Haruskah PSSI Mendiskualifikasi Persiwa Wamena dari ISL?

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Haruskah PSSI Mendiskualifikasi Persiwa Wamena dari ISL?

Kurang dari sebulan Indonesia Super League (ISL) 2015 akan dimulai, jika sesuai dengan yang direncanakan. Namun nyatanya, terdapat permasalahan serius yang terjadi baru-baru ini. Yakni, Persiwa Wamena yang terancam gagal tampil di ISL musim depan.

Pihak kesebelasan Martapura FC mempertanyakan keabsahan status Pieter Romaropen yang bermain bersama Badai Pegunungan--julukan Persiwa--pada pertandingan-pertandingan di Divisi Utama. Padahal, menurut pihak Martapura, Romaropen seharusnya tak diperbolehkan tampil karena sedang menjalani larangan bermain selama satu tahun.

Ketua umum Martapura FC, M. Hilman, mengatakan bahwa pihaknya telah mengirimkan bukti-bukti bahwa Romaropen seharusnya tak diperbolehkan bermain karena masih menjalani hukuman. Oleh karena itu, dirinya berharap PSSI menjunjung tinggi asas keadilan.

“Jika asas itu dilakukan, Komdis (Komite Disiplin) bisa memperbaiki citra dan kepercayaan para anggota terhadap PSSI,” tukas Hilman dikutip dari Bolanews. “Kami ini sebagai anggota ibarat anak, PSSI sebagai orangtua. Jadi kalau anak minta keadilan kepada orangtua sudah sebagai keharusan. PSSI wajib berlaku adil kepada semua anggota yang dianggap sebagai anak-anaknya.”

Sebelumnya, Pieter Romaropen mendapatkan hukuman dari Komdis terkait kasus pemukulan terhadap Muhaimin, wasit yang memimpin laga Persiwa Wamena melawan Pelita Bandung Raya pada 2013 silam. Awalnya, gelandang berusia 31 tahun ini mendapat larangan bermain seumur hidup. Namun ia mengajukan banding dan diterima oleh Komdis. Romaropen pun hanya dihukum satu tahun larangan bermain.

Namun, hingga kapan berlakunya hukuman tersebut memang patut dipertanyakan. Karena gelandang yang mencetak satu-satunya gol ketika menghadapi Martapura pada babak semi-final Divisi Utama tersebut bermain hampir di seluruh laga Persiwa di Divisi Utama.

Situs ligaindonesia.co.id mencatat gelandang bernomor 10 tersebut telah bermain dalam 24 pertandingan (dan menyumbang tujuh gol) bersama Persiwa selama 2014. Pertandingan pertama yang dijalani Romaropen adalah pertandingan melawan Yahukimo FC pada 15 April 2014.

Perlu diketahui, insiden pemukulan yang dilakukan Romaropen sendiri terjadi pada 21 April 2014. Jika mengacu pada terjadinya kasus tersebut, seharusnya Romaropen masih dalam hukuman larangan bermain. Artinya, Persiwa memang memainkan pemain ilegal.

“Kami menerima laporan dan protes dari tim Martapura FC terhadap Persiwa karena memainkan Romaropen. Martapura meminta agar ditinjau kembali status Pieter Romaropen yang dimainkan sebelumnya. Oleh karena itu, Romaropen akan kita panggil,” tutur Hinca pada Kamis (8/1) mengutip dari situs Liga Indonesia.

Pernyataan ini rasanya menimbulkan keanehan. Bukankah seharusnya Komdis telah mengantongi waktu habisnya hukuman Romaropen? Untuk apa terlebih dahulu memanggil Romaropen? Mengapa tak langsung mengetok palu jika Romaropen bersalah atau tidak?

Perlu digarisbawahi, saat keputusan Komisi Banding dijatuhkan pada tanggal 24 Mei 2013, Romaropen dikatakan tak boleh aktif dalam sepakbola selama satu tahun.  Jika dikatakan bahwa Romaropen mendapat hukuman tak boleh aktif dalam sepakbola selama satu musim, maka Persiwa secara sah bisa memainkan Romaropen. Namun Komdis mengatakannya dengan satu tahun, bukan satu musim.

Karena itu, rasanya Romaropen memang merupakan pemain ilegal yang diturunkan Persiwa, setidaknya saat menghadapi Yahukimo FC dan Persifak Fakfak karena terjadi pada 15 dan 19 April. Pada tanggal tersebut belum genap setahun dari terjadinya pemukulan yang menyebabkan Romaropen dihukum. Ini artinya, tak hanya Martapura yang dirugikan, tapi klub lain di Divisi Utama pun tentunya akan merasa dirugikan karena bermainnya Romaropen ini.

Jika mengacu pada aturan Komite Disiplin FIFA, Persiwa seharusnya mendapatkan hukuman diskualifikasi dari liga dan denda sebesar 6.000 Swiss Franc (sekitar 76 juta rupiah). Hal tersebut tertulis pada pasal 55 paragraf 1 FIFA Disciplinary Code.

Contoh nyatanya adalah negara Equatorial Guinea yang pernah didiskualifikasi dari babak play-off Piala Afrika 2015 karena memainkan pemain yang masih menjalani hukuman larangan bermain. Sama halnya dengan Suriah dan Cape Verde yang didiskualifikasi dari babak kualifikasi Piala Dunia 2014 karena persoalan serupa. Maka, bukan tak mungkin hukuman seperti itu pun bisa diberlakukan untuk level klub.

Jadi, akankah Persiwa dinyatakan tak boleh bermain di ISL musim depan karena melanggar aturan? Atau Persiwa tetap bisa berlaga di ISL karena Romaropen dianggap sudah menyelesaikan masa hukumannya? Kita nantikan saja apa yang akan dilakukan oleh Komdis PSSI dalam menyikapi permasalahan ini.

foto: ligaindonesia.co.id

Komentar