Ancaman Nyata Pemain Naturalisasi

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Ancaman Nyata Pemain Naturalisasi

Jelang Liga 1 2018, sebanyak lima pemain asing berhasil mendapatkan status Warga Negara Indonesia alias WNI. Dengan status tersebut kelimanya jadi tidak khawatir dalam mencari kesebelasan di Indonesia. Kondisi macam ini tampaknya akan sering terjadi menjelang musim baru. Karena jelang Liga 1 2019 pun sudah ada sejumlah pemain asing yang mengantre untuk jadi WNI.

Saat tulisan ini dibuat, Fabiano Beltrame adalah pemain asing yang diberitakan akan segera berpaspor Indonesia. Otavio Dutra sudah diumumkan akan menjadi bagian dari skuat timnas Indonesia pada Maret mendatang. Sementara itu Marc Anthony Klok juga mengaku proses naturalisasinya hampir rampung.

Selain mereka bertiga, nama-nama seperti Silvio Escobar, Yoo Jae-hoon, Yoo Hyun-goo, hingga Shohei Matsunaga juga diisukan sedang mengurus administrasi proses WNI mereka.

Jika mereka benar-benar mendapatkan status WNI, maka akan semakin banyak pemain asing berpaspor Indonesia. Di satu sisi ini menguntungkan buat Liga Indonesia karena liga akan semakin kompetitif. Namun di sisi lain, ada dampak negatif yang cukup besar juga muncul dari menjamurnya pemain naturalisasi di liga.

Sebelumnya Indonesia diketahui tidak punya penyerang lokal mumpuni untuk timnas sehingga tidak berprestasi. Karena itulah naturalisasi pemain asing dilakukan sejak 2010. Tapi hingga kini, nyaris 10 tahun kemudian, Indonesia masih juga tak berprestasi di tingkat senior. Padahal pemain naturalisasi keluar-masuk menghuni lini serang Timnas Indonesia.

Sejak 2011, pos penyerang memang jadi posisi dengan banyaknya pemain asing. Setidaknya ada enam pemain; Jhon van Beukeuring, Greg Nwokolo, Cristian Gonzales, Sergio van Dijk, Ilija Spasojevic, dan Ezra Walian.

Namun sejak 2018, tren menaturalisasi pemain mulai bergeser. Sekarang para pemain asing bersedia diambil sumpahnya untuk mengabdi pada Indonesia sebagai upaya mereka untuk tetap bisa berkarier di Indonesia. Proses naturalisasi pemain terkini mulai melibatkan klub. Bahkan dalam proses naturalisasi Fabiano Beltrame terkini sempat menimbulkan "masalah" antar klub.

"Enggak [bertahan] dia. Dia sudah pamit, kok," kata Manajer Madura United, Haruna Soemitro, ketika Tirto memintai keterangan soal status Fabiano. "Kalau klub yang baru itu memang menginginkan Fabiano sebagai pemain naturalisasi, ya mereka saja yang menyelesaikan. Intinya kami mencabut sponsor naturalisasi dan biar klub baru itu saja yang menyelesaikan."

Seperti perkataan Haruna di atas, Fabiano awalnya hendak menjadi WNI karena Madura United yang menyeponsori proses tersebut, dan hendak dialih tanggung jawabkan oleh klub lain. Hal itu berbeda dengan proses naturalisasi sebelum tahun 2018 di mana pemain tersebut dibantu negara sampai mendapatkan WNI supaya bisa main di tim nasional.

"Iya, setahu saya pihak klub juga bantu," ujar Kim Jeffrey Kurniawan—dinaturalisasi pada 2010—saat kami hubungi, "cuma tidak tahu lebih dalam [seperti sekarang], sih."

Maka boleh dikatakan bahwa pemain naturalisasi sekarang ini menjadi kebutuhan klub, bukan lagi kebutuhan negara. Klub memang diuntungkan ketika pemain asing mereka mendapatkan status WNI sehingga mereka punya "pemain Indonesia" berkualitas pemain asing sekaligus punya slot kosong untuk menambah pemain asing. Karena itulah klub rela membayar biaya administrasi naturalisasi, sekitar Rp50 juta, agar sang pemain bisa segera mendapatkan status WNI.

