Cara Menganalisis Pertandingan Sepakbola

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi Pilihan

Ardy Nurhadi Shufi

Juru Taktik Amatir
ardynshufi@gmail.com

Cara Menganalisis Pertandingan Sepakbola

Bagaimana cara menganalisis pertandingan sepakbola? Hal tersebut sangat sering ditanyakan pada akun media sosial pribadi saya ataupun redaksi Pandit Football Indonesia. Pertanyaan itu juga yang mungkin selama ini ada di benak para pembaca setia Panditfootball.com yang kerap membaca kolom analisis pertandingan.

Menganalisis pertandingan biasanya dilakukan oleh seorang pelatih baik ketika hendak menghadapi sebuah pertandingan atau ketika sedang mengevaluasi permainan anak asuhnya. Di era sepakbola modern, selain pelatih, ada scout yang juga kerap memberikan laporan analisis lawan yang akan dihadapi.

Semakin banyaknya gamers Football Manager pun membuat kegiatan menganalisis pertandingan menjadi bukan hal yang aneh lagi ketika dilakukan bukan oleh pelatih atau scout. Bahkan dengan kemampuan menganalisis, lahirlah kemudian situs-situs, akun-akun media sosial atau channel-channel Youtube yang dikhususkan memberikan evaluasi taktik dari sebuah pertandingan atau sebuah tim.

Di sini saya ingin berbagi pengalaman tentang proses menganalisis pertandingan yang saya kerap lakukan buat mengisi kolom analisis di Pandit Football. Ini juga yang seringkali saya bagikan atau ajarkan pada para penulis Pandit Football ketika saya menjadi Pemimpin Redaksi Pandit Football dalam rentang waktu 2016-2019.

Memahami Tujuan Analisis Pertandingan

Apa sih yang dimaksud analisis pertandingan? Setiap orang yang kerap melakukan analisis mungkin punya jawaban dan penjelasannya masing-masing. Tapi di Pandit Football, sebagaimana saya diajarkan oleh Zen R.S., Andreas Marbun, dan Vetricia Wizach, analisis pertandingan adalah tulisan yang harus bisa menjelaskan mengapa kesebelasan A bisa menang dan kesebelasan B kalah, atau mengapa pertandingan berakhir imbang.

Kemenangan dalam sepakbola sendiri ditentukan dari siapa yang mencetak gol lebih banyak di antara dua kesebelasan yang bertanding, bukan siapa yang bermain lebih indah. Maka jika dijelaskan lebih jauh, analisis pertandingan harus bisa menjelaskan mengapa kesebelasan A mampu mencetak gol lebih banyak dibandingkan kesebelasan B, atau mengapa kedua kesebelasan sama kuat.

Tidak mudah untuk menganalisis pertandingan. Begitu pun saya ketika awal-awal belum ditempa secara intensif di Pandit Football. Bahkan tak jarang juga, ketika merasa sudah membuat `analisis pertandingan`, setelah dibaca ulang, ternyata itu hanya sebatas `laporan pertandingan`. Dan itu tentu dua hal yang berbeda.

Tak seperti menganalisis, melaporkan pertandingan kita hanya perlu menceritakan apa yang terjadi pada pertandingan tersebut. Dalam laporan pertandingan, kita hanya perlu mengetahui atau menceritakan kembali siapa yang mencetak gol, siapa yang menciptakan asis, pada menit ke berapa terjadinya gol, lalu apa saja yang terjadi pada pertandingan tersebut, bagaimana proses terjadinya gol.

Dalam menganalisis, setidaknya di Pandit, kita harus terus bertanya, “mengapa gol bisa terjadi?”, “mengapa pemain A bisa sampai menciptakan asis?”, “mengapa lini pertahanan yang ditampilkan kesebelasan B seperti itu?”. Mengapa, mengapa, mengapa, kita harus berusaha bisa menjawab pertanyaan tersebut, pertanyaan yang bisa menjelaskan mengapa kesebelasan A menang dan seterusnya.

