Penyesuaian Budaya yang Melahirkan Indoor Soccer

Backpass

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Penyesuaian Budaya yang Melahirkan Indoor Soccer

Sejak tahun 1900-an, orang-orang Amerika Serikat sudah memainkan olahraga di dalam ruangan (indoor), tak terkecuali untuk sepakbola yang mereka sebut dengan soccer. Indoor soccer sendiri mulai ramai pada tahun 1950-an setelah dibentuknya American Soccer League indoor tournament.

Dianggap lebih menghibur daripada sepakbola outdoor, indoor soccer tidak mengenal out sehingga bola tak bisa keluar lapangan dan tak ada waktu yang terbuang untuk mengembalikan bola ke dalam lapangan. Tidak ada out juga berarti semakin banyak aksi di lapangan – argumen yang bisa diterima.

Namun, karena memang dasarnya bukan budaya mereka bermain sepakbola, pamor indoor soccer tak bertahan lama sebagai olahraga hiburan yang digemari masyarakat Amerika Serikat. Meski demikian, semuanya berubah kembali pada 11 Februari 1974, hari di mana pamor indoor soccer naik kembali.

Pada hari itu, Uni Soviet melalui Soviet Red Army berkunjung ke Amerika Utara untuk bertanding indoor soccer. Sebenarnya pertandingan pertama mereka berlangsung pada 7 Februari 1974 di Toronto menghadapi tim NASL (North American Soccer League) All-Star. Soviet menang 8-4. Akan tetapi, pertandingan kedua empat hari kemudian menjadi pertandingan yang ramai diperbincangkan.

Untuk pertandingan kedua, Soviet melakukan perjalanan ke Philadelphia untuk melawan juara NASL, Philadelphia Atoms.

Jumlah penonton saat itu mencapai 12.000 di The Spectrum. Pertandingan indoor soccer dilangsungkan menggunakan rumput sintetis Astroturf yang dipasang di atas permukaan es karena stadion tersebut biasa dipakai olahraga hoki es.

Baca juga: Membandingkan Sistem Kandang-Tandang dengan Budaya Play-Off Amerika

Seperti pertandingan hoki es (NHL) juga, pertandingan menggunakan tiga periode yang masing-masingnya berlangsung selama 20 menit. Kedudukan sempat imbang 3-3 tapi pada akhirnya Soviet menang 6-3.

Sejarah kemudian terjadi karena salah satu penonton pertandingan itu, Ed Tepper, menjadi salah satu pencetus Major Indoor Soccer League (MISL), sebuah liga indoor soccer yang memainkan sepakbola 6 vs 6.

MISL semakin mempopulerkan indoor soccer

Tepper, seorang pengusaha properti, membentuk MISL pada 1977. “Itu bukan olahraga paling populer di dunia, soccer, yang kami akan mainkan di dalam ruangan,” kata Tepper, dikutip dari FourFourTwo. “Itu adalah bisnis pertunjukan olahraga (athletic showbusiness).”

Memiliki skor yang kecil, sepakbola terlihat tidak cocok dengan budaya Amerika Serikat seperti basket, bisbol, hoki es, dan american football. Oleh karena itu, sepakbola yang dimainkan indoor, dikombinasikan dengan bir, burger, dan pemanas ruangan, diharapkan bisa membuat MISL berjaya.

Baca juga: Mengenang Kelahiran Major Indoor Soccer League

“Apa yang kami lakukan adalah menangkap seni pertandingan outdoor dan menambahkannya cita rasa Amerika,” kata Earl Foreman, komisinoner MISL dan salah satu pemilik tim NFL, Philadelphia Eagles, yang juga mempelopori NASL.

“Ada skor yang besar dan [hiburan di] time-out. Itu dipisahkan menjadi periode 15 menit. Kami memiliki kontak fisik dan aturannya sederhana. Semua orang bisa menikmatinya,” lanjutnya. Peraturan indoor soccer dapat dilihat pada tautan berikut ini.