Dulu Butuh Penyerang Asing, Sekarang Bek Tengah, Nanti...

Pemain naturalisasi dalam sepakbola sendiri memang berkaitan dengan prestasi jangka pendek. Timnas Jepang awalnya menaturalisasi Ruy Ramos pada 1989 karena sepakbola mereka miskin prestasi. Timnas Singapura dan Filipina juga menghiasi skuatnya dengan pemain naturalisasi supaya bisa bersaing (bahkan Singapura juara) di Piala AFF.

Pun begitu dengan klub yang punya banyak pemain naturalisasi karena dengan adanya pemain naturalisasi mereka bisa meningkatkan kualitas tim dengan banyaknya pemain asing, meski misalnya sang pemain sudah tua dan dalam dua-tiga tahun ke depan kemampuannya akan menurun karena biasanya berusia di atas 32 tahun.

Namun hal ini jelas akan menjadi bom waktu. Akan ada suatu masa di mana pemain Indonesia kurang terasah mental bertandingnya karena kalah saing dengan merajalelanya pemain naturalisasi dan pemain asing.

Status naturalisasi Fabiano dan Otavio menjadi kabar buruk buat para pemain bek tengah lokal. Apalagi selain mereka, sudah ada Mahamadou Alhadji, Onorionde K. John, dan Bio Paulin, serta Victor Igbonefo jika suatu saat kembali ke Indonesia, sebagai bek tengah asing berpaspor Indonesia. Mereka akan membuat pos bek tengah klub Indonesia diisi oleh pemain bukan asli Indonesia.

Di Liga 1 2018, terdapat Persib Bandung, Persebaya Surabaya, dan Borneo FC/Sriwijaya FC (klub yang dibela Alhadji) yang kerap menandemkan pemain naturalisasi dan pemain asing di pos bek tengah. Di Liga 1 2019, Persebaya dan Persib Bandung—yang dikabarkan akan jadi klub baru Fabiano—ditambah Kalteng Putra—merekrut O.K. John—yang kemungkinan akan memiliki duet bek tengah "asing". Jumlah tersebut bisa bertambah jika Bio Paulin dan Alhadji kembali direkrut oleh klub Liga 1 musim depan.

Tidak lebih dari lima klub yang menggunakan duet bek "asing" mungkin terlihat kecil. Tapi di masa depan dampak buruknya cukup besar. Bahkan indikasinya sudah terlihat sekarang ini. Siapa lagi bek tengah mumpuni Indonesia, yang masih berada di usia matang, selain Hansamu Yama dan Fachrudin Ariyanto?

Bek lokal sang juara Liga 1 2018, Persija Jakarta, diisi Maman Abdurrahman yang sudah gaek (36 tahun) dan tak terpakai lagi di timnas. PSM Makassar punya Abdul Rahman Sulaiman yang sekarang berusia 30 tahun, tapi dia bukan langganan timnas karena cuma punya dua caps di timnas senior. Arema FC masih mengandalkan Hamka Hamzah (35 tahun) yang terakhir kali membela timnas pada 2014. Ricardo Salampessy (35 tahun) di Persipura Jayapura pun terbukti tidak bisa memberikan benteng pertahanan kokoh sehingga Persipura gagal jadi pesaing juara.

Dengan Persib yang sebelumnya menduetkan Bojan Malisic dan Igbonefo, para kesebelasan besar yang gemar menyumbang pemain ke timnas terbukti kesulitan mendapatkan bek tengah lokal dengan usia dan kemampuan matang. Tak heran timnas Indonesia pun kembali mengandalkan Hansamu dan Fachrudin, juga mengubah Ricky Fajrin dari bek kiri atau memaksakan Bagas Adi Nugroho yang belum siap tampil di timnas pada Piala AFF 2018 silam.