Untuk menganalisis, kita juga harus percaya bahwa tak ada kebetulan di sepakbola. Mengutip apa yang dikatakan Johan Cruyff, “Coincidence is logical”, selalu ada penjelasan logis dari sebuah kebetulan. Kebetulan bisa terjadi karena ada keputusan yang dibuat oleh seseorang. Sementara kemampuan seorang pemain mengambil keputusan (decision making) menjadi atribut yang penting dalam sepakbola, olahraga secara umumnya. Karenanya, para penulis Pandit memiliki prinsip bahwa tidak ada kesebelasan yang menang hanya karena beruntung.

Untuk memulai itu semua, kami sarankan, siapapun yang ingin belajar menganalisis, untuk tidak menganalisis kesebelasan favorit atau kesebelasan yang didukung. Saat kita menganalisis kita perlu menetralkan pikiran untuk menghindari subjektivitas pada pemain dan tim tertentu.

Jika kita pemula dan menganalisis kesebelasan yang kita dukung, bisa jadi kita malah akan terbawa pada emosi pertandingan tersebut; berharap kesebelasan yang kita dukung segera mencetak gol, tegang ketika kesebelasan yang kita dukung nyaris kebobolan, atau menggerutu ketika wasit merugikan kesebelasan yang kita dukung (ya, faktor wasit juga perlu dikesampingkan dalam menganalisis pertandingan). Hal-hal tersebut akan membuat kita kehilangan fokus dan membuat kita lupa bahwa kita sedang menganalisis, bukan menonton apalagi mendukung.

Yang Perlu Diperhatikan dalam Menganalisis Pertandingan

Menganalisis jelas sangat berbeda dengan menonton. Saat menonton, kita hanya akan terfokus pada bola yang bergulir. Sepanjang 90 menit, kita hanya memerhatikan di mana bola berada, pemain yang menguasai bola, perebutan bola, dan bahkan lebih spesifik, sebagai penonton kita hanya menantikan kapan gol tercipta.

Karena hal ini pula banyak yang tidak menyukai permainan ultra defensif, seperti yang diperagakan tim asuhan Jose Mourinho, misalnya, karena membuat kans mencetak gol semakin kecil. Alasannya, penonton memang mencari hiburan. Dalam sepakbola, gol beserta perayaannya menjadi sebuah pertunjukan, hiburan tersendiri. Hal tersebut tak bisa dimungkiri.

Sementara saat menganalisis pertandingan, selama 90 menit, kita tak boleh hanya fokus pada pemain yang menguasai bola atau di mana bola berada. Kita juga harus memerhatikan apa yang dilakukan pemain lain yang sedang tidak menguasai bola. Hal ini dilakukan untuk membaca sistem permainan apa yang disajikan oleh kedua kesebelasan, baik ketika menyerang atau pun bertahan.

Dalam membaca sistem permainan, ada tiga hal yang perlu diperhatikan; bentuk pertahanan (defensive phase), bentuk penyerangan (attacking phase), dan bentuk transisi (transition phase). Untuk membaca ketiga hal tersebut, kita harus bisa memetakan who (siapa pemainnya), where (di mana posisinya), dan why (mengapa pemain tersebut ditempatkan di posisi tersebut).

Saat membaca sistem permainan, lupakan sejenak formasi dasar kedua kesebelasan. Setiap formasi, entah itu 4-4-2, 4-3-3, 3-5-2, 4-5-1, 3-4-3, atau formasi apapun itu, pada praktiknya di lapangan akan sering berubah.

Setiap kesebelasan, baik ketika bertahan maupun menyerang, semua pemain di lapangan menjadi bagian dari sistem yang digunakan oleh pelatih kesebelasan tersebut. Tugas bertahan bukan hanya tugas pemain bek dan gelandang bertahannya. Begitu juga tugas menyerang bukan hanya tugas penyerang dan gelandang serang saja. Semua pemain di lapangan terlibat baik ketika bertahan maupun menyerang.

