Pirlo sebagai New Yorker

Editorial

by Marini Saragih

Marini Saragih

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Pirlo sebagai New Yorker

Jika Andrea Pirlo bisa dianggap sebagai wakil paling sempurna dari elegansi khas sepakbola Italia, mari sejenak membayangkan ia menjadi New Yorker.

Walaupun belum bisa dibuktikan kebenarannya, beberapa hari terakhir, kabar kepindahan Pirlo ke New York City FC semakin santer terdengar. Katanya, selain urusan kepindahan yang diperkirakan akan selesai dalam minggu ini, ia akan mulai merumput di Yankee Stadium pada Februari 2016 bersamaan dengan habisnya masa kontrak bersama Juventus.

Barangkali ada banyak orang yang bakal menyaksikan anakronisme – ketidakcocokan penokohan pada zaman tertentu – jika membayangkan Pirlo mengecap kehidupan ala New Yorker.

Pirlo memang kerap terlihat sebagai sosok yang tua, pesepakbola kromo bergaya mriyayeni yang cenderung membosankan, lambat, begitu-begitu melulu, tidak melahirkan daya ledak yang bisa membangkitkan adrenalin.

New York adalah kota yang menjadi besar karena keterbukaannya. Ia terbuka pada modernisasi, ia mengharap publikasi. New York adalah kota yang gembira, yang gemar berpesta pora. Rasanya tak akan sesuai dengan Pirlo yang merasa cukup bermain Playstation di waktu senggang atau mengecap anggur dalam suasana yang tenang.

Namun demikian, saya teringat akan Italo Calvino – seorang penulis Italia kenamaan. Di akhir 1959, atas undangan Ford Foundation, Italo berkesempatan untuk tinggal di Amerika Serikat sekitar 6 bulan. Menarik mencermati apa yang dikatakan Calvino tentang Amerika, juga New York.

Katanya, New York adalah kota yang gemar memberi kesibukan dalam jumlah berlimpah, berlebih, overload. Kesibukan adalah ciri kota-kota besar dan modern, termasuk New York, yang hobi membikin siapa-siapa yang tinggal di dalamnya tak bisa tenang atau bersantai-santai penuh leha-leha. Orang-orang di sana kerap tenggelam dalam berbagai janji makan di siang hari dan undangan pesta di malam hari. Sementara paginya, masing-masing bersicepat di stasiun, halte, dan trotoar-trotoar agar tak terlambat di kantor. Semua bergegas dengan kesibukannya masing-masing.

Lucunya, dalam suratnya yang lain, Italo menjelaskan kalau tinggal di New York sama dengan membangkitkan lagi keberanian untuk hidup dengan senang. Jika menyimak kembali kesibukan-kesibukan a la Amerika yang diberikan New York, rasanya sulit bagi Italo untuk menikmati hidupnya. Apalagi ia berlatar belakang sebagai penulis yang biasanya mudah menangkap ketidakberesan dalam suasana yang hingar-bingar.

New York dengan segala tuntutannya sebagai kota modern seharusnya tidak bisa membikin penulis sepertinya, Calvino maksudnya, menobatkan diri sebagai New Yorker.  Namun demikianlah yang justru terjadi. Dengan segala paradoksnya, Calvino juga menyiratkan ia bisa menikmati sejumlah hal yang disodorkan oleh New York.

Agaknya hal ini disebabkan sebanyak apapun hal yang harus dilakukan, hidup sebagai New Yorker tidak mewajibkanmu untuk mencapai banyak hal – seperti itulah yang ditulis penulis buku Kota-Kota Imajiner ini dalam kumpulan suratnya. Orang bisa memilih bahkan untuk tak melakukan apa-apa.

Berangkat dari hal di atas, rasanya hidup sebagai New Yorker bukanlah pilihan yang buruk buat pesepakbola yang tak muda lagi seperti Pirlo. Di sana ia hanya perlu menyibukkan diri untuk menikmati apa yang tersisa dari dirinya sebagai pesepakbola. Barangkali di sana, tugasnya sebagai pesepakbola hanyalah bermain sepakbola, bukan merebut trofi ini dan itu.

Bahwa ia, mungkin, tidak akan terlalu menyukai hingar bingar kehidupan malam atau centang perenang di jam-jam sibuk kota New York, itu lain soal lagi. Toh, ia bisa saja memilih caranya sendiri untuk menikmati waktu-waktu di luar jam latihan atau hari pertandingan: seperti bermain play station atau menyesap anggur di balkon rumahnya yang pasti tidak buruk.

Ada sejumlah orang – terutama penulis dan fotografer – yang selalu bisa menangkap kemuraman di balik gemerlap kota-kota besar. Sebut saja Tokyo dengan fenomena bunuh dirinya, Paris dengan pencopet-pencopet handal di sekitaran Menara Eiffel, Seoul dengan orang-orang yang tak puas dengan bentuk wajah dan tubuhnya, atau bahkan Jakarta dengan orang-orang yang kerap direpotkan oleh luapan sungai yang tak jarang juga menjadi tempat mereka membuang kotoran.