Betul memang Indonesia masih punya Nurhidayat, Andy Setyo, Rachmat Irianto, Rifad Marasebessy, atau Indra Mustafa yang bermain untuk timnas U19 atau U22. Namun mereka tidak akan matang hanya dengan berlaga di level internasional kelompok usia. Mereka juga butuh kompetisi untuk mengasah kemampuan dan mental mereka setiap pekannya, setiap musimnya.

Lagipula, bermain di timnas kelompok usia pun bukan jaminan akan jadi pemain hebat dan berguna untuk timnas senior di kemudian hari. Sudah berapa banyak pemain belia Indonesia yang namanya digadang-gadang jadi bintang tapi justru layu sebelum berkembang? Apakah karier Dimas Drajad, Febly Gushendra, Muchlis Hadi, Dimas Sumantri, atau Al Qomar Tehupelasury yang merupakan angkatan juara Piala AFF U19 2013 punya karier sementereng karier Ilham Udin, Evan Dimas, Muhammad Hargianto dan Hansamu?

Terpilihnya Otavio Dutra ke timnas jadi indikasi bahwa pelatih timnas, Simon McMenemy, dan/atau PSSI ingin punya pemain bek tengah dengan kualitas dan pengalaman yang mumpuni dengan meminimalisasi kesempatan bek lokal untuk unjuk gigi. Mereka tak peduli usia Otavio yang sudah menginjak 35 tahun. Kehadirannya justru membuat pemain seperti Manahati Lestusen, Yanto Basna, Ryuji Utomo, dan Ricky Fajrin, juga bek tengah potensial lainnya, harus mengantre lebih panjang untuk bisa mendapatkan jam terbang di timnas.

Thailand punya Narubadin Neerawatnodom dan Adison Promrak yang berusia 24-25 tahun tapi sudah punya caps senior hampir 30 laga. Malaysia punya Shahrul Saad (25 tahun) yang siap melanjutkan jejak Fadhli Sas (28 tahun) karena sudah beroleh 27 caps. Kapten Myanmar, Zaw Min Tun, meski masih berusia 26 tahun tapi dia sudah punya 62 caps timnas senior. Vietnam, sementara itu, punya Que Ngoc Hai, bek tengah berusia 25 tahun dengan 42 caps atau Doan Van Hau yang memiliki 16 caps meski baru berusia 19 tahun.

Perlu diketahui, bek-bek tengah di atas tidak semuanya menjadi bek tengah andalan timnas senior. Ada bek senior lain yang masih berada di timnas seperti Chalermpong Kerdkaew (31 tahun) di Thailand atau Aidil Zafuan (31 tahun) di Malaysia. Ini artinya regenerasi pemain mereka berjalan dengan baik karena punya sejumlah bek tengah berusia muda dengan caps cukup banyak.

Di Indonesia saat ini, Fachrudin Ariyanto merupakan bek tengah paling senior. Bahkan bek tengah berusia 30 tahun ini jadi pemain timnas dengan caps terbanyak di skuat Indonesia untuk Piala AFF 2018: 35 caps. Kapten timnas, Hansamu Yama, baru punya 15 caps di timnas senior. Karena itulah Otavio Dutra bisa memperlambat regenerasi bek tengah di timnas Indonesia. Tiga-empat tahun ke depan, bek tengah lain bisa belum punya jam terbang yang banyak jika timnas lebih percaya pada kemampuan Otavio.

Para pemain asing yang mengajukan proses naturalisasi tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Jika mereka memenuhi syarat tinggal di Indonesia selama lima tahun berturut-turut atau 10 tahun tidak berturut-turut, atau menikah dengan WNI, atau sesuai syarat lain pada Pasal 9 dan Pasal 12 UU Kewarganegaraan, para pemain asing tersebut punya hak untuk memilih menjadi WNI agar tetap bisa berkarier di Indonesia.

Sebenarnya Pasal 20 juga memberikan celah pada warga asing berprestasi atau berjasa pada negara untuk bisa mendapatkan paspor Indonesia jika belum memenuhi syarat-syarat di atas. Pasal ini sempat diperbincangkan ketika Marko Simic memungkinkan untuk dinaturalisasi.

