Naturalisasi Menghapus Nasionalisme

Sains

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Naturalisasi Menghapus Nasionalisme

Negara dan mata uang adalah dua dari banyak contoh “mitos bersama” atau “shared myth” yang dibentuk oleh manusia selama ratusan ribu tahun. Pandangan itu disampaikan oleh penulis Sapiens: A Brief History of Humankind, Yuval Noah Harari. Menurutnya mitos bersama adalah sebuah fiksi atau kisah yang diceritakan untuk mengarahkan manusia pada satu persepsi yang sama dan hidup menurut persepsi itu.

Dari awal peradaban, homo sapiens dan leluhurnya adalah makhluk sosial, namun hanya hidup bersama dalam kelompok kecil seperti keluarga atau suku. Semakin kecil kelompok tersebut, maka loyalitas yang dibangun pun akan semakin mudah sekaligus semakin kuat.

Seiring dengan perkembangan zaman, konstruksi sosial antar homo sapiens menciptakan banyak elemen peradaban seperti negara dan mata uang. Nasionalisme kemudian lahir dari situ.

Jika dahulu negara dan nasionalisme dipupuk melalui konflik (perang) bahkan sampai genosida, sekarang ajang olahraga seperti Piala Dunia dan Olimpiade adalah acara yang terus melanjutkan konsep negara dan nasionalisme untuk banyak manusia. Oleh karena itu, atlet masih terus relevan dianggap sebagai duta dan pahlawan negara di era modern.

Masalahnya seberapa beragamnya sebuah negara, mereka tetap dibentuk oleh sekelompok manusia dengan gen mayoritas. Itu yang membuat mereka yang keturunan Afrika Barat dan Nigeria adalah mereka yang andal dalam lari jarak pendek, keturunan Nilotik dan Kenya andal lari jarak jauh, keturunan Tionghoa andal tenis meja, Brasil dan Amerika Latin andal sepakbola (teknik), dan lain sebagainya.

Hal ini menunjukkan beberapa ras tertentu memiliki keunggulan cabang-cabang olahraga. Pada akhirnya hanya negara-negara tertentu yang bisa menghasilkan juara. Jika memang demikian, apakah kemudian tidak ada keadilan dalam setiap ajang olahraga?

Kalau konsep negara terlihat lebih saklek, tidak begitu dengan konsep kewarganegaraan. Ada satu jalan keluar yang dianggap bisa membuat persaingan olahraga lebih adil. Jalan itu bernama naturalisasi. Namun benarkah demikian?

Naturalisasi Baik untuk Prestasi Jangka Pendek

“Aku ingat persis ketika kami akan berjalan masuk ke lapangan dan melihat pemain Brasil. Lantas aku berpikir mereka tidak mungkin bisa menang karena mereka hanya 11 sedangkan kami ada jutaan,” kata Lilian Thuram kepada BBC ketika ditanya apa resep mengalahkan Brasil pada final Piala Dunia 1998.

Thuram tidak bercanda ketika dia bilang Perancis ada jutaan. Selain fakta bahwa Perancis tampil di hadapan publik sendiri (80.000 penonton di stadion dan lebih dari 50 juta lainnya di televisi), Brasil juga bakal meladeni para pemain dari berbagai bangsa: Afrika, Arab, Pasifik, dan Eropa Timur.

Melalui keberagaman, Perancis menunjukkan persatuan alih-alih perpecahan. Di Piala Dunia 2018—ketika mereka kembali menjadi juara—mereka juga bisa berjaya.

Baca juga: Perancis Berjaya dalam Keberagaman

Jika para pemain Perancis datang dari banyak ras atau negara, Brasil sebaliknya; mereka mengekspor banyak pesepakbola ke negara lain. Di Piala Dunia 2018 saja ada 28 pemain kelahiran Brasil: 23 pemain bermain untuk Timnas Brasil, 5 pemain untuk berbagai negara lainnya.

Alessandro Santos (Jepang), Cacau (Jerman), Deco Souza (Portugal), Diego Costa (Spanyol), Eduardo da Silva (Kroasia), Egmar Gonçalves (Singapura), Igor de Camargo (Belgia), Mário Fernandes (Rusia), Thiago Motta (Italia), sampai Beto Gonçalves (Indonesia) adalah beberapa contoh pemain Brasil yang dinaturalisasi negara lain.

