Kedekatan Sepakbola Indonesia dengan Mi Instan

Backpass

by Dex Glenniza Pilihan

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Kedekatan Sepakbola Indonesia dengan Mi Instan

Meski Indonesia memiliki banyak makanan enak, termasuk makanan daerah masing-masing, tapi ada satu makanan yang paling lekat dan paling mencerminkan Indonesia sebagai Bhinneka Tunggal Ika. Makanan tersebut adalah mi instan.

Menurut KBBI, mi (bentuk baku dari “mie”) adalah bahan makanan dari tepung terigu, bentuknya seperti tali, biasanya dimasak dengan cara digoreng atau direbus, diberi daging, udang, sayuran, bumbu, dan sebagainya.

Pada 2017, World Instant Noodles Association melaporkan jika Indonesia mengonsumsi 12,6 miliar bungkus mi instan. Indonesia menempati peringkat kedua di bawah Tiongkok/Hong Kong (38,9 miliar) dan di atas negara penemu mi instan, Jepang (5,6 miliar) di posisi ketiga.

Meski menempati runner-up, angka ini turun 500 juta dari tahun sebelumnya.

Kenapa Mi Instan Booming di Indonesia?

Bagi Indonesia, mi instan sudah menjadi keseharian. Dalam sebuah penelitiannya yang berjudul Instant noodle boom in Indonesia: A commodity chain analysis study, Mutiara Sri Dewi menjelaskan jika meledaknya konsumsi mi instan di Indonesia diawali dari pertengahan 1960-an.

Saat itu Soeharto baru menggantikan Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia. Pada 9 Oktober 1968, Soeharto memutuskan pemerintah Indonesia akan mengimpor 390.000 ton terigu (bahan baku mi) dari Amerika Serikat.

Keputusan ini diambil karena kebutuhan pangan sedang meningkat menjelang Lebaran saat itu.

Terigu dihasilkan dari gandum. (Secara tidak langsung terigu memang berarti gandum—serapan bahasa Portugis “trigo” yang artinya “gandum”.) Kenapa saat itu Indonesia mengimpor terigu dan gandum? Masalahnya, gandum bukan tanaman asli Indonesia. Gandum adalah tanaman subtropis.

Konsumsi tinggi Indonesia kepada mi instan berarti meningkatkan angka impor terigu, meski pada akhirnya banyak produk mi instan Indonesia yang diekspor ke luar negeri.

Untuk menghindari impor terigu, pada 1970 Indonesia kemudian membangun tiga pabrik olahan gandum, sehingga Indonesia bisa menghasilkan terigu sendiri. Akhirnya impor dialihkan menjadi gandum, bukan terigu.

Tahun 1970 ini yang kemudian menjadi tonggak sejarah mi instan di Indonesia. Salah satu produk mi instan yang melekat dengan Indonesia, Indomie, dibuat pertama kali tepat hari ini —9 September—pada 1972.

Dahulu Indomie diproduksi oleh PT. Sanmaru Food Manufacturing Co. Ltd., dan pertama kali hadir dengan rasa ayam dan udang.

Mi Instan Biasa Dikonsumsi Penonton dan Bahkan Pemain

Jika dari tadi membicarakan sejarah mi instan, kemudian apa hubungan mi instan dengan sepakbola Indonesia?

Suporter sepakbola Indonesia adalah orang yang rata-rata dekat dengan mi instan. Tak sedikit dari mereka yang kecanduan. Mereka terbiasa menonton bola ditemani mi instan, terutama jika kelaparan saat begadang. Kemudian sesaat setelah bermain sepakbola atau futsal juga santapan yang paling pas adalah mi instan, baik digoreng maupun direbus.

Baca juga: Verifikasi Instan Khas Indonesia

Selain penonton, sebenarnya pemain sepakbola Indonesia juga dekat dengan mi instan.

Pemain sepakbola juga sama dengan orang biasa. Jika malam hari lapar, ya, paling gampang bikin mi. Juga tidak ada larangan khusus buat pemain makan mi instan, hanya saja tentu tidak dilakukan setiap hari. Hanya saat kepepet saja.

“Lagipula mi instan termasuk makanan yang enak sehingga kadang kangen juga makan mi Indonesia di luar negeri,” itu pengakuan Yanto Basna, pemain Indonesia yang sedang bermain di Thailand. Secara spesifik ia menyimpan banyak produk Indomie di tempat tinggalnya di Khon Kaen.

Meski demikian, salah satu nutrisionis Indonesia, Emilia Achmadi, pernah mengatakan jika kebiasaan mengonsumsi mi instan tidak baik bagi pesepakbola.

“Pola makan [pesepakbola Indonesia] sama seperti pola makan rata-rata. Maksudnya, ya, sama saja seperti orang lain, seperti makan nasi putih pakai ayam goreng, minumnya teh botol. Kadang ada juga yang makan mi instan sembunyi-sembunyi, makan gorengan, santan,” kata Emilia, dikutip dari Wartakotalive.

Selain penonton dan pemain, beberapa kesebelasan dan acara olahraga di Indonesia juga disponsori mi instan. Bali United dan Arema FC disponsori oleh Indomie. Produk mi instan ini bahkan menjadi sponsor tunggal saat Bali berkiprah di Liga Champions AFC.

Indofood, produsen Indomie, juga menjadi salah satu sponsor pada Asian Games 2018 lalu. Produk mi instan tersebut juga sempat heboh pada 2016 saat muncul di adboard pertandingan Leicester City pada Liga Primer Inggris.

Tidak bisa dipungkiri, sebagai salah satu produk mi instan yang lekat dengan Indonesia, Indomie juga sudah terkenal sampai ke luar negeri. Indomie sekarang tersedia di lebih dari 60 negara, bahkan dinobatkan sebagai mi instan paling populer di Afrika.

Sudah Menjadi Budaya

Selain melalui produknya, mi instan juga hadir sebagai budaya di sepakbola Indonesia, meski untuk yang satu ini memiliki konotasi negatif. Pelatih Borneo pada 2018, Dejan Antonic, pernah menyampaikannya pada konferensi pers.

“Saya sering bilang tidak ada sepakbola yang instan. Sepakbola bukan seperti mi goreng yang cuma dimasukkan ke air panas, dan kemudian bisa langsung dimakan,” kata Dejan.

Ia berbicara seperti itu karena ia dituntut untuk selalu menang. “Saya bisa mengerti semua ingin menang. Tapi kalau kita ingin menang terus, Indonesia sudah ikut Piala Dunia. Hal seperti itu tidak boleh, harus ada proses,” lanjutnya.

Bambang Pamungkas juga pernah menulis pada 2016 di blognya: “Bangsa kita itu suka segala sesuatu yang instan. Budayanya instan, mienya instan, buburnya juga instan, oleh karena itu suksesnya pun kalau bisa juga dengan cara yang instan. Ini yang salah, ini yang harus dirubah, dan ini yang harus segera kita perbaiki.”

Suka atau tidak suka, budaya instan memang sudah melekat di Indonesia, termasuk di sepakbola. Mi instan adalah salah satu menu yang paling mencerminkan hal tersebut. Jika ketika atau setelah membaca tulisan ini kamu jadi ingin makan mi instan, maka kamu berarti 100% orang Indonesia. He he he.

Komentar