Namun hal itu tampaknya belum perlu atau tidak tepat dilakukan. Indonesia tidak basi lagi mengambil langkah instan untuk berprestasi. Lagipula Simic, misalnya, belum berjasa untuk Indonesia sehingga menaturalisasi mereka bukan urgensi yang dibutuhkan Indonesia.

Belum lagi jika melihat ancaman di masa depan. Akan lebih banyak lagi pemain yang dinaturalisasi untuk kepentingan klub dengan dalih untuk kepentingan timnas. Contohnya sudah banyak: Esteban Vizcarra, Kim Kurniawan, Diego Michiels, Ruben Wuarbanaran, Tonnie Cussel, atau Sergio Van Dijk yang minim caps setelah berstatus WNI.

Pemain naturalisasi dibutuhkan jika benar-benar untuk kepentingan timnas, bisa untuk jangka panjang (dalam artian masih dalam usia berkembang) dan sang pemain memang punya keturunan Indonesia, seperti dalam kasus Ezra Walian dan Stefano Lilipaly. Kalau cuma untuk kepentingan klub dan menaturalisasi pemain berusia 32 tahun ke atas, Timnas Indonesia akan semakin krisis pemain karena persaingan berat pun sudah didapatkan pemain lokal sejak di klub.

Sekarang kesulitan cari penyerang tengah dan bek tengah pengalaman, lama kelamaan posisi lain seperti gelandang dan sayap pun akan krisis karena bukan tak mungkin semakin banyak klub yang mengandalkan pemain naturalisasi.

Ancaman untuk pos gelandang tidak bisa diremehkan karena suatu saat pemain-pemain seperti Robertino Pugliara, Makan Konate, Ibrahim Conteh, Srdjan Lopicic, hingga In Kyun-oh memungkinkan akan dinaturalisasi yang dibantu oleh pihak klub karena mereka sudah cukup lama bermain di Indonesia.

Agar hal itu terjadi ada dua hal yang bisa dilakukan: (1) klub jangan terlalu berambisius dalam berkompetisi dengan melupakan pengembangan pemain lokal, (2) operator liga memperketat syarat penggunaan pemain asing dan pemain naturalisasi.

(1)

Di Indonesia hampir semua klub menargetkan bisa menjuarai liga, bahkan untuk kesebelasan promosi sekalipun. Di satu sisi kompetisi akan semakin sengit, tapi di sisi lain persaingan seperti ini mengorbankan pemain-pemain muda yang membutuhkan jam terbang. Padahal sebuah kesebelasan dikatakan berhasil tidak hanya dengan berhasil menjadi juara semata.

Southampton, Udinese, atau Athletic Bilbao di Eropa sana tetap punya fans loyal meski setiap musimnya tidak menargetkan diri juara atau masuk lima besar.

Kesebelasan Indonesia memang banyak yang mengaku sudah profesional. Tapi sebenarnya banyak dari mereka yang tidak punya akademi sendiri. Hanya empat yang sudah punya akademi: Arema FC, Bali United, Persib Bandung, dan PSM Makassar. Tak heran banyak klub Indonesia yang bergantung pada pemain asing, termasuk pemain naturalisasi, untuk memperkuat timnya.

PSSI sendiri per 2018 sudah menggelar Liga 1 Elite Pro Academy U16 di mana semua kesebelasan Liga 1 dipaksa punya tim kelompok umur U16. Akhirnya mereka yang tak punya akademi mendadak melakukan seleksi dalam 2-3 bulan sampai pemain-pemain dari SSB daerah lah yang terpilih. Hal itu jelas bukan sistem pembinaan usia muda yang ideal karena klub hanya menuai pemain muda, bukan menciptakan pemain muda.

(2)

Regulasi pemain asing di Indonesia dengan 3 non-Asia plus 1 Asia jika terus dipertahankan sementara pemain naturalisasi semakin menjamur akan menjadi regulasi yang tidak berhilir ke timnas. Tanpa ada pembatasan pemain naturalisasi dalam sebuah tim, musim lalu Sriwijaya FC punya empat pemain naturalisasi plus empat pemain asing dalam mengarungi liga.

