lagi bukanlah sikap tidak menghargai kami kepada para pemain yang ada di skuat dan telah bekerja keras selama dua musim terakhir, utamanya mereka yang lulusan tim internal layaknya Abu Rizal Maulana, Misbakhus Solikin dan Rachmat Irianto ataupun mereka yang berasal dari lingkar luar kesebelasan. Selagi mereka tampil spartan dan bersemangat untuk Persebaya, selama itu pula kami akan memberi dukungan masifnya. Jadi, tak perlu ada yang baper. Percayalah, keinginan Bonek melihat Andik dan Evan pulang hanya demi Persebaya yang semakin tangguh guna mengarungi kompetisi.

Monggo saja tanya suporter Ajax Amsterdam atau Barcelona yang kulturnya amat mengedepankan pemain-pemain asli binaan mereka sebagai penggawa inti dan andalan. Dukungan yang ditunjukkan mereka pada setiap pertandingan, tentu punya aura berbeda. Hal senada pasti bergelora di dada pendukung AC Milan, Arsenal, Chelsea, Inter Milan, Liverpool, Manchester United atau bahkan Real Madrid, kalau tim kesayangan mereka juga diisi produk internal. Seperti itulah sakralnya kebanggaan terhadap tim yang dihuni banyak pemain hasil didikan sendiri.

Betapa bangganya suporter Ajax terhadap Matthijs de Ligt dan Frenkie de Jong. Sergio Busquets, Lionel Messi dan Gerard Pique sangat dicintai oleh Barcelonistas. Pun begitu dengan Milanisti yang tanpa henti memberi dukungan kepada Gianluigi Donnarumma. Bahkan di saat nama-nama itu tengah ada di periode kurang apik, dibekap cedera panjang atau disorot gara-gara membuat blunder pada suatu laga, dukungan untuk mereka bakal selalu ada. Sebuah nilai spesial yang mengerubungi pemain-pemain produk tim internal di mata para suporter.

Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Andik dan Evan sudah pasti membela tim lain yang jadi lawan Persebaya di Liga 1 musim 2019. Di titik ini, Bonek harus memahami pilihan mereka sebagai pemain profesional dan menghormatinya. Sebab sepakbola masa kini adalah sebuah industri yang di dalamnya tak melulu tentang romantisme, tetapi juga untung dan rugi. Lagipula, Andik dan Evan juga mesti berpikir tentang keberlanjutan karier profesional mereka. Kalaupun penasaran dan ingin bertanya mengapa keduanya batal merapat, maka pertanyaan-pertanyaan itu wajib diarahkan kepada pihak manajemen sebab kendali atas proses transfer ada di tangan mereka.

Harapan di musim depan

Di tengah simpang siur waktu penyelenggaraan musim kompetisi 2019, ada harapan besar yang meluap di dada saya, begitu pula dengan Bonek lainnya, terkait penampilan Persebaya. Musim 2018 kemarin, tak ada yang menyangka bahwa performa Bajol Ijo amat fluktuatif.

Sempat menjanjikan di awal, tapi melorot perlahan bak sebuah mobil yang kehabisan bensin sampai terjerembab di zona degradasi. Mau tak mau, manajemen melakukan perubahan di sektor kepelatihan. Alfredo Vera dan Esteban Busto dicopot guna disubstitusi oleh Djajang Nurjaman dan Bejo Sugiantoro. Beruntung, keputusan ini membawa perubahan nyata bagi Persebaya. Mereka mulai konsisten dalam bermain hingga akhirnya keluar dari zona merah dan finis di peringkat lima klasemen akhir.

Kendati demikian, saya tidak ingin menjustifikasi bahwa Djanur, sapaan akrab Djajang, lebih kapabel dibanding Vera sehingga Persebaya sukses bangkit dari keterpurukan. Bagi saya, ada setumpuk variabel yang menjadi faktor kebangkitan tersebut. Tangan dingin pelatih memang menentukan, tapi faktor-faktor lain seperti pergantian manajer tim, jarangnya pemain yang cedera, bagusnya performa pemain yang sempat meredup sampai kritikan membangun Bonek juga memunculkan perubahan itu. Semuanya bersinergi demi kebangkitan Persebaya.

Sebagai pendukung, tentu saya enggan melihat fluktuasi yang terjadi di musim lalu berulang lagi pada musim depan. Persebaya, berikut pembenahan yang mereka lakukan, termasuk mencari pengganti sepadan atau lebih baik dari David da Silva yang seperti dilansir Jawa Pos sudah pasti angkat kaki dari Surabaya, mesti menemukan konsistensinya sedari awal. Dengan begitu, Bajol Ijo akan mampu bersaing.

Saya tak memiliki latar belakang manajerial dalam mengatur atau mengelola perusahaan seperti pihak manajemen. Saya juga tak punya kemampuan dan lisensi kepelatihan seperti para pelatih. Namun sebagai Bonek yang mendukung Persebaya dengan segenap jiwa dan raga, seperti yang lainnya, tentu saya ingin melihat Persebaya jadi semakin berprestasi di tahun-tahun selanjutnya.

#SalamSatuNyaliWani

-Andie Peci, suporter Persebaya

Komentar