Sampai Jumpa di 2020

Editorial

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Sampai Jumpa di 2020

Saya tidak tahu bagaimana menyampaikan ini agar tidak terdengar menyakitkan, tapi jika Anda adalah penggemar Chelsea, Manchester United, atau Liverpool, sebaiknya Anda mempersiapkan diri dan menyerah sepenuhnya kepada keadaan: kesebelasan Anda tak akan menjuarai Premier League hingga 2020. Hal yang sama berlaku untuk para pendukung Arsenal namun kami lebih beruntung karena memiliki peluang musim ini; sekarang atau tidak sama sekali, Arsène!

Begini, jika paragraf di atas belum cukup mencerahkan: Manchester City memenangi perburuan Pep Guardiola. Pria berkebangsaan Spanyol tersebut terikat kontrak selama tiga tahun per 1 Juli 2016. Itu artinya gelar juara Premier League musim 2016/2017, 2017/2018, dan 2018/2019 sudah pasti jadi milik City.

Agar transparan saja: saya mendukung Arsenal dan juru taktik favorit saya adalah Marcelo Bielsa. Tidak sama sekali saya membuat prediksi yang sangat ambisius tersebut karena saya mendukung Manchester City atau menyukai Pep Guardiola. Saya tidak mendewakan Pep dan Pep memang bukan dewa. Namun Pep, harus saya akui, adalah seorang jenius dan karenanya ia adalah jaminan juara liga.

Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi adalah dua pemain terbaik dunia saat ini namun mereka tidak akan pernah bisa membawa kesebelasannya menjuarai liga. Pep, sementara itu, bisa. Ronaldo/Messi tidak bisa melakukannya karena mereka hanya satu yang bermain dengan sepuluh lain melawan sebelas lawan sementara Pep adalah satu yang mengendalikan sebelas lawan (sebelas lawan, benar, kesalahan bukan di mata Anda) dengan sebelas yang ia miliki.

Berikut adalah bukti bahwa Pep bukan dewa: Arsenal 2-0 Bayern München, matchday 3 Champions League 2015/2016. Berikut adalah bukti Pep jenius: Bayern München 5-1 Arsenal, matchday 4 Champions League. Pep tidak hanya membalas kekalahan; ia belajar dari kekalahan dan mengubahnya menjadi pukulan yang jauh lebih mematikan. Arsenal memaksa Bayern pulang dengan tangan kosong berkat keberhasilan mereka melancarkan serangan balik lewat celah di kedua sisi pertahanan Bayern; ketika kedua kesebelasan bertemu untuk kali kedua, Pep membuat Arsenal kebingungan dengan bermain melebar tanpa bek sayap.

Itu contoh yang melibatkan pihak lain. Sebenarnya Bayern sendiri sudah merupakan bukti kejeniusan Pep. Pria berusia 44 tahun tersebut mengangkat standar permainan Bayern dari musim ke musim. Musim kedua merupakan penyempurnaan musim pertama dan ketika saya berpikir Bayern sudah tidak mungkin lagi berkembang, Pep datang membawa presentasi amat baik berjudul "musim ketiga"; jauh lebih baik dari musim pertama dan musim kedua.

Berpikir bahwa Pep akan baik-baik saja di Premier League, walau demikian, adalah naif. Arsenal, Chelsea, Manchester United, dan Liverpool mungkin tak akan menjadi masalah bagi Pep namun kesebelasan-kesebelasan yang mengandalkan semangat juang dan bermain keras akan membuatnya kesulitan. Sandungan kecil di tengah jalan, memang, namun tetap saja sandungan.

Yang nantinya akan lebih merepotkan Pep selain kesebelasan yang bermain keras, tentu saja, adalah rimba Premier League yang sangat keras. Bundesliga memiliki jadwal yang ramah: ada jeda paruh musim dan jarang sekali kesebelasan-kesebelasan pesertanya harus menjalani lebih dari satu pertandingan liga dalam sepekan; hanya dua atau tiga kali dalam semusim hal tersebut terjadi, dan orang-orang Jerman mengenalnya dengan nama englische Woche (dalam bahasa Indonesia: pekan Inggris).

Di Premier League, nyaris setiap pekan adalah englische Woche. Jangan pula lupakan jadwal FA Cup dan Capital One Cup (plus Champions League, mungkin?) yang membuat Jürgen Klopp kewalahan. Welcome to the jungle, buddy!

Pep baru akan mulai bekerja pada 1 Juli namun tidak terlalu dini untuk membicarakan akhir. Kontraknya berdurasi tiga musim dan saya berani bertaruh Pep tidak akan memperpanjangnya. Tiga musim Premier League akan terlalu berat untuknya dan Pep bisa jadi akan kembali menjalani sabbatical. Tiga musim Premier League akan terlalu berat untuk Pep karena ia akan bekerja keras.

Selain jenius, kata sifat yang pantas menggambarkan Pep adalah penuh komitmen. Ia mematok standar yang tinggi untuk dirinya sendiri. Contoh kasus: Spieltag 10 Bundesliga 2015/2016. Bayern yang sudah meraih sembilan kemenangan beruntun dijadwalkan menjalani pertandingan kandang melawan Köln yang pertahanannya sangat sangat sangat rapat. Pep bisa saja mengabaikan tugas sulit yang menanti dan berkata, "Saya sudah memberi kalian sembilan kemenangan, 29 gol, dan hanya kebobolan empat kali. Saya tidak akan bekerja keras melawan Köln karena bermain dengan cara biasa pun kita tetap berpeluang menang. Kualitas pemain kita jauh lebih baik dari mereka." Pep tidak melakukannya.

Alih-alih pulang dan bersantai, ia mengunci diri dan bermalam di ruang kerjanya, menganalisis lawan dan mencari kelemahan di lini pertahanan yang sangat rapat. Ia kemudian membeberkan hasil analisisnya dan mempraktikkannya di latihan. Pada hari pertandingan, Bayern menang telak empat gol tanpa balas.

Mengingat jadwal sepakbola Inggris sangat padat, situasi seperti ini akan lebih sering Pep hadapi. Ia akan menginap di kantor lebih sering dari sebelumnya dan dalam jangka panjang, hal ini akan membuatnya kelelahan. Pada akhirnya Pep akan meninggalkan Premier League karena membutuhkan istirahat dan ketika hari itu tiba, peluang juara kembali bersemi di kandang Arsenal, Liverpool, Manchester United, dan Chelsea.

Komentar