Daripada Tendang Wasit, Mending Jadi Atlet Pencak Silat

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Daripada Tendang Wasit, Mending Jadi Atlet Pencak Silat

Saya heran dengan kelakuan sejumlah pemain Indonesia, khususnya pemain-pemain di tingkat bawah. Masalah apa, sih, yang menggerogoti pikiran mereka sehingga ketika mereka bertanding sepakbola emosi yang terluapkan pada wasit adalah agresif menyerang dengan kekerasan?

Saya yakin bukan hanya saya saja yang gemas ketika lagi-lagi ada berita atau tayangan aksi barbar pemain yang menyerang wasit. Belum lama ini wasit Liga 2 jadi korban penyerangan pemain Persiwa Wamena di laga melawan Persegres Gresik United. Bukan hanya sekali, wasit berkali-kali mendapatkan tendangan, termasuk sebuah pukulan yang mendarat mulus pada wajahnya.

Pada kejadian tersebut, memang wasit-lah yang memicu amarah para pemain Persiwa. Tidak ada pelanggaran berarti, wasit bernama Abdul Razak tersebut tiba-tiba memberikan penalti untuk Persegres.

Tapi walau bagaimanapun, bukan tugas pemain menghukum wasit yang mengambil keputusan yang salah. Apalagi ini sampai melancarkan aksi tak terpuji. Ada Komdis PSSI, lebih tepatnya Komite Wasit, yang berwenang menghukum wasit.

Pembelaan para pemain atas tindakannya karena keputusan keliru wasit (seharusnya) tidak dibenarkan. Pemain yang menyerang perangkat pertandingan sepatutnya mendapatkan sanksi yang sangat berat. Seperti kasus penyerangan wasit yang dilakukan Peter Romaropen—juga pemain Persiwa—pada 2013 lalu, sang pemain akan dihukum setidaknya satu tahun larangan bermain. Artinya sang pemain akan kehilangan mata pencaharian selama 12 bulan.

Baca juga keganjilan tentang hukuman Peter Romaropen dalam artikel "Haruskah PSSI mendiskualifikasi Persiwa dari ISL?"

Harusnya mereka menekuni pencak silat saja. Kemampuan mereka dalam melayangkan tendangan dan pukulan akan lebih termaksimalkan pada olahraga ini. Toh, pencak silat juga tak kalah bergengsi dari sepakbola sekarang ini.

Pada Asian Games 2018 lalu, ketika sepakbola Indonesia nihil prestasi, atlet pencak silat Indonesia justru menjadi raja. Dari total 31 emas yang diraih Indonesia, nyaris setengahnya (tepatnya 14 emas) berasal dari cabor pencak silat. Belum lagi setiap emas yang diraih akan diganjar 1,5 miliar rupiah untuk atlet per orangan.

Di sepakbola, angka 1,5 miliar biasanya didapat oleh pemain asing dalam satu tahun. Angka 1,5 miliar mungkin hanya seperenam, bahkan kurang, gaji pemain "ecek-ecek" seperti mereka yang memamerkan kemampuan silatnya di lapangan hijau.

Soal kepemimpinan wasit yang buruk, mau tidak mau kita memang harus percaya pada kemampuan PSSI lewat Komite Wasit. Para pemain Persiwa sendiri tampaknya tinggal menunggu waktu saja untuk dihukum. Dalam laporan Indosport, Komdis PSSI sedang menunggu laporan terkait insiden pada laga Persegres melawan Persiwa tersebut, di samping mengakui bahwa wasit dianggap mengambil keputusan keliru.

PSSI, bagaimanapun, patut bertanggung jawab atas insiden-insiden pemukulan terhadap wasit yang semakin mencoreng wajah sepakbola Indonesia ini. Pertama, PSSI bertanggung jawab atas kualitas wasit yang memimpin pertandingan. Kedua, PSSI bertanggung jawab membuat/memberikan hukuman yang bisa membuat para pemain berpikir sejuta kali untuk menyerang wasit secara agresif.

Pemukulan wasit yang kerap terjadi di Indonesia ini pun bisa dilihat dalam persepsi lain: masih banyak pemain lokal kita yang tidak menghormati wasit. Masih segar dalam ingatan ketika Cholid Dalyanto yang memimpin pertandingan Liga Nusantara pada akhir 2016 lalu diinjak kepalanya oleh pemain PS Benteng, Budi Eka Putra.

Jangankan memukul, menendang, apalagi menginjak, wasit adalah pria terhormat yang tak boleh disentuh sekalipun dalam pertandingan sepakbola.

Football Association alias federasi sepakbola Inggris saja sampai membentuk Professional Game Match Officials (PGMO) yang tugasnya secara khusus mengawasi tindak-tanduk pemain, pelatih, dan staf lainnya terhadap wasit. Tujuannya satu: semua elemen pertandingan diharuskan menghormati wasit. Perlu dicatat, PGMO dibentuk meski sepakbola Inggris belum pernah menyajikan cerita seorang pemain atau manajer memukuli wasit.

Pada akhirnya, federasi tidak bisa sekadar mengacungkan telunjuknya pada pelaku-pelaku kekerasan terhadap wasit untuk lebih menjaga sikapnya di lapangan. Dalam kasus Peter Romaropen dan pemain PS Benteng yakni Budi Eka Putra, Komdis PSSI meringankan hukuman keduanya dari vonis awal larangan bermain seumur hidup menjadi satu tahun untuk Romaropen dan dua tahun untuk Budi Eka.

Sekarang bandingkan dengan Declan James Evans, seorang pemuda berusia 18 tahun yang memukul wasit di sebuah pertandingan sepakbola amatir di Queensland, Australia. Ia dihukum larangan bermain sepakbola selama seumur hidup, denda 2.500 dollar (sekitar 35 juta rupiah) plus berurusan dengan kepolisian, walau akhirnya tidak berakhir dibui.

Sepakbola amatir Australia lebih profesional dari sepakbola profesional Indonesia, ya? Eh, memangnya sepakbola Indonesia sudah benar-benar profesional?

Segala hal terburuk dalam sepakbola ada di Indonesia. Isu suap, isu pengaturan skor, mafia wasit, kekerasan suporter yang tak jarang menghilangkan nyawa, perusakan fasilitas umum oleh suporter, pemain tak digaji, dan juga penyerangan pemain (pernah juga ofisial) terhadap wasit adalah asupan informasi yang rutin dikonsumsi para pencinta sepakbola Indonesia.

Kualitas wasit Indonesia memang seringkali memicu kontroversi. Karenanya penting buat federasi terus berupaya dan mencari cara terbaik untuk meningkatkan kualitas wasit. Wasit tetap dan selalu menjadi elemen terpenting dalam sebuah pertandingan. Tanpa wasit, tak ada aturan main. Tanpa aturan main berarti mengundang chaos. Jika wasit sudah ada tapi pertandingan (termasuk sepakbola) tetap chaos, tentu bukan salah permainannya, bukan?

Buat para pemain, mumpung pencak silat lagi naik daun, buru-buru tekuni pencak silat saja kalau mau jadi jagoan. Lewat pencak silat, tendangan dan pukulan kalian akan dipoles menjadi sebuah seni. Dari seni silat bela diri itu, Hanifan, salah satu atlet pencak silat Indonesia, bisa menghajikan keluarganya, melamar kekasihnya, bahkan "menyatukan" pak Jokowi dan pak Prabowo, lho! Subhanallah...

Komentar