Dari semua negara yang “mengimpor” pesepakbola Brasil, Guinea Khatulistiwa dan Togo menjadi “konsumen” tersering. Setidaknya ada enam pemain Guinea Khatulistiwa (seperti Danilo Clementino) dan enam pemain Togo (seperti Alessandro Faria) yang berasal dari Brasil.

Memang tidak semua, tapi mayoritas dari nama-nama yang disebutkan di atas adalah pesepakbola yang “terbuang” dari Brasil, artinya jika mereka tidak pindah kewarganegaraan, mereka mungkin tak akan pernah sama sekali merasakan pertandingan level internasional. Bermain di level internasional adalah portofolio yang bagus untuk seorang atlet.

Memang secara tidak langsung mereka yang dinaturalisasi adalah mereka yang tidak jago di negara asal mereka. Namun itu tak lantas membuat para atlet berkecil hati.

Meski rata-rata para atlet naturalisasi tak jago (dari perspektif negara asal mereka), banyak penelitian yang menunjukkan performa sebuah negara justru menanjak setelah mereka melakukan naturalisasi, bahkan ketika atlet tersebut sudah tua atau melewati masa puncak mereka. Hal ini terjadi bukan hanya di sepakbola, tapi juga di cabang olahraga lain.

Marak Seiring Konsep Nasionalisme yang Ketinggalan Zaman

Jadi sejauh ini naturalisasi bisa menguntungkan atlet dan juga negara. Beberapa penelitian bahkan lebih mendukung agar atlet dinaturalisasi. Mereka yang dinaturalisasi kebanyakan datang dari negara yang lebih miskin. Menurut penelitian dari Hamburg Institute of International Economics, ini akan membuat mereka lebih kaya secara pendapatan finansial.

Bukan kebetulan praktik ini sedang marak dilakukan secara global. Beberapa negara yang sangat mengandalkan naturalisasi dalam olahraga (bukan hanya sepakbola) adalah Bahrain dan Qatar.

Praktik ini dicap sebagai “jalan instan” karena memiliki banyak keuntungan dan mudah dilakukan. Namun naturalisasi bisa membuat talenta-talenta lokal menjadi tergerus.

Penelitian dari Universitas Ghana mendekati naturalisasi atlet dengan cara yang berbeda. Menurut penelitian tersebut, gelombang “pembelotan” terus-menerus dari atlet-atlet berbakat yang lebih miskin—terutama dari Afrika—ke negara-negara lain yang lebih kaya—terutama negara Teluk—merujuk pada difusi gagasan inti yang terkait dengan kewarganegaraan dan penurunan kepercayaan pada model yang serupa dengan yang disampaikan Yuval Noah Harari pada awal artikel ini.

Penelitian itu menyarankan bahwa naturalisasi atlet bukanlah hal yang baik atau buruk, tetapi lebih kepada respons terhadap perkembangan dunia yang mulai kurang peduli dengan isu nasionalisme.

Mungkin dunia memang sedang berubah, bahwa batas-batas politik semakin kabur, dan semakin tidak masuk akal untuk mempertahankan fantasi tentang kemurnian etnis dan nasional di dunia yang semakin bercampur setiap harinya.

Hal tersebut juga diamini oleh survei yang dilakukan oleh Western Union pada 2017. Survei itu melibatkan lebih dari 10.000 milenial (kelahiran 1980-1995) dari 15 negara, termasuk Indonesia.

Sebanyak 57% dari mereka mendefinisikan diri sebagai “warga global” alih-alih warga dari suatu negara tertentu, 88% dari mereka juga menganggap negara-negara harus mulai berkolaborasi alih-alih berkompetisi, sementara 79% berpendapat konsep nasionalisme bisa menghalangi mereka.

Baca juga: Cara Indonesia Menuju Prestasi Olahraga Dunia

Bisa dibilang lawan dari nasionalisme adalah kosmopolitanisme yang percaya bahwa tatanan sosial harus terbuka untuk semua, bukan hanya untuk komunitas tertentu. Konsep ini dianggap berkomitmen melindungi dan menegakkan Hak Asasi Manusia serta mengoptimalkan pengelolaan sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan bagi seluruh manusia tanpa terkecuali.

