Pelarian Salvatore Schillaci ke Negeri Sakura

Backpass

by Budi Windekind

Budi Windekind

Penikmat sepakbola, khususnya Indonesia & Italia.

Pelarian Salvatore Schillaci ke Negeri Sakura

Diakui atau tidak, setiap pagelaran Piala Dunia selalu melambungkan satu pesepakbola yang ikut serta bersama tim nasionalnya. Sebagai contoh, Pele melejit di Piala Dunia 1958, Diego Maradona bersinar sepanjang Piala Dunia 1986 serta Zinedine Zidane yang melambung selama Piala Dunia 1998.

Tak ingin ketinggalan, Piala Dunia 1990 pun menyeruak sebagai turnamen spesial bagi Salvatore Schillaci. Dibawa Azeglio Vicini sebagai salah satu opsi di lini depan, awalnya Schillaci disiapkan sebagai pelapis untuk Roberto Baggio, Andrea Carnevale, dan Gianluca Vialli.

Namun performa impresif dan konsisten yang Schillaci tunjukkan walau turun ke lapangan sebagai pemain pengganti di dua laga awal penyisihan grup, bikin Vicini berubah pikiran. Sejak laga ketiga, pria kelahiran Palermo 1 Desember 1964 ini pun mengunci satu tempat di sektor depan.

Keberhasilan Gli Azzurri finis di tempat ketiga pada Piala Dunia 1990 jelas tak bisa dilepaskan dari kontribusi Schillaci yang secara total, menggelontorkan 6 gol sekaligus menahbiskan diri sebagai pencetak gol terbanyak turnamen.

Tak sampai di situ, Schillaci juga dikukuhkan menjadi pemain terbaik turnamen, menyisihkan nama-nama brilian semisal Maradona dan Lothar Matthäus. Momen Piala Dunia 1990 adalah dongeng indah untuk Schillaci.

Merintis karier profesional bareng Messina, Schillaci banyak menghabiskan waktunya untuk berlaga di divisi bawah Liga Italia (Serie C2, Serie C1, dan Serie B). Kesempatan mentas di divisi tertinggi baru didapatnya manakala dicomot Juventus pada 1989. Meski berhasil mengantar I Bianconeri meraup satu gelar Piala Italia dan Piala UEFA (kini Liga Europa), dirinya cuma merumput selama tiga musim di kota Turin.

Perjalanannya kemudian berlanjut ke kota Milano dengan membela Internazionale sejak tahun 1992. Namun sial, performa Schillaci malah merosot tajam akibat gangguan fisik yang tiada henti. Selama dua musim berkostum I Nerazzurri, Schillaci cuma berlaga di 38 pertandingan dan mengepak 13 gol di seluruh ajang.

Cedera memang momok menakutkan bagi para atlet, termasuk Schillaci. Gangguan fisik yang datang silih berganti membuatnya sulit berada dalam kondisi prima. Makin sial, itu berpengaruh pada penampilannya saat membela tim mapan seperti Juventus dan Inter.

Tatkala binar Schillaci semakin meredup dan kariernya di ujung tanduk akibat masalah kebugaran, lelaki setinggi 173 sentimeter tersebut mengambil satu keputusan berani dan esensial bagi keberlanjutan kariernya.

Alih-alih mencari persinggahan baru di Negeri Spaghetti, di divisi bawah sekalipun, Schillaci justru mengiyakan tawaran klub Liga Jepang, Jubilo Iwata. Periode itu sendiri merupakan era awal dibentuknya J.League (liga sepakbola profesional di Jepang). Dirinya pun resmi jadi pemain Italia pertama yang berkarier di Negeri Sakura.

Merumput di lingkungan baru yang berbeda 180 derajat dengan Italia nyatanya tak membuat Schillaci sulit beradaptasi. Pada musim perdananya mengenakan seragam Jubilo, figur yang akrab disapa Toto itu langsung mengepak 14 gol dari 23 partai di seluruh ajang.

Aksi gemilang tersebut rupa-rupanya berhasil diulangi pada musim selanjutnya lewat cara yang lebih spektakuler. Schillaci mampu mengemas 31 gol dalam 34 laga yang dilakoninya. Artinya, Schillaci memiliki rasio 0,91 gol per pertandingan. Sungguh fantastis!

Catatan dua digit gol yang Schillaci bukukan kembali direplikasinya pada musim ketiga pengabdian diri pada Jubilo. Secara keseluruhan, 18 gol dilesakknya pada semua kompetisi. Kolaborasinya bersama Masashi Nakayama (16 gol) di lini serang benar-benar mengerikan untuk tim lawan.

>

Pelatih Jubilo dalam kurun 1994-1996 asal Belanda, Hans Ooft, betul-betul mengerti bagaimana memaksimalkan kemampuan Schillaci yang gesit, lincah, berteknik tinggi, dan oportunis di depan jala lawan.

Akan tetapi, ketajaman Schillaci dalam urusan mencetak gol tidak berbanding lurus dengan prestasi Jubilo di atas lapangan. Bukannya rajin menggamit titel, kesebelasan yang berdiri tahun 1972 ini cuma sanggup menjadi penantang gelar juara. Mereka senantiasa kalah bersaing dari Kashima Antlers, Yokohama F. Marinos, dan Tokyo Verdy (dahulu Kawasaki Verdy).

Di saat Jubilo akhirnya betul-betul memeluk gelar J.League di tahun 1997, peran Schillaci malah merosot karena cuma menyumbang 2 gol saja dari 5 pertandingan dari semua kompetisi. Usut punya usut, di pengujung 1997, Schillaci dihantam lagi oleh cedera sehingga menit bermainnya jadi semakin minim.

Masalah ini pula yang memaksa Schillaci menepi dari lapangan untuk periode yang cukup lama. Akibatnya, masa kerja bareng Jubilo tidak diperpanjang pihak klub dan Schillaci memutuskan buat pulang kampung ke Italia guna memulihkan diri.

Kendati demikian, jangan ragukan ketetapan hati suporter Jubilo untuk senantiasa mencintai Schillaci. Bahkan sampai sekarang, mereka masih acap membicarakan lelaki yang turun di 12 laga dan mencetak 7 gol bagi Italia ini.

Di tahun 1999, Schillaci meyakinkan diri bahwa masa depannya tidak lagi sebagai pemain sepakbola karena kebugarannya tak kunjung kembali ke titik puncak. Hal itu pun menginisiasi Schillaci untuk pensiun dan mengalihkan fokusnya untuk mengembangkan akademi sepakbola kepunyaannya di Palermo.

Ketimbang Alessandro Altobelli, Baggio, Filippo Inzaghi atau Paolo Rossi, figur Schillaci jelas kalah mentereng. Namun setiap kali mengingat Piala Dunia 1990, sulit rasanya untuk tidak mencatutnya sebagai salah satu penyerang ganas milik Gli Azzurri.

Komentar