3 Hal yang Bisa Dipelajari dan Dilakukan Suporter Saat Jeda Kompetisi

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

3 Hal yang Bisa Dipelajari dan Dilakukan Suporter Saat Jeda Kompetisi

Sepakbola biasanya dinikmati hanya saat hari pertandingan saja. Ketika hari pertandingan, kita akan dengan seksama menyaksikan pertandingan sepakbola, entah di stadion atau di layar kaca, entah kesebelasan favorit atau bukan.

Namun ada cara lain menikmati sepakbola selain pada hari pertandingan. Karena pada kenyataannya, hari pertandingan tak akan hadir setiap pekan. Akan ada jadwal jeda internasional yang tak begitu menggairahkan, atau pun bagi pecinta sepakbola Indonesia yang masih menantikan Indonesia Super League (ISL) bergulir.

Bagi seorang suporter, tak ada hari yang ditunggu selain saat kesebelasan kesayangan bertanding. Tapi saat kompetisi belum mulai, dan ada ketidakpastian entah kapan bisa dimulai, seperti yang dialami ISL sekarang, boleh jadi akan seperti periode yang membosankan. Tapi jangan khawatir, ada beberapa tips yang bisa anda simak guna mengisi waktu jeda kompetisi. Tiga tips ini boleh jadi bisa membuat cara pandang anda terhadap sepakbola menjadi agak berbeda.

Mari kita simak apa saja hal yang bisa dilakukan untuk menikmati sepakbola ketika bukan hari pertandingan.

Menyaksikan Pemain Antah Berantah di Laga Uji Coba

Pertandingan uji tanding menghadirkan atmosfer yang berbeda dengan pertandingan kompetitif. Ada kesan yang jauh lebih santai, apalagi menghadapi lawan yang lebih rendah secara kualitas permainan.

Suasana di stadion pun umumnya berbeda. Terdapat perubahan cara pandang terhadap kesebelasan pujaan. Di pertandingan kompetitif, penggemar biasanya mendukung habis-habisan. Namun, di pertandingan uji tanding, penggemar berubah menjadi orang-orang yang kritis terhadap permainan kesebelasan.

Baca juga 6 Alasan Mengapa Harus Menonton Sepakbola Indonesia di Stadion

Apalagi jika lawan yang dihadapi kesebelasan kesayangan levelnya berada jauh di bawah, ekspektasi tinggi akan hadir. Kemenangan dengan skor telak dengan menampilkan permainan yang enak untuk ditonton menjadi pengharapan penonton yang hadir ke stadion menyempatkan waktu kosongnya.

Lewat pertandingan uji tanding pun kelemahan sebuah kesebelasan biasanya lebih terlihat. Kritik dari penggemar diejawantahkan dalam bentuk komentar verbal, maupun tulisan. Ini membuat penggemar lebih memahami masalah yang ada dalam kesebelasan.

Misalnya, pertandingan uji tanding antara Persija menghadapi Diklat Ragunan. Secara kualitas sepakbola, tentu sulit untuk menyamakan kualitas keduanya. Maka, ini bukan waktu yang tepat bagi pendukung Persija untuk berbahagia dan bersuka cita atas kemenangan atas Diklat Ragunan, karena di atas kertas hal tersebut tak perlu ditanyakan lagi. Bagaimana kesebelasan menyerang, bagaimana kesebelasan tersebut bertahan, menjadi aspek-aspek yang lebih diperhatikan kala menyaksikan pertandingan uji tanding.

Selain itu, lewat menyaksikan pertandingan uji tanding pun kita akan mendapatkan kesempatan menyaksikan pemain-pemain yang tak kita ketahui. Ya, ketika kesebelasan kesayangan kita melakoni uji tanding dengan kesebelasan yang tak terkenal, para pemain lawan yang kita saksikan notabene bukan pemain-pemain yang sering kita saksikan di liga resmi.

Bukan tak mungkin pula ketika menyaksikan pertandingan uji tanding kesebelasan kesayangan melawan kesebelasan ‘antah berantah’ ini kita akan menemukan eks pemain pro yang pernah malang melintang bersama sejumlah kesebelasan yang berlaga di divisi teratas Liga Indonesia.

Arema Cronus misalnya, kesebelasan kebanggaan kota Malang tersebut akan menghadapi kesebelasan Divisi Utama, Persip Pekalongan. Dari sejumlah pemain yang tak kita ketahui, nyatanya terdapat nama Ellie Aiboy, eks winger timnas Indonesia, dalam skuat Persip.

Menyimak kesebelasan