Jalan Panjang Melewati Garis Gawang

Backpass

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Jalan Panjang Melewati Garis Gawang

Pada 5 Juli 2012 IFAB (International Football Association Board) secara resmi mengizinkan penggunaan teknologi garis gawang di sepakbola. Hal tersebut diputuskan dalam rapat istimewa di Zurich, Swiss. Sebagai catatan, pembuat aturan sepakbola internasional adalah IFAB; FIFA hanya menjalankannya.

Izin penggunaan teknologi garis gawang diberikan setelah serangkaian uji coba digelar selama sembilan bulan di Inggris, Jerman, Hungaria, dan Italia. Delapan perusahaan ikut serta dalam uji coba tersebut, namun hanya dua yang berhasil. Hawk-Eye dan GoalRef pun berhak menjadi pemegang lisensi teknologi garis gawang FIFA.

Perusahaan yang memenangi tender teknologi garis gawang di Piala Dunia 2014, walau demikian, bukan keduanya. Yang mendapat kehormatan tersebut adalah GoalControl, perusahaan asal Jerman. Gelaran Piala Dunia 2018 juga menggunakan teknologi garis gawang dari perusahaan yang sama.

Wacana penerapan sistem yang pembantu wasit menentukan tercipta atau tidaknya gol sendiri sudah ada sejak, setidaknya, 1999. Saat itu FIFA memberi izin kepada Federasi Sepakbola Inggris untuk mengembangkan teknologi garis gawang sebelum musim 1999/2000 berakhir. Cara apa yang akan digunakan sendiri masih belum ditentukan.

Fast forward ke Juni 2006, FIFA menyatakan tidak akan mempertimbangkan penggunaan bukti video atau teknologi garis gawang jenis apa pun sampai sistem yang tersedia bisa diandalkan sepenuhnya.

Isu penerapan teknologi garis gawang kembali mencuat ke permukaan setelah sundulan Patrick Vieira, yang bisa membawa Perancis unggul dua gol atas Korea Selatan di menit ke-32 pertandingan matchday dua Grup G Piala Dunia 2006, dinyatakan bukan gol oleh wasit utama Benito Archundia. Setahun sebelumnya FIFA menguji coba penggunaan chip dalam bola pada ajang Piala Dunia U17 di Peru.

November 2006, Sepp Blatter (saat itu masih Presiden FIFA) mengatakan teknologi garis gawang akan digunakan di kejuaraan akbar FIFA pada akhirnya. Hanya saja, serangkaian uji coba masih harus digelar. Di antaranya pada Piala Dunia Antarklub 2007. David Will, anggota Komite Eksekutif FIFA dan IFAB, mengatakan FIFA mulai membuka diri terhadap penggunaan bukti video di pertandingan profesional.

Maret 2010, Sekjen FIFA Jerome Valcke mengumumkan bahwa setelah FIFA dan IFAB menggelar pertemuan untuk membahas teknologi garis gawang, “sebuah keputusan untuk tidak menerima teknologi telah diambil. Ini akhir dari kemungkinan penerapan teknologi dalam sepakbola.”

Pengumuman dari Valcke seolah mempertegas rapat Maret 2008, yang juga menghasilkan penolakan terhadap penggunaan teknologi garis gawang. Dari rapat itu malah dihasilkan keputusan untuk menguji coba penggunaan asisten wasit gawang.

Tentu saja itu bukan keputusan final. “Gol” Frank Lampard ke gawang Jerman di pertandingan 16 besar Piala Dunia 2010 membuat Blatter meminta maaf kepada federasi sepakbola Inggris dan berjanji akan kembali menghidupkan kemungkinan penggunaan teknologi garis gawang di sepakbola.

“Jelas sekali setelah semua yang terjadi di sejauh ini di Piala Dunia ini, akan tidak masuk akal jika berkas teknologi tidak kembali dibuka di pertemuan bisnis IFAB pada Juli,” ujar Blatter dalam sesi media briefing pada 29 Juni 2010 di Johannesburg, Afrika Selatan.

“Secara pribadi saya sangat menyayangkan terjadinya kesalahan wasit yang sangat jelas tapi ini bukan akhir dari kejuaraan dan bukan akhir dari sepakbola, yang seperti ini bisa terjadi.

“Satu-satunya yang bisa saya lakukan kemarin adalah berbicara dengan kedua federasi (Inggris dan Meksiko) yang secara langsung menerima akibat dari kesalahan wasit. Saya telah menyampaikan permintaan maaf kepada keduanya dan mengerti jika keduanya tak senang, dan jika orang-orang melayangkan kritik.

“Kami akan menggelar diskusi mengenai teknologi pada kesempatan terdekat pada pertemuan bisnis bulan Juli.”

Komentar