Pasang Surut Prestasi Lech Poznan

Backpass

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Pasang Surut Prestasi Lech Poznan

Lechia Gdansk mendapat sambutan tak mengenakan saat bertandang ke markas Lech Poznan, Stadion Miejski, Sabtu (17/3) dini hari WIB. Di salah satu sudut tribun stadion, sebuah spanduk putih dibentangkan suporter tuan rumah bertuliskan: “Lechia Gdansk Sial Pelacur” — Mungkin maksudnya "Lechia Gdansk Pelacur Sialan".

Di sisi kanan spanduk tersebut, tercantum pula gambar wajah seseorang bermata sipit dengan ikat kepala bertuliskan ‘Lechia’.

Ketika foto spanduk tersebut menyebar di media sosial, warganet Indonesia bersikap paling reaktif. Berbondong-bondong mereka menyerang kolom komentar di beberapa unggahan foto dalam akun Instagram Lech Poznan.

Warganet Indonesia meyakini bahwa tulisan kasar dan gambar wajah seseorang dengan kulit berwarna coklat serta bermata sipit yang ada di spanduk tersebut sebagai ejekan kepada Egy Maulana Vikri, yang belum lama ini diperkenalkan sebagai pemain baru Lechia.

Dalam beberapa hari terakhir, nama Egy menjadi sorotan publik sepakbola Polandia. Keberhasilan Lechia memboyong bintang timnas Indonesia U-19 itu juga membuat popularitas Lechia meningkat, khususnya di Indonesia.

“Popularitasnya (Egy) sungguh luar biasa. Sejak transfer Egy diumumkan, respons publik sangat besar, bisa dilihat dari media sosial kami, termasuk di Instagram,” kata juru bicara Lechia, Jakub Staszkiewicz, dilansir dari Przeglad Sportowy.

Belum bisa dipastikan bahwa spanduk yang terbentang di salah satu sudut tribun Stadion Miejski itu sebagai bentuk penghinaan kepada Egy. Namun tidak menutup kemungkinan, spanduk tersebut dibentangkan sebagai upaya intimidasi untuk menurunkan mental pemain Lechia saat menghadapi Poznan.

Melihat dari sudut pandang rivalitas, konon, pendukung Poznan punya hubungan yang kurang harmonis dengan pendukung Lechia. Dilansir dari berbagai sumber, pendukung Poznan juga punya rivalitas sengit dengan suporter Legia Warsawa. Bentrokan antara Poznan melawan Legia Warsawa pun kerap disebut derbi Polandia karena panasnya tensi pertandingan tersebut.

Tapi selain dengan Legia Warsawa, pendukung Poznan pun memiliki rivalitas dengan suporter Lechia Gdansk, Wisla Krakow, dan Slask Wroclaw. Hal itu dikarenakan ketiga kelompok suporter tersebut bermusuhan dengan pendukung Arka Gdynia dan KS Cracovia yang bersekutu dengan suporter Poznan. Afiliasi tiga kelompok tersebut dikenal dengan sebutan Wielka Triada atau The Great Triad.

Di Polandia, pendukung Poznan pun dikenal sebagai kelompok suporter garis keras. Entah sudah berapa banyak rekam jejak perkelahian dan kerusuhan yang melibatkan mereka. Salah satu yang paling diingat adalah bentrokan dengan suporter FK Sarajevo pada Juli 2015 lalu. Saat itu kedua kelompok suporter terlibat kericuhan di salah satu sudut kota Sarajevo. Akibatnya, 27 orang terluka akibat insiden tersebut. Parahnya, sembilan korban luka berasal dari pihak kepolisian yang mencoba melerai massa.

Selang dua bulan kemudian, pendukung Poznan kembali berulah. Kali ini bukan soal kerusuhan antar suporter, melainkan aksi protes partisan Poznan kepada UEFA yang ingin menyumbang setiap 1 euro dari hasil penjualan tiket pertandingan Liga Europa kepada pengungsi di Eropa. Mereka mengancam akan memboikot laga antara Poznan melawan Belenenses. Dilansir dari The Guardian, dalam pertandingan yang berkesudahan dengan skor imbang 0-0 itu, pendukung Poznan membentangkan spanduk bertuliskan: "Ini jelas dan sederhana bagi kami, kami tidak menginginkan pengungsi di Polandia".

Setiap kelompok atau individu pasti memiliki sisi negatif dan positif. Begitu pula dengan pendukung Poznan. Biar bagaimanapun, mereka telah menjadi inspirasi bagi banyak kelompok suporter di seluruh dunia karena perayaan Poznana. Perayaan tersebut dilakukan dengan cara membelakangi lapangan lalu merangkul orang di sampingnya sambil melompat-lompat kecil.

