Kanibal Bernomor Punggung Sembilan

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Kanibal Bernomor Punggung Sembilan

Hari itu 21 Agustus 2006. Chelsea memperkenalkan pemain baru di Cobham. Bersama dengan José Mourinho, pelatih Chelsea saat itu, si pemain memegang kostum biru bagian belakang bertuliskan “Boulahrouz” dengan nomor sembilan. Transfer itu sempat bikin heboh publik Inggris. Bukan karena nominal transfer, melainkan karena Khalid Boulahrouz adalah pemain bertahan yang diberi nomor punggung tidak lazim.

“Tidak banyak pilihan nomor tersisa saat saya bergabung dengan Chelsea, sehingga saya memilih nomor sembilan. Mourinho pernah menanyakan alasan saya memilih nomor itu. Saya mengatakan bahwa tidak menyukai nomor-nomor besar dan memilih nomor sembilan,” ujar Boulahrouz kepada jurnalis bola.com saat sang pemain berkunjung ke Indonesia pada April 2017.

Dampak penggunaan nomor punggung Boulahrouz adalah mengecoh seorang anak yang saya jumpai di rental PlayStation 2. Kala itu saya kaget ketika si anak mengganti Didier Drogba dengan Boulahrouz. Awalnya saya kira dia sengaja demi keperluan taktik bertahan, tapi saya lebih sering melihat Boulahrouz bermain di area pertahanan lawan, ketimbang pertahanan Chelsea.

Setelah pertandingan usai, si anak saya beri tahu bahwa Boulahrouz bukanlah seorang penyerang, melainkan pemain bertahan. Dia mengaku tertipu dan hanya melihat dari nomor punggung. Bahwa nomor punggung sembilan pastilah penyerang, sehingga tak ragu menjadikannya pemain pengganti Drogba.

Boulahrouz memang pemain yang bisa bermain di berbagai posisi atau lazim dikenal dengan istilah versatile player. Hal ini yang jadi alasan Mourinho untuk merekrutnya dari Hamburger SV. Namun sekali lagi bukan sebagai striker, meski nomor sembilan kerap digunakan oleh pemain depan.

“Dalam skuat ramping dan Anda hanya dapat memiliki enam belas pemain, penting untuk memiliki pemain yang dapat mengaver banyak posisi. Jadi sekarang saya sudah punya [Khalid] Boulahrouz, Ricardo [Carvalho], dan John [Terry] - tiga opsi di jantung pertahanan. Saya memiliki Paulo [Ferreira] dan Boulahrouz - dua opsi untuk sisi kanan. Saya memiliki Boulahrouz dan Wayne Bridge – dua opsi untuk sisi kiri,” ujar Mourinho dilansir dari situs resmi Chelsea.

Selain terkenal bisa bermain di berbagai posisi belakang, Boulahrouz juga terkenal akan reputasinya sebagai pemain yang kasar. Di Jerman, dia bahkan mendapat julukan “si kanibal”. Alasannya karena dia pernah berkomentar akan “memakan” pemain lawan.

“Saya pergi ke Hamburg ketika bahasa Jerman saya tidak begitu baik dan saya mencoba menjelaskan bagaimana saya bermain dengan cara saya. Keesokan harinya, saya baca koran dan melihat `The Cannibal Signs Until 2008`. Sungguh, saya tidak pernah berniat memakan lawan saya,” aku Boulahrouz kepada jurnalis Telegraph.

Boulahrouz adalah pemain yang lahir di Maassluis, Belanda, pada 28 Desember 1981. Sehingga jadi masuk akal jika dia tidak fasih berbahasa Jerman. Namun untuk urusan mencederai dan melukai lawan, dia tidak bisa mengelak begitu saja.

“Seseorang seperti dia (Boulahrouz) seharusnya tidak diizinkan bermain di Bundesliga. Dia seharusnya dikirim ke penjara karena pelanggaran seperti itu,” ujar salah seorang korban keganasan Boulahrouz sebagaimana dilansir Telegraph. Adapun korban yang dimaksud bernama Fatmir Vata, penyerang Arminia Bielefeld. Gara-gara diinjak dengan cukup keras oleh Boulahrouz, Vata menepi selama tiga pekan akibat cedera. Bukan tidak mungkin, Vata senang saat Boulahrouz resmi pindah ke Liga Primer Inggris pada 2006.

Selain Vata, Cristiano Ronaldo dan Luis Figo juga pernah jadi korban. Saat itu sedang berlangsung pertandingan panas atau mungkin bahkan paling panas di Piala Dunia 2006 antara Portugal melawan Belanda. Saya sebut panas karena wasit harus mencabut kartu kuning sebanyak 16 kali dan kartu merah sebanyak empat kali dalam 90 menit. Media-media lantas mengabadikan laga itu dengan sebutan “Battle of Nuremberg”.

Pada menit ketujuh, kaki kanan Boulahrouz mendarat keras di paha kanan Ronaldo. Valentin Ivanov yang memimpin jalannya pertandingan, memberinya kartu kuning. Di babak kedua, wasit memberikan kartu kuning lagi kepada Boulahrouz karena dengan sengaja menyikut Luis Figo.

Setelah Piala Dunia 2006 usai, Boulahrouz ditanya wartawan apakah pelanggarannya ke paha Ronaldo pantas diganjar kartu merah alih-alih hanya kartu kuning. Lantas dia menjawab: “Berarti kamu tidak paham tentang sepakbola. Jika kamu mematahkan kaki lawan, itulah kartu merah,” jawab Boulahrouz sebagaimana dikutip dari Independent.

Saya harus akui, pemahaman Boulahrouz tentang sepakbola cukup unik. Mulai dari pemahamannya tentang standar kartu merah, hingga pemilihan nomor punggung.

Komentar