On This Day 1973, Ryan Giggs Sang Anak Ajaib Lahir ke Bumi

Backpass

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

On This Day 1973, Ryan Giggs Sang Anak Ajaib Lahir ke Bumi

Ryan Giggs adalah yang paling dielu-elukan dari generasi itu. Dia juga yang paling dikenali sebagai anak ajaib. Ketika dia kami beri kesempatan main untuk pertama kali di tim utama pada umur 17, kami mendapat masalah yang tak terduga: fenomena Giggs.- Sir Alex Ferguson

Memang tidak ada bab khusus berjudul Ryan Giggs dalam autobiografi Sir Alex yang terbit pada 2013 lalu. Namun, dalam bab berjudul “Class of 92”, Giggs mendapat porsi yang lebih banyak ketimbang kompatriotnya. Giggs, bersama Scholes, adalah dua pemain dari Class of 92 yang memulai karirnya bersama Sir Alex, dan terus bersama hingga Sir Alex menutup karir.

Di Manchester United, Giggs tampaknya akan selalu berada di Old Trafford. Setelah pemecatan David Moyes, santer terdengar kabar bahwa Giggsy—panggilan sayang dari Sir Alex—akan menjadi nahkoda masa depan United. Bukan sekarang memang, karena ia mesti mendapat pengalaman terlebih dahulu dari seseorang hebat penuh pengalaman bernama Louis van Gaal.

Dalam buku autobiografi tersebut Giggs seolah menjadi anak kesayangan Sir Alex. Giggs mampu menerjemahkan keinginan sang pelatih dengan tepat. Misalnya, saat ia ditodong untuk wawancara atau ditawari pekerjaan di tempat lain, Giggs selalu mengarahkannya langsung pada Sir Alex. “Dia cerdas,” ungkap Sir Alex.

Ryan Giggs telah bermain sebanyak 672 pertandingan dan mencetak 114 gol bagi Manchester United. Klub satu-satunya yang ia bela sepanjang hidupnya. Debutnya di liga terjadi pada 2 Maret 1991, kala menghadapi Everton. Dalam pertandingan yang berkesudahan 0-2 untuk kemenangan Everton itu, Giggs masuk sebagai pemain pengganti karena cederanya Denis Irwin.

Giggs memulai musimnya secara reguler pada 1991/1992. Semenjak itu, ia selalu dipasang Sir Alex di sisi kiri serangan United. Capaian Giggs bersama United memang mengesankan. Ia berhasil meraih 13 trofi Premier League, atau sekitar 65 persen dari total trofi Liga Inggris yang diraih United. Ia juga berhasil membawa “Setan Merah” dua kali menjuarai Liga Champions, empat kali Piala FA, dan tiga kali Piala Liga.

Giggs memang tidak memenangi penghargaan macam Balon d’Or. Namun, sejumlah penghargaan seperti “PFA Team of The Year”, “PFA Player of The Year”, “PFA Young Player of The Year”, “BBC Sports Personality of The Year”, hingga “Golden Foot” pernah diraihnya.

Namun capaian tersebut tak begitu mentereng ketika ia bermain untuk timnas Wales. Ini juga merupakan pengaruh komposisi skuat Wales yang tak sekuat timnas Inggris misalnya, sehingga Wales jarang bermain di Piala Eropa dan Piala Dunia.

Melihat capaian tersebut, tak aneh rasanya jika Giggs mendapat polling tertinggi yang diadakan majalah dan situs Manchester United pada 2011 sebagai “Manchester United’s Greatest Ever Player”.

Tampaknya, untuk sepuluh hingga dua puluh musim ke depan kita masih akan menyaksikan penampilan Giggs di Old Trafford. Bukan sebagai pemain, tapi (bisa saja) sebagai manajer baru United dan mengembalikan kejayaan Setan Merah seperti pada masa Sir Alex Ferguson.

Sumber gambar: Dailypost.co.uk

Komentar