Perokok Berat sekaligus Pemikir Hebat dari Argentina

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Perokok Berat sekaligus Pemikir Hebat dari Argentina

Berpakaian jas hitam lengkap dengan dasi, sebatang rokok dijepit di mulut, dan rambut menjuntai hingga leher tampak membuat Cesar Luis Menotti seperti aktor Hollywood. Namun pria yang lahir di Rosario, Santa Fe, pada 5 November 1938 itu adalah pahlawan Argentina di bidang olahraga sepakbola. Argentina berhasil menjadi juara Piala Dunia untuk kali pertama ketika Menotti menjabat sebagai pelatih.

Sebelum jadi pelatih, Menotti adalah pesepakbola yang berposisi sebagai penyerang. Dia sempat berkostum Timnas Argentina sebanyak sebelas kali sebelum pensiun pada 1969. Satu tahun setelah gantung sepatu, Menotti pelesiran ke Meksiko dengan hanya ditemani beberapa bungkus rokok. Alasannya pergi murni ingin menonton Piala Dunia secara langsung di stadion-stadion Meksiko.

Momen inilah yang kemudian menginspirasi seorang Menotti. Piala Dunia 1970 seakan jadi pintu gerbang yang memaksanya masuk ke dalam dunia kepelatihan sepakbola. Menotti tersihir dengan permainan Timnas Brasil dan olah bola Pele yang pada tahun itu memang keluar sebagai yang terbaik di dunia.

Sepulang dari Meksiko, ia menengadah ke langit Argentina. Lantas menyalakan sebatang rokok, lalu menghisapnya dalam-dalam. Sambil dikepung asap rokok hasil hembusannya sendiri, Menotti berikrar: “Argentina juga harus bisa juara dunia!”

Kegagalan Timnas Argentina di Piala Dunia 1974 jelas bukan kabar baik bagi masyarakat Argentina. Namun hal itu jadi pertanda baik bagi Menotti, karena pada Agustus 1974, atau beberapa bulan setelah kepulangan tim dari Jerman Barat, Menotti ditunjuk sebagai pelatih baru Albiceleste.

Di bawah asuhan Menotti, Argentina tampil lebih menyerang. Hasratnya untuk selalu menang dalam setiap pertandingan membuat Menotti seakan tidak punya pilihan selain menyerang dan mencetak gol. Baginya, sepakbola adalah soal seberapa manjur suatu tim dapat mencetak gol lalu memenangkan pertandingan.

Menotti bahkan secara terang-terangan menolak permainan bertahan. Prinsip sepakbola menyerang ini terbukti saat Argentina jadi juara dunia pada 1978. Kala itu, anak-anak asuh Menotti berhasil mencetak 15 gol sepanjang turnamen—pada Piala Dunia 1974, Argentina mencetak sembilan gol saja.

“Dalam setiap pertandingan sepakbola selalu ada risiko. Satu-satunya cara menghindari risiko tersebut adalah dengan tidak usah bertanding,” kata Menotti dalam sebuah wawancara. Kutipan itu kemudian terkenal dan makin menegaskan ciri khas permainan sepakbola Amerika Selatan yang berani tampil menyerang.

Selain itu, sosok Menotti tidak bisa dipisahkan dari kutipan tentang sepakbola sayap kiri dan sayap kanan. Tidak hanya politik yang mengenal istilah “sayap kanan” dan “sayap kiri”, sepakbola pun demikian. Bagi Menotti, akan selalu ada ideologi dalam sepakbola.

Sebagai seorang yang tumbuh besar di kawasan industri kereta api dan pelabuhan, tak sulit rasanya bagi Menotti untuk belajar sosialisme. Apalagi pada 1942, kawasan Rosario sempat bergejolak karena nasionalisasi perusahaan pelabuhan. Menotti yang saat itu masih balita memang tidak mengalami langsung peristiwa bersejarah itu. Namun dia tumbuh dalam percakapan sehari-hari yang menarasikan perjuangan kaum buruh dalam “mengusir” kaum pemilik modal.

