Tentang Sponsor di Kostum Kesebelasan Negara

Football Culture

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Tentang Sponsor di Kostum Kesebelasan Negara

Sering terbersit pertanyaan mengapa kostum kesebelasan negara tidak dipenuhi oleh sponsor. Brasil misalnya. Mereka setia dengan kostum kuning-hijau tanpa embel-embel apapun kecuali lambang federasi, nama pemain,dan nomor punggung. Padahal sejumlah kostum sejumlah kesebelasan Brasil seringkali dipenuhi oleh logo sponsor.

Tapi pertanyaan sebenarnya adalah: bolehkan ada logo sponsor di kostum kesebelasan negara?

Sejumlah kesebelasan negara umumnya memiliki sponsor tersendiri. Mereka biasanya menyimpan logonya di kostum latihan. Misalnya yang dilakukan Inggris yang bekerja sama dengan “Vauxhall”. Logo “Vauxhall” pun hadir tapi hanya di kostum latihan.

FIFA sebagai badan tertinggi di sepakbola turut mengatur kostum kesebelasan di pertandingan resmi FIFA, baik itu babak kualifikasi, turnamen, maupun sekadar pertandingan persahabatan. Dari sini bisa diambil kesimpulan kalau kesebelasan negara sah-sah saja menerakan logo sponsor di luar pertandingan resmi FIFA. Hal ini yang pernah dilakukan Perancis dengan logo “Carrefour” dan kesebelasan negara Irlandia dengan logo “3”.

Bukan cuma logo sponsor, FIFA pun melarang segala hal yang tidak berkaitan dengan sepakbola dan mengandung unsur-unsur politis, agama, atau pernyataan pribadi. Hal tersebut tidak terbatas pada kostum yang digunakan untuk bertanding, tetapi juga pada alat kelengkapan pemain seperti kaus dalam.

Terkait sponsor, FIFA memberi pengecualian untuk produsen penyedia kostum (apparel). Mereka diperbolehkan bersanding dengan logo federasi di bagian depan. Meskipun demikian, FIFA pun membatasi ukuran dan penempatan logo apparel.

Corak Kostum


Kamerun di Piala Afrika 2002 foto: rediff.com

Pada dasarnya FIFA mempersilakan penyedia kostum untuk sekreatif mungkin dalam mendesain kostum timnas. Namun, FIFA juga punya aturan agar desain tersebut sesuai dengan standar estetika yang mereka tetapkan.

Salah satu contohnya adalah Kamerun yang akan bertanding di Piala Afrika 2004. Kala itu, Puma sebagai pemasok kostum mendesain kostum yang memperlihatkan lekuk tubuh setiap pemain. Sepp Blatter yang kala itu menjabat Presiden FIFA, menyatakan kostum Kamerun bertentangan dengan “Rule of the Game”.

Ini bukan pertama kali Kamerun berurusan dengan FIFA terkait kostum. Pada Piala Afrika 2002, Kamerun tampil berbeda dengan mengenakan kostum tanpa lengan. FIFA melarang kostum tersebut dipakai di Piala Dunia 2002.

Puma pun sempat meradang karena kostum tersebut sebelumnya telah disetujui oleh Konfederasi Sepakbola Afrika, CAF. Ini yang membuat Kamerun terpaksa menggunakan “kostum baru” yang lebih mirip dengan kostum hitam dilapisi dengan kostum tanpa lengan.

Terkait Sponsor Lain


Salah satu yang dikhawatirkan FIFA dengan membiarkan kehadiran sponsor adalah merusak integritas permainan. Hal ini menjadi penting karena sepakbola amat mengandalkan integritas dan kepercayaan. Apabila hal tersebut dilanggar, maka sepakbola tidak lagi menarik. FIFA beranggapan kehadiran sponsor di kostum kesebelasan bisa menjaga agar tidak ada tuduhan pengaturan oleh sponsor yang sama.

Selain itu, FIFA sebagai lembaga independen, mesti mementingkan sponsor eksklusif yang telah bekerja sama dengan mereka. Sponsor-sponsor tersebut menjadi tulang punggung turnamen terutama soal pembiayaan. Kehadiran sponsor di luar sponsor eksklusif membuat nilai tawar FIFA atas sponsor tersebut menjadi rendah.

Aturan ini sebenarnya bukan cuma dimiliki oleh FIFA, tapi juga oleh operator kompetisi di sejumlah negara. Mereka biasanya memberi syarat tidak diperbolehkannya sponsor dengan dengan tipe sejenis dengan sponsor utama. Hal serupa pernah terjadi di Indonesia dan menimpa Arema. Kala itu Arema memiliki sponsor rokok di dada, pun dengan sponsor utama Liga Indonesia.

Membatasi Apparel


Apparel mendapat posisi istimewa di kostum kesebelasan negara. Meskipun demikian, FIFA pun membatasi logo apparel di kostum dengan alasan estetika. Mereka pun tidak bisa dengan bebas menggunakan logo miliknya kecuali yang sudah terdaftar pada FIFA dengan lima jenis identifikasi: name, logo, product line, figurative logo, dan script. Apparel tidak diperkenankan memunculkan lebih dari tiga identifikasi tersebut. Ukuran logo pun dibatasi hanya 20 sentimeter persegi.

Ini tentu bisa menjawab pertanyaan Anda mengapa Adidas menggunakan tiga garis pada bagian bahu hingga delapan sentimeter jelang ujung lengan. Ini dilakukan sekaligus untuk mengakali keterbatasan apparel dalam menunjukkan logo mereka.

foto: three.com

Komentar