Sejak tahun 1961, perayaan Poznana sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari aksi suporter Poznan di stadion saat mendukung tim kebanggaannya. Hingga saat ini, perayaan Poznana jamak dilakukan oleh banyak kelompok suporter sepakbola di seluruh dunia, terutama Inggris.

***

Poznan tidak hanya dikenal karena suporter garis kerasnya, namun juga sebagai salah satu kesebelasan sukses di Polandia. Sepanjang sejarah perjalanan klub, sejak terbentuk pada 19 Maret 1922, Kolejorz telah mengoleksi tujuh gelar Ekstraklasa, lima Piala Polandia, dan enam Piala Super Polandia.

Jumlah trofi yang dimiliki Poznan memang bukan yang terbanyak di ranah sepakbola Polandia. Namun melalui prestasi tersebut mereka menjadi salah satu kesebelasan paling populer di Polandia. Poznan pun disebut-sebut sebagai kesebelasan dengan basis suporter terbesar di Polandia.

Di tahun-tahun awal kelahirannya, Poznan sebenarnya bukan kesebelasan besar. Di tahun 1947, saat Federasi Sepakbola Polandia (PZPN) membentuk Ekstraklasa sebagai divisi teratas kompetisi Polandia, Kolejorz tak masuk dalam kualifikasi klub yang dianggap layak berkompetisi di level utama.

Poznan mengajukan banding sebagai upaya untuk berkompetisi di Ekstraklasa. Akhirnya dalam sebuah pertemuan khusus, PZPN pun memperbolehkan Poznan berkompetisi. Akan tetapi alih-alih prestasi, hingga era 1960-an, mereka tak lebih dipandang sebagai kesebelasan medioker yang sering terdegradasi.

Popularitas Poznan baru menanjak di medio 1970-an saat prestasi mereka di kompetisi domestik mulai menanjak. Pada 1972, Poznan menjamu Zawisza Bydgoszcz. Saat itu stadion penuh sesak dengan 60 ribu pasang mata yang menyaksikan langsung pertandingan tersebut. Sejarah mencatat bahwa jumlah penonton di laga tersebut merupakan yang terbanyak dari jumlah penonton di pertandingan lainnya kala itu.

Poznan semakin populer setelah meraih gelar pertamanya di Ekstraklasa pada 1982. Setelah itu, setidaknya dari tahun 1982 hingga 1992, Poznan menikmati era keemasan. Mereka dipandang sebagai raja sepakbola Polandia kala itu dengan torehan tujuh gelar juara di ajang domestik (empat trofi Ekstraklasa dan tiga Piala Polandia).

Kejayaan tersebut berakhir jelang era milenium tiba. Pada akhir musim 1999/2000, Poznan terdegradasi ke divisi dua. Selama dua tahun mendekam di divisi dua, Poznan bangkit dan kembali promosi di musim 2001/02.

Butuh waktu dua tahun bagi Poznan untuk kembali ke divisi teratas. Namun kejayaan tentu tak bisa diraih dalam sekejap mata. Selama kurang lebih lima tahun lamanya, Poznan berjuang untuk kembali menggapai kejayaan yang lama hilang. Hingga pada musim 2008/09, benih-benih kejayaan itu pun mulai terlihat setelah Franciszek Smuda didatangkan menjadi arsitek tim.

Smuda membentuk tim yang kuat dengan mendatangkan pemain potensial seperti Robert Lewandowski, Hernan Rengifo, Semir Stilic, Marcin Zajac, dan Rafal Murawski. Di musim pertamanya membesut Poznan, Smuda sukses mengantar Kolejorz finish di tempat ketiga Ekstraklasa. Tak hanya itu, Smuda juga membawa Poznan meraih gelar di ajang Piala Polandia. Kebersamaan Poznan bersama Smuda hanya berlangsung selama tiga musim. Di akhir musim 2008/09, ia hijrah ke Zaglebie Lubin, sebelum akhirnya menangani timnas Polandia.

Tampuk kepelatihan Poznan diambil alih Jacek Zielinski. Warisan Smuda dimanfaatkan dengan baik oleh Zielinski untuk membawa tim Poznan semakin berprestasi. Di bawah asuhannya, Poznan menjadi juara di Ekstraklasa musim 2009/10. Setelah itu, banyak pemain andalan Poznan yang pergi.

Salah satunya Lewandowski yang memutuskan hijrah ke Borussia Dortmund. Meski begitu Poznan tetap mempertahankan tajinya sebagai kesebelasan papan atas Polandia. Buktinya, mereka kembali meraih gelar juara di Ekstraklasa pada musim, 2014/15. Saat itu tim ditangani Maciej Skorza.

Komentar