Pada masa tersebut, dilaporkan jika jumlah gol bisa mencapai 10 sampai 20. Rekor jumlah tembakan tercatat pada 1980 dengan 165 tembakan tepat sasaran (shot on target) dalam satu pertandingan.

Obsesi Amerika soal angka dan statistik juga terjembatani dengan kehadiran indoor soccer di mana angka gol, asis, dan nilai pemain sama menariknya dengan olahraga lainnya. Suporter menilai MISL lebih sukses dibandingkan dengan hasil 1-0 “membosankan” yang sering ada di NASL.

Andy Chapman, salah satu pemain indoor soccer saat itu, berpendapat jika olahraga ini berhasil menyatu dengan budaya Amerika. “Aku bermain di St. Louis, mereka sangat gila, ada 18.000 orang menonton pertandingan sepakbola indoor pada 1980-an, itu adalah angka yang lebih besar daripada Divisi Pertama Inggris (saat itu belum ada Liga Primer Inggris),” katanya.

Baca juga: Tak Ada Tempat untuk Sepakbola di Media Amerika Serikat

Craig Allen, pemain lainnya, menambahkan: “Bisingnya [penonton] luar biasa. Aku sempat menonton Final Piala FA 1986 antara Liverpool dan Everton, dan [jumlah penonton] itu cuma setengahnya MISL.”

Angka penonton tertinggi yang tercatat saat itu adalah 20.000 di Midwest dengan rata-rata 7.644 penonton di seluruh Amerika Serikat. Pada seri ketujuh final 1987 bahkan tercatat ada 21.728 penonton.

Pada 1980-an itu lah indoor soccer, melalui MISL, berhasil merajai olahraga di Amerika Serikat. MISL saat itu dilaporkan lebih populer daripada basket.

Kesuksesan mereka merambat ke NASL yang mencoba bergabung ke MISL pada musim dingin karena di musim dingin mereka masih bisa bermain di lapangan tertutup dengan pemanas serta penonton yang banyak.

Kejatuhan indoor soccer

Kesuksesan indoor soccer dan MISL berlangsung lama, setidaknya sampai 1990-an. Namun setelah itu, MISL berhenti beroperasi pada 1992, dua tahun sebelum Piala Dunia FIFA 1994 di Amerika Serikat.

Kita sempat diingatkan kembali dengan indoor soccer karena permainan ini sempat muncul di gim FIFA 97 dan FIFA 98 buatan EA Sports.

Baca juga: Minat Menonton Sepakbola di Amerika Meningkat karena Video Game

Hal yang membuat mereka tak laku lagi adalah televisi. Saat itu indoor soccer disiarkan bukan di prime-time dan banyak tim berinvestasi secara sembarangan. Akan tetapi, kesuksesan MISL untuk sepakbola Amerika ditularkan ke MLS, liga dengan pendekatan bisnis, sejalan juga dengan kematian NASL.

Pada 2001, MISL sempat bangkin kembali sampai 2014. Sementara saat ini warisan indoor soccer di Amerika ada di tangan Major Arena Soccer League. Namun bukan hanya di Amerika Serikat sebenarnya, indoor soccer juga memiliki kejuaraan reguler di Inggris, Spanyol, dan Brasil.

***

Mengingat Amerika Serikat, kita tak akan menemukan banyak kisah sepakbola yang mainstream. Salah satu contohnya adalah indoor soccer ini yang merakyat setelah sebuah pertandingan persahabatan iseng dari Uni Soviet pada 11 Februari 1974.

Namun, kesuksesan indoor soccer dan Major Indoor Soccer League (MISL) diklaim memiliki dampak kepada olahraga yang lebih populer di Amerika Serikat sekarang, seperti bola basket.

“Hiburan kami (indoor soccer) dicap sebagai liga jazz minor,” kata Earl Foreman, komisioner MISL. “Kemudian tiba-tiba kamu nonton NBA All-Star dan jika kita merunut sejarah, mereka menjiplak MISL,” klaimnya.

Komentar