Juara Asia Pertama

Backpass

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Juara Asia Pertama

Ada 47 negara anggota Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) pada 2018. Dari semua negara itu, Korea Selatan menobatkan diri sebagai juara Asia yang pertama. Mereka menjadi juara Piala Asia AFC pada 15 Oktober 1956. Namun perjuangan mereka untuk menjadi juara tidak sesederhana itu. Ada banyak perjuangan terlebih dahulu yang harus dilakukan untuk membangun AFC sebagai badan sepakbola tertinggi pada benua terbesar di dunia.

Dalam rangka mempertegas kedaulatan sepakbola di kawasan Asia, tepat pada 8 Mei 1954 AFC didirikan di Manila, Filipina. Pembentukan AFC terjadi di sela-sela penyelenggaraan Asian Games 1954 yang berlangsung di Filipina. AFC terbentuk sehari sebelum Asian Games edisi kedua itu ditutup. Meski begitu, AFC baru diakui sebagai anggota konfederasi benua FIFA pada 21 Juni 1954.

Agenda besar AFC baru dimulai pada 1956, saat Piala Asia pertama digulirkan pada 1 September dengan Hong Kong yang kala itu ditunjuk sebagai penyelenggara. Sebanyak 11 negara pelopor pembentukan AFC yang terdiri dari Afghanistan, Burma (Myanmar), Republic of China (Tionghoa Taipei), Hong Kong, Iran, India, Israel, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Pakistan, Filipina, Singapura, dan Vietnam Selatan ambil bagian dalam babak kualifikasi.

Setelah babak kualifikasi rampung digelar, hanya empat kesebelasan yang terdiri dari Hong Kong, Korea Selatan, Israel, dan Vietnam Selatan yang dinyatakan lolos ke putaran final. Karena hanya ada empat kesebelasan, turnamen pun diselenggarakan dengan format liga (setengah kompetisi).

Korea keluar sebagai juara setelah menduduki peringkat pertama di akhir turnamen dengan perolehan lima poin, hanya unggul satu angka dari Israel di posisi kedua. Perjalanan Korea untuk meraih gelar juara Asia pertama dimulai pada 6 September di Government Stadium, Hong Kong. Menghadapi tim tuan rumah, Kim Ju-Sung dkk hanya mampu bermain imbang 2-2.

Namun pada pertandingan kedua menghadapi Israel, Korea akhirnya berhasil membukukan kemenangan tipis 2-1. Hingga akhirnya mereka pun memastikan gelar juara setelah mengalahkan Vietnam Selatan 5-3 pada 15 September 1956.

***

Dua tahun berselang, Korea kembali menjadi juara di Piala Asia edisi kedua. Situasinya jauh lebih mudah bagi Korea untuk meraih gelar kedua mereka di di turnamen terbesar di Asia itu lantaran mereka kala itu berstatus sebagai tuan rumah. Taeguk Warriors bahkan sudah memastikan gelar juara, dua hari sebelum turnamen di tutup.

Kepastian tersebut didapat setelah mereka menang 1-0 atas Taipei di Hyocang Stadium, 21 Oktober 1960. Kemenangan atas Taipei mengukuhkan posisi Korea di puncak klasemen dengan perolehan enam poin, unggul dua angka dari Israel ditempat kedua.

Sayangnya setidaknya sampai 2018—ketika mereka menjuarai Asian Games 2018—dua gelar yang diraih Korea Selatan di Piala Asia 1958 dan 1960 menjadi yang terakhir. Meski begitu, gelar ganda yang diraih Korea pada dua edisi Piala Asia pertama mempertegas dominasi Taeguk Warriors sebagai kekuatan besar di sepakbola Asia.

Maklum, sebelumnya pada 1954, Korea menjadi tim Asia kedua yang mampu berlaga di pentas Piala Dunia setelah Hindia Belanda (Indonesia) pada 1938.

Di pentas Piala Dunia, Korea pun tercatat sebagai tim Asia dengan penampilan terbanyak sampai Piala Duia 2018, yaitu 10 kali. Lebih dari pada itu, Korea juga menjadi tim Asia dengan laju terjauh di Piala Dunia, setelah mereka mampu menembus babak semifinal di Piala Dunia 2002.

Sebuah prestasi yang membanggakan bagi Korea, yang perkembangan sepakbola-nya bisa dibilang lamban. Ben Weinberg, dalam bukunya yang berjudul ‘Asia and the Future of Football: The Role of the Asian Football Confederation’ menyebut bahwa sepakbola Korea baru menggeliat di awal abad ke-20.

Weinberg menyebut beberapa faktor yang membuat evolusi sepakbola Korea terhambat, salah satunya kondisi geopolitik Korea. Di tahun 1928, Korea sebenarnya sudah membentuk federasi sepakbola sendiri (KFA). Namun karena saat itu Korea dalam pengaruh kolonialisme Jepang, perkembangan sepakbola di Negeri Ginseng itu pun terhambat.

Kolonialisme Jepang membuat para pemain Korea kesulitan untuk tampil di ajang internasional. Bila ingin mencicipi persaingan di kancah internasional, para pemain asal Korea harus bermain untuk Timnas Jepang. Tapi bukan perkara mudah bagi pemain Korea untuk menembus skuat Jepang. Misalnya di Olimpiade 1936, Jepang hanya memberi kesempatan bagi dua pemain asal Korea untuk ambil bagian di dalamnya.

Namun setelah perang dunia ke-2 berakhir, perubahan mulai tampak dalam perkembangan sepakbola Korea. Pada 1945, status KFA pun dipulihkan dan tiga tahun kemudian, KFA pun terafiliasi dengan FIFA.

Setelah itu sepakbola Korea pun mulai menggeliat, ditandai dengan keberhasilan mereka menembus putaran final Piala Dunia 1954 di Swiss. Pencapaian hebat kemudian ditorehkan Korea di dua edisi Piala Asia pertama 1956 dan 1960, saat mereka mampu meraih gelar juara.

Namun setelah itu, prestasi Korea di ajang Internasional tampak mengalami penurunan. KFA kemudian mengambil langkah untuk memajukan kembali sepakbola Korea dengan pembentukan kompetisi profesional.

Pengelolaan kompetisi dan pembinaan pemain yang berjalan baik, membuat Korea kembali mengaum sebagai macan asia pada medio 1970-an, ditandai dengan keberhasilan mereka meraih medali emas di sepakbola Asian Games 1970. Dua tahun kemudian, Korea juga mampu menjadi runner-up Piala Asia. Lebih dari pada itu, pada 1986 Korea akhirnya mampu menuntaskan penantian selama 30 tahun lamanya untuk kembali berlaga di Piala Dunia.

Komentar