The Two Escobars

Film

by Andreas W. Marbun

Andreas W. Marbun

Board of director.

The Two Escobars

Bila kematian Andres dan Pablo Escobar diratapi ribuan orang di Kolombia, maka itu bukan hal yang aneh. Pada masanya, kedua orang yang tak memiliki tali hubungan darah ini memang jadi orang yang sangat berpengaruh dan dianggap sebagai penyelamat bangsanya.

Film berdurasi 104 menit ini mencoba menuturkan dengan dramatis kontrasnya kehidupan di antara keduanya. Andres hidup dalam kebanggaan di lapangan hijau, sementara Pablo di dalam politik berdarah yang telah mengubah tatanan negara yang bernama Kolombia.

Ya, walau sama-sama dibesarkan di jalanan Medellin, keduanya memang tidak memiliki hubungan darah. Pablo adalah pimpinan kartel narkoba yang hidupnya berakhir dengan tembakan peluru di tubuhnya. Sementara Andres adalah penggawa tim nasional Kolumbia yang turut membawa negaranya ke putaran final Piala Dunia 1994. Bahwa hidupnya juga berakhir tragis dengan tembakan peluru, selang beberapa minggu setelah gol bunuh dirinya, mungkin jadi cara semesta untuk bercanda dengan tragedi manusia.

Jika Pablo Escobar dianggap musuh negara sebelum kematiannya, bahkan hingga ada perang terhadap ia dan kartelnya, maka tidak untuk Andres. Kematiannya terasa begitu mendalam bagi negara yang terletak di utara Amerika Latin ini. Pemerintah Kolombia membangun patung untuk menghormati jasanya, 120 ribu orang menghadiri pemakamannya. Hingga saat ini pun masih banyak orang yang masih membawa dan mengenakan baju bernomor punggung 2, nomor baju yang dipakai Andres selama kariernya.

Film dokumenter yang dibuat oleh dua bersaudara film maker, Jeff dan Michael Zimbalist, ini adalah film pertama yang bercerita tentang Pablo Escobar, dan kecintaannya akan sepakbola. Sebelumnya, sutradara terkenal Oliver Stone pernah berniat membuat film Pablo dengan judul Killing Pablo berdasarkan novel milik Mark Bowden. Namun, karena alasan yang tidak jelas film tersebut tidak pernah diproduksi. Novel tersebut juga tak banyak menceritakan kisah Pablo yang berkaitan dengan sepakbola.

Beda halnya dengan The Two Escobars. Film yang dibuat dalam rangka memperingati 30 tahun stasiun televisi olahraga ESPN ini merekam jelas hubungan sepakbola dan kemanusiaan. Pembuat film Jeff dan Michael Zimbalist berbagi kisah nyata luar biasa dari dua orang ini melalui cuplikan-cuplikan video yang detail dan kaya akan data serta cerita. Selain itu, kehidupan keduanya pun secara gamblang dituturkan melalui wawancara orang-orang terdekatnya.

Pablo Emilio Escobar Gaviria

Oleh tangan kanannya, John Jairo Vesasquez alias "Popeye", Pablo digambarkan sebagai tokoh kharismatik nan mematikan dari daerah kumuh Medellin. Di film ini Popeye yang diwawancarai dari balik tembok penjara, mengaku pernah membunuh ratusan orang termasuk di antaranya melakukan pengeboman pesawat milik lawan politik Pablo Escobar. Pablo sendiri dikenal sebagai pimpinan kartel narkotika yang sering menggunakan jalan kekerasan untuk mempertahankan wilayah kekuasan perdagangannya. "Drug Lord", begitu Amerika sering menyebutnya.

Penyelundup narkotika skala besar, Pablo memiliki jaringan pengedar narkotika yang pemasok utama narkoba di Amerika Serikat. Istana kediamannya dilengkapi dengan lapangan bola dan landasan pesawat. Pablo juga memiliki tentara bayaran dalam jumlah besar untuk menghabisi lawan untuk mempertahankan kekuasaan.

Namun, di balik semua aksinya itu, banyak masyarakat miskin Kolombia yang menganggap Pablo sebagai pahlawan rakyat. Ia membangun lapangan sepakbola, perumahan murah, memberikan makanan gratis, dan membangun banyak klinik pengobatan serta memberikan hiburan sepakbola dengan mengumpulkan pemain-pemain bagus dari Kolombia ke klubnya Atletico Nacional. Pablo juga yang mengubah Medellin dari yang semula daerah kumuh menjadi areal terkemuka. Bagi banyak orang, Pablo adalah sosok yang murah hati bagi kaum miskin, namun kejam untuk lawannya.