Meski tidak secara eksplisit menyatakan sepakbola versinya adalah sepakbola sayap kiri, tapi Menotti pernah mengejek sepakbola sayap kanan. Menotti berkata: “sepakbola sayap kanan ingin memberi sugesti bahwa hidup adalah perjuangan. Oleh karena itu menuntut pengorbanan. Para pemain harus jadi baja dan menang dengan metode apa pun, patuh, dan berfungsi. Itulah yang diinginkan dari para pemain. Begitu cara sepakbola sayap kanan membuat orang-orang idiot yang berguna mengikuti sistem.”

Baginya, sepakbola adalah soal efektivitas. Dia juga menegaskan bahwa efektif tidak lepas dari permainan indah. Ingat, pemahaman tentang permainan indah ini ia dapatkan selama di Meksiko dan terilhami oleh gaya permainan Brasil. Para pemain dituntut lebih kreatif di lapangan karena sesungguhnya sepakbola adalah alat untuk bergembira.

Tumbuh besar di lingkungan yang suhu rata-rata tahunan mencapai 16 derajat celcius membuat Menotti akrab dengan rokok demi menghangatkan tubuh. Kebiasaan merokok sudah dilakukannya sejak remaja. Intensitas merokok semakin meningkat ketika menjadi pelatih Argentina.

Belakangan, kebiasaan merokok ini juga ditiru oleh anak asuhnya. Mario Kempes, striker andalan Argentina sekaligus top skor Piala Dunia 1978, mengaku sering merokok untuk meredakan ketegangan selama Piala Dunia.

“Tidak banyak, mungkin sekitar 10-12 batang rokok per hari. Banyak dari kami yang melakukannya. Kami biasanya saling berbagi satu batang rokok dengan [penjaga gawang ketiga] Hector Baley di belakang bus tim dalam perjalanan ke stadion,” kenang Kempes kepada jurnalis FourFourTwo.

Apakah sang pelatih mengetahuinya? Dalam artikel itu tak dijelaskan, tapi sangat jarang para pemain dan pelatih berangkat menuju stadion secara terpisah. Jadi sangat mungkin Menotti melihat para pemainnya merokok lalu membiarkan mereka, atau malah ikut merokok bersama pemain demi melemaskan urat-urat syaraf yang tegang sebelum pertandingan.

Pada 2011, dia dirawat secara intensif di rumah sakit Italiano, Buenos Aires. Dokter menyatakan paru-paru kanan Menotti terinfeksi cukup parah. Bukan kabar mengejutkan, mengingat dia perokok berat sepanjang hidupnya. Sehingga operasi medis saja tidak cukup jika Menotti ingin hidup panjang. Gaya hidup El Flaco (Si Kurus) juga harus diubah jika ingin hidup lebih lama. Artinya, konsumsi rokok sang legenda harus segera disudahi.

Namun rekomendasi medis itu tampaknya hanya sekadar catatan belaka. Pada bulan Mei lalu, surat kabar El Pais memberitakan bahwa Menotti sangat merindukan rokok yang sudah menjadi sahabat karib sepanjang hidupnya.

“Aku merindukan rokok ketika sepi. Kemarin, ada seorang pria mengambil sebuah Habano [merek cerutu] di dekat pintu sebuah bar dan berkata: `Oh maaf, aku akan pergi` dan aku mengatakan kepadanya: `Tidak perlu, mendekatlah!`”

Hari ini, usianya tepat 80 tahun. Dengan paru-paru yang sudah compang-camping, dia masih tetap menikmati hidup. Ketika dia merevolusi skuat Argentina dengan permainan indah yang menyerang, banyak dari warga Argentina yang menikmati hasil karyanya. Menotti akan selalu hidup selama-lamanya dalam memori kolektif masyarakat Argentina.

Komentar