Yang membedakan tentu saja fungsi dan peran setiap masing-masing pemain. Semua itu akan ditentukan dan menjadi alasan seorang pemain ditempatkan di belakang, tengah, depan, kiri atau kanan, sesuai kelebihan dan kekurangan yang dimiliki pemain tersebut serta kebutuhan pelatih dalam menjalankan taktiknya.

Bentuk Pertahanan (Defensive Phase), Bentuk Penyerangan (Attacking Phase), dan Bentuk Transisi (Transition Phase)

Yang biasa kami, atau khususnya saya, lakukan di awal pertandingan saat menganalisis sebuah pertandingan adalah dengan memerhatikan bentuk pertahanan kedua kesebelasan. Dalam bentuk pertahanan, kita harus membaca sistem penjagaan apa yang digunakan (marking system), bagaimana garis pertahanan yang dimainkan (defensive line), bagaimana cara melakukan pressing (pressing system), hingga jarak antar pemain (compactness).

Setelah memetakan bentuk pertahanan, selanjutnya kita memetakan bentuk penyerangan. Dalam bentuk penyerangan, kita harus membaca di mana ruang yang sering dieksploitasi, bagaimana cara mengalirkan bola ke kotak penalti lawan, tempo yang dimainkan, pertukaran posisinya seperti apa, dan lain-lain. Hal itu dapat terlihat dari kecenderungan bermain sebuah kesebelasan dalam sebuah pertandingan.

Kemudian setelah menemukan bentuk pertahanan dan penyerangan, membaca bentuk transisi adalah hal yang dilakukan berikutnya. Setelah sebuah kesebelasan menguasai bola, apa yang dilakukannya? Berapa jumlah pemain yang bergerak di sayap? Berapa jumlah pemain di tengah? Apakah mereka membangun serangan dengan sabar lewat operan-operan pendek atau memberikan umpan panjang langsung ke flank?

Untuk memetakan itu semua, sekali lagi, kita harus bisa menjelaskan who, where, dan why seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Ketiga ‘pertanyaan tersebut’ nantinya akan memberikan hasil (who, where, why, result). Hasil itulah yang perlu kita kaji dan telaah lebih jauh.

Pengetahuan kita tentang istilah-istilah sepakbola seperti zonal marking, man-to-man marking, defensive line, pressing, counter attack, possession football, dan istilah-istilah taktik lainnya, pada akhirnya akan menentukan seberapa mampu kita menganalisis pertandingan. Selain itu, intuisi kita dalam membaca pertandingan pun akan memengaruhi hasil analisis kita. Karena perubahan taktik atau strategi bisa kapan saja dilakukan oleh pelatih.

***

Menganalisis pertandingan bisa dilakukan siapa saja. Sama seperti kita tak perlu menjadi seorang koki atau chef untuk bisa memasak, siapapun bisa menjadi analis pertandingan meski ia bukan seorang pelatih ataupun scout.

Apalagi tidak ada institusi atau pihak yang memang secara khusus ahli di bidang analisis pertandingan yang bisa menyatakan seseorang sebagai analis sepakbola atau bukan. Lagipula, menganalisis pertandingan bukan menentukan siapa yang benar atau salah, apalagi menentukan siapa yang lebih paham taktik.

Dengan analisis pertandingan, kita menyajikan apa yang kita tangkap dan apa yang kita telaah dalam pertandingan tersebut. Dengan argumentasi yang logis serta grafis yang mendukung argumentasi kita (ya, grafis hanya sebagai pendukung), kita bisa membeberkan jawaban dari mengapa kesebelasan A mencetak gol (lebih banyak) atau sebaliknya, begitu juga jika pertandingan berakhir imbang.

Setelah Anda memiliki hasil analisis Anda, jangan jadikan hal tersebut sebagai analisis yang harus diamini setiap orang. Selalu terbuka akan kritik, karena ilmu taktik sepakbola sangat lah luas dan selalu ada hal baru untuk dipelajari. Maka jadikan analisis kita tersebut sebagai bahan diskusi dan menjadi tempat berbagi ilmu kita dengan banyak orang, bukan untuk membantah setiap pendapat yang tidak sejalan dengan argumentasi kita.

Komentar