Popeye juga menggambarkan Pablo sebagai makhluk yang berbeda dengan politisi yang hanya berjanji tapi tidak pernah mewujudkannya. Pablo juga memutuskan maju menjadi politisi, lalu terpilih jadi anggota parlemen, guna mendapatkan hak istimewa sebagai anggota parlemen yaitu hak untuk mendapatkan suaka politik.

Pablo lantas terlibat dan melibatkan diri dalam sepakbola profesional karena dia memang mencintai sepakbola. Walau tak dipungkiri dia juga harus mencuci uang haramnya menjadi bisnis yang sah dalam sepakbola.

Film dokumenter ini menceritakan jelas struktur bisnis Pablo, keluarganya, dan bagaimana ia membangun jaringan narkotika. Juga cerita tentang ia yang membangun sepakbola Kolombia dengan uang hasil perdagangan narkotika serta aksi kekerasannya di sepakbola. Salah satu contohnya adalah saat Pablo memerintahkan anak buahnya untuk membunuh wasit yang memimpin pertandingan saat Atletico Nacional menelan kekalahan.

Tak terbatasnya kekuasaan Pablo ini terlihat nyata dalam upayanya mengubah aturan tentang ekstradisi. Hakim yang mengurusi masalah ini pertama-tama akan ia suap agar menuruti keinginannya. Jika tak mempan, maka ancaman kematian terhadap diri dan keluarganya-lah yang jadi senjata Pablo. "Perak atau timah (peluru)" atau "plata o plomo" jadi kiasan yang mewarnai kekuasaan Pablo. "Jika disuruh memilih, maka pilihlah perak setiap kali," tutur sang narator film.

Salah satu perang Pablo dengan mafia narkotika lain juga digambarkan dalam film ini. Adalah Rodriguez Orejuela, pimpinan kartel narkotika lain yang juga ikut menyemarakkan persepakbolaan Kolombia dengan uang haramnya. Pemilik klub America de Cali tersebut menjadi rival Pablo, baik di wilayah perdagangan narkotika maupun di Liga Nasional Kolombia.

Sebagai pemilik klub, dia sangat serius membangun tim. Hampir semua pemain utama Kolombia di masa itu bermain di klubnya. Prestasi paling monumentalnya adalah menjadi klub Kolombia pertama yang meraih Piala Libertadores, lambang supremasi tertinggi di Amerika Latin. Saat jadi juara Libertadores pada 1989 itu, semua pemainnya adalah pemain Kolombia, tanpa pemain asing. Itu sebabnya tim itu dijuluki Puros Criollos [Pure Colombians atau Kolombia yang Murni].

Andres Escobar Saldarriaga

Oleh pecinta sepakbola, nama Andres Escobar diabadikan dalam ingatan tentang pemain yang mati ditembak setelah gol bunuh dirinya di Piala Dunia 1994. Namun banyak dari kita yang tidak tahu kisah tentang sosok Andres sebelum kabar kematian itu datang, sebelum ia ditembak enam kali di dalam mobil yang terparkir di tempat hiburan malam di Medellín.

Andres Escobar adalah salah satu atlet Kolombia terbaik dan paling dihormati. Seorang pemain sepakbola berbakat, ia mempunyai karakter yang kuat yang membuatnya menjadi panutan. Andres bahkan memimpin timnya lolos ke Piala Dunia 1994. Penting diingat sekali lagi, Pablo Escobar tidak memiliki hubungan darah dengan Andres, tetapi mereka mengenal satu sama lain dengan baik. Pablo adalah pemilik klub Atletico Nacional tempat Andres bermain.

Film ini sendiri dibuka dengan cuplikan gol bunuh diri Andres Escobar di Piala Dunia 1994, lalu dilanjutkan dengan cerita Kolombia yang sedang bereuforia dengan tim nasionalnya yang lolos ke Piala Dunia.

Para pembuat film kemudian menceritakan dua Escobar dalam berbagai sisi. Pertama adalah dari sisi cuplikan pemberitaan yang berlebihan. Lalu dari sisi pertandingan serta kemenangan yang bercampur dengan kekerasan, baik di perdagangan narkotika maupun pertandingan sepakbola. Hubungan antara sepakbola dan narkotika ini kemudian diistilahkan baik sebagai "narco-soccer" yaitu bagaimana perang narkotika juga terjadi di lapangan sepakbola.