New York sendiri, yang dielu-elukan sebagai kota yang tak pernah tidur, apalagi mati, juga memiliki kemuramannya sendiri. Mulai dari amarah yang ditumpahkan dalam bentuk coretan-coretan di dinding terowongan kereta bawah tanah, cerita tentang kaum-kaum yang terpinggirkan atau bahkan tragedi runtuhnya menara kembar.

Sebagai pesepakbola, Pirlo sesungguhnya punya sedikit kemiripan dengan New York. Di balik gemerlap karirnya, ia juga menyimpan cerita-cerita muram.

Karir Pirlo pun dimulai dengan cerita yang tak menyenangkan. Mulai dari olok-olok yang diterimanya akibat nama “Pirlo” yang sering dipelesetkan menjadi “Pirla” sampai menjadi pesepakbola yang dibayang-bayangi oleh idolanya sendiri di awal karirnya bersama Brescia. Untungnya, bagi Mazzone yang waktu itu melatih Brescia, Pirlo tetaplah permata yang belum terasah. Selain membutuhkan waktu, ia juga butuh seorang pengasah yang benar-benar ahli untuk mengeluarkan apa yang sebenarnya ada di dalam dirinya.

Cerita muram Pirlo berlanjut sampai di Milan. Setelah 10 tahun memanjakan klubnya dengan kreativitasnya sebagai pesepakbola, Milan justru membuangnya ke Juventus. Ia hijrah ke Turin dengan status free transfer. Di Milan, Pirlo memang menjadi pahlawan namun bersama Juventus ia menjadi legenda.

Statusnya sebagai legenda tak berarti membebaskannya dari cerita-cerita murung. Pertama kali mendapat kesempatan mengantar Juventus ke final Liga Champions, ia justru harus mengakui kekalahannya dari Barcelona. Jika musim kemarin memang menjadi musim terakhirnya bersama Juventus, maka rasanya kesempatan untuk mengangkat kembali trofi Liga Champion semakin mendekati kata mustahil.

Cerita lainnya tentang Andrea Pirlo

Rahasia Tendangan Bebas Ala Andrea Pirlo


Pirlo: Ketika Pep Menginginkanku, Aku Masih Ingin Bermain Playstation Bersama Nesta


Andrea Pirlo: Aku Tak Ingin Di Samping Buffon


Pirlo: Sir Alex Ferguson Merendahkan Reputasinya Ketika Menghadapi Saya


Andrea Pirlo: Pep Guardiola Pernah Menginginkan Saya untuk Bermain di Barcelona



Namun jika Pirlo memang serupa New York itu sendiri, rasanya tak salah untuk meyakini apa yang pernah dikatakan oleh penulis Turki, Ahmet Rasim, yang oleh penulis tenar Turki lainnya, Orhan Pamuk, disebut sebagai "juru kunci Istanbul. Kata Rasim, keindahan suatu tempat terletak pada kemurungannya.

Sepakbola yang dimainkan Pirlo adalah sepakbola yang tersorot kamera. Italia adalah negara yang besar juga dalam urusan sepakbola karena Italia sepakbolanya dalam waktu yang lama. Tapi sepakbola bukanlah olahraga yang populer di Amerika Serikat, walau sekarang mulai disukai. Apalagi New York City FC yang dikait-kaitkan dengan rumor kepindahan Pirlo adalah kesebelasan seumur jagung yang mengikuti kompetisi MLS baru pada musim 2014/2015 ini. Memutuskan berkompetisi di MLS berarti memutuskan untuk menepi sejenak dari gemerlapnya sorotan media. Rasanya seandainya pun Pirlo memang benar-benar berkompetisi di MLS, sepakbola Jerman ataupun Inggris masih lebih memikat kalangan media.

Namun sebagai pesepakbola, Pirlo sudah terbiasa tak mendapat sorotan media. Toh jika diperhatikan, dalam sepakbola, orang-orang yang “membawa” bola sajalah yang kerap ditangkap kamera. Orang-orang yang berlari tanpa bola tidak cukup menarik dipertontonkan. Padahal kalau dipikir-pikir, bagaimana cara mereka mengawasi lawan, ke mana mereka berlari mencari posisi yang tepat untuk membuka ruang atau menerima umpan adalah bagian yang sangat amat penting dari sepakbola itu sendiri.

Berkompetisi di MLS rasanya akan membuat Pirlo menjadi pesepakbola yang “terpinggirkan”. Namun saya sering mendengar pernyataan yang menobatkan Pirlo sebagai seniman lapangan hijau. Seniman yang tak terlihat bukan berarti seniman yang tak bekerja, karena bisa saja  di masa-masa tak terlihatnya itu, ia sebenarnya sedang menciptakan mahakarya. Barangkali mahakaryanya yang terakhir.

Kita tak akan pernah tahu, sampai sesuatu itu akhirnya tampak dan terlihat di depan mata.

Jika pun tak ada mahakarya yang dibuat Pirlo, toh ia bisa punya pilihan untuk dengan santai berkata: "I'm an alien. I'm a legal alien/ I'm an Italiano in New York."

Komentar