"Untungnya" masalah gaji membuat mereka jadi tak superior bahkan degradasi karena ditinggalkan para pemain asing dan pemain kuncinya. Bisa jadi di masa depan bukan hanya satu tim yang punya lebih dari satu pemain naturalisasi jika semakin banyak pemain naturalisasi yang beredar.

Thailand yang sekarang menjadi raja sepakbola Asia Tenggara memang punya aturan diperbolehkan memiliki tujuh pemain asing dalam setiap klub. Bahkan hal itu sudah terjadi sejak 2011. Tapi karena setiap kesebelasan punya akademi masing-masing, Thailand tetap bisa terus melahirkan talenta-talenta berbakat seperti Chanatip Songkrasin, Charyl Chappuis, Teerathon Bunmathan, dan lain-lain meski para pemain asing banyak beredar di liga.

Liga Super Tiongkok yang mulai dihuni bintang-bintang top Eropa juga semakin memperketat aturan pemain asing. Untuk musim 2019, setiap tim tetap boleh memiliki empat pemain asing. Tapi hanya tiga pemain saja yang boleh dimainkan dalam satu pertandingan. Bahkan dalam satu musim, setiap tim maksimal hanya boleh mendaftarkan enam pemain asing. Aturan ini membuat setiap kesebelasan Liga Super Tiongkok berhati-hati dalam merekrut pemain asing agar bisa terus diandalkan sampai akhir musim. Tidak seperti di Indonesia di mana sebuah tim bisa dengan bebas bongkar pasang pemain asingnya ketika memasuki bursa transfer tengah musim.

Indonesia bisa mencontoh Vietnam. Kesebelasan yang menjuarai Piala AFF 2018 ini sebenarnya punya banyak pemain naturalisasi. Bahkan top skorer sepanjang sejarah V-League 1, Huang Vu Samson, sudah punya paspor Vietnam sejak 2013. Tapi tidak ada satupun pemain naturalisasi yang dipanggil ke timnas. Apalagi di liga aturan pemain naturalisasi diperketat di mana hanya dua pemain asing dan satu pemain naturalisasi saja yang boleh bermain dalam satu pertandingan. Tak heran dalam skuat Vietnam saat ini tidak ada satupun pemain di atas 30 tahun karena para pemain lokal mendapatkan menit bermain yang cukup di liga sehingga siap bertempur di level internasional.

Baca juga: Pemain Naturalisasi Tak Bisa Sisihkan Nguyen di Timnas Vietnam

***

Klub dan operator liga memang harus saling berkesinambungan untuk menjaga kualitas liga. Namun perlu disadari bahwa ancaman pemain naturalisasi itu nyata. Mereka tidak boleh egois hanya memikirkan liga yang bisa mendatangkan sponsor besar. Karena masa depan Timnas Indonesia justru ada di tangan mereka.

Jangan jadikan keberhasilan Timnas U-22 juara Piala AFF 2019 sebagai tolok ukur keberhasilan pembinaan. Pembinaan yang berhasil adalah pembinaan yang bermuara dengan keberhasilan di timnas senior. Timnas senior. Jika timnas senior masih kesulitan mencari pemain berpengalaman dan berkualitas sampai harus mengandalkan pemain asing seperti sekarang ini, itu tandanya pembinaan pemain muda Indonesia masih gagal.

Indonesia punya banyak talenta muda yang bisa jadi andalan timnas senior. Pemain naturalisasi bukan solusi untuk timnas Indonesia. Karena seperti yang sudah-sudah, para pemain naturalisasi Indonesia bukannya mengancam gawang lawan, justru mengancam kesempatan para pemain lokal untuk mendapatkan jam terbang di level klub dan nasional.

Baca juga: Naturalisasi Menghapus Nasionalisme


Simak opini, komentar, dan sketsa adegan Rochy Putiray bersama pemain naturalisasi gadungan dan agennya, terkait kebijakan naturalisasi yang hanya merupakan akal-akalan klub dalam menyikapi peraturan pemain asing serta merugikan Tim Nasional Indonesia untuk jangka panjang:



Komentar