Film ini juga bercerita tentang dramatisnya kehidupan Andres. Sebelum nasib tragis terjadi dalam satu momen gol bunuh diri, Andres berdiri sebagai panutan dan idola nasional, dicintai oleh fans dan rekan tim. Kesaksian dari saudara kandung serta tunangannya menggambarkan Andres sebagai seorang pemain yang berjuang demi kebaikan tim yang tak suka menghadiri pesta.

Bahwa ia kemudian mati ditembak di pelataran parkir sebuah tempat hedonis, lagi-lagi, bak menunjukkan tragedi bahwa nasib baik tak selalu datang menghampiri ia yang dielu-elukan orang banyak.

Kejadian itu tak lama setelah tim Kolombia pulang kampung usai tersingkir di babak grup. Andres sudah diperingatkan untuk tidak ke luar rumah. Tapi ia bersikeras. Ia mengatakan bahwa rakyat yang kecewa karena gol bunuh dirinya ke gawang Amerika Serikat bisa melihat dirinya tetap ke luar rumah, dan siap bertanggung jawab.

Saat itu, Andres sedang berada di puncak kariernya. Menjelang Piala Dunia 1994 itu dia sedang didekati oleh beberapa klub Italia, termasuk AC Milan. Sangat menyentuh menyimak bagaimana tunangan dan kakak perempuan Andres mengisahkan harapan Anders untuk membangun keluarga yang bahagia di tanah rantau Italia -- mimpi yang kandas secara tragis.

Ambiguitas Moral dalam Sepakbola

Zimbalists Bersaudara sebagai sutradara film ini sadar akan ambiguitas moral antara penjahat dan pemerintah di Amerika Selatan. Film ini sepenuhnya memanfaatkan ironi yang melekat dalam Pablo, yang kekuasaannya hampir tak terbatas. Pablo yang berjuang mengubah undang-undang ekstradisi, ketika dirinya menjadi anggota parlemen, lalu Pablo yang menyatakan perang terhadap pemerintah setelah ia lengser.

Dalam beberapa aspek, di film ini terlihat fenomena olahraga sebagai pemersatu, terutama jika kita mengingat kekerasan yang kerap terjadi di Kolombia. Sepakbola bisa jadi obat mujarab untuk menyembuhkan akal sehat. Baik itu bankir, dokter, kelas menengah, ataupun kelas bawah, saat mereka melangkahkan kaki ke dalam stadion, maka semua jadi orang yang sama.

Tapi patut diingat bahwa sepakbola di Kolumbia bisa dikatakan sebagai pemersatu justru ketika uang haram narkoba masuk ke sepakbola. Suntikan dana inilah yang kemudian menciptakan hingar bingar kompetisi, sepakbola glamor dan kemudian mengantarkan negara itu ke Piala Dunia 1994 dengan catatan yang memukau -- termasuk mengalahkan Argentina di Buenos Aires dengan skor telak 5-0. Akan tetapi, di saat sepakbola Kolombia berada di puncak prestasi tertingginya, kedua Escobar itu meninggal ditembak secara mengenaskan.

Kematian Andres sendiri tidak pernah dijelaskan dan dipertanyakan secara utuh. Fakta yang melekat pada kematiannya hanyalah ia ditembak oleh seorang petugas klub malam. Pertanyaan yang terlontar oleh tunangannya, mengenai mengapa seorang petugas keamanan sampai menembakkan pistolnya dalam situasi tak berbahaya, hanya mendapat porsi sebentar di akhir film.

Pablo maupun Andres meninggalkan jejak baik pada sepakbola negaranya. Andres akan dikenang selalu oleh masyarakat Kolumbia, begitu juga Pablo yang diingat baik oleh orang-orang yang merasakan kemurahan hatinya: rumah murah, klinik kesehatan gratis dan tempat bermain sepakbola.

Film ini juga bisa dijadikan kisah peringatan bagi Anda yang coba berandai-andai dengan pertanyaan "Apa yang akan terjadi jika negara Anda dijalankan oleh penjahat?"

Jawabannya mungkin adalah apa yang disimpulkan Francisco Maturana, pelatih timnas Kolombia saat itu: "Kolombia telah hilang kendali, dan setiap tatanan masyarakat yang dibangun atas pondasi yang rusak, ditakdirkan untuk runtuh. Begitu juga sepakbola."

Komentar