Tidak salah menganggap nasionalisme adalah “mitos bersama”, pun menganggap kosmopolitanisme dengan pandangan serupa. Beberapa “mitos” ini sudah melahirkan korporasi raksasa global (seperti Facebook dan Google), lapak dagang lintas negara (seperti Alibaba dan Amazon), cryptocurrency (seperti bitcoin), bahasa buatan (seperti Esperanto), dan lain sebagainya.

Jalan Instan yang Sebaiknya Dibarengi Rencana Jangka Panjang

Apakah nasionalisme sudah ketinggalan zaman atau tidak memang masih menuai perdebatan, sesuai dengan kepentingan yang sedang berdebat. Namun dalam dunia olahraga, setidaknya nasionalisme terus terpupuk pada acara-acara seperti Piala Dunia dan Olimpiade.

Pada acara-acara olahraga tersebut, keterlibatan atlet lokal (bukan naturalisasi) masih dianggap kebanggaan ekstra. Negara yang banyak melakukan naturalisasi dianggap mencederai nasionalisme.

Andaikan sebuah negara ingin membina atlet mereka secara baik dan benar, dibutuhkan uang dan waktu. Qatar melakukan naturalisasi untuk target jangka pendek (dan mereka sudah berhasil menjadi juara Asia pada 2019) dan juga menghabiskan banyak uang melalui Aspire Academy untuk target jangka panjang.

Naturalisasi masih dianggap sebagai jalan instan. Sesuatu yang instan memiliki konotasi negatif. Jadi daripada mengambil jalan instan, negara-negara dan unsur-unsur di dalamnya (seperti kesebelasan, akademi sepakbola, dll) harus terus berusaha mencari dan mengembangkan talenta lokal.

Menurut Krikor Yeretzian, Koordinator Platform for Education in Emergencies Analyst di Institute of International Education, hal yang perlu dilakukan adalah menemukan lokasi bakat tersebut dan bersungguh-sungguh untuk membentuk atlet yang diinginkan. Negara-negara telah melakukan ini selama bertahun-tahun, dan beberapa timnas seperti Brasil dan Jerman berjaya dengan sangat sedikit—kalau pun ada—pemain yang dinaturalisasi.

Perpindahan (kewarganegaraan) pemain bukan sesuatu yang sepakbola internasional butuhkan. Sepakbola sudah memiliki itu semua pada level klub. Jika masih ingin mempertahankan kompetisi seperti Piala Dunia, sepakbola internasional sebaiknya mencerminkan negara yang bersangkutan, yang benar-benar mewakili kebanggaan negara.

Begitu juga bagi Indonesia. Naturalisasi-naturalisasi yang dilakukan sebaiknya harus disusul keberhasilan jangka pendek (misalnya menjuarai Piala AFF 2020) dan juga dibarengi pembinaan jangka panjang yang membutuhkan uang dan waktu; kecuali Indonesia mau terus-menerus melakukan naturalisasi.

Kalau salah satu dari dua itu (target jangka pendek dan target jangka panjang) tak kunjung tercapai. Maka kita harus mulai mempertanyakan untuk apa sebenarnya naturalisasi dilakukan oleh Indonesia. Jangan-jangan memang hanya untuk mengakali peraturan (pemain asing) tok. Jika demikian adanya, cupu dan pendek sekali cita-cita bangsa ini. Daripada naturalisasi pemain, mending naturalisasi pengurusnya saja kali, ya?

Baca juga: Ancaman Nyata Pemain Naturalisasi


Referensi jurnal:

  • Adjaye, J.K. (2010) Reimagining Sports: African Athletes, Defection, and Ambiguous Citizenship. Africa Today, Vol. 57, No. 2 (Winter 2010), pp. 26-40.
  • Ilic, D. (2018) Prejudice in naturalization decisions: Theory and evidence. Journal of Economic Behavior & Organization, Volume 150, June 2018, Pages 1-18.
  • Steinhardt, M.F. (2012) Does citizenship matter? The economic impact of naturalizations in Germany. Labour Economics, Volume 19, Issue 6, December 2012, Pages 813-823.
  • Tiesler, N.C., Coelho, J.N. (2014) Globalised Football: Nations and Migration, the City and the Dream. Sport in the Global Society, 0415762006.


Simak opini, komentar, dan sketsa adegan Rochy Putiray bersama pemain naturalisasi gadungan dan agennya, terkait kebijakan naturalisasi yang hanya merupakan akal-akalan klub dalam menyikapi peraturan pemain asing serta merugikan Tim Nasional Indonesia untuk jangka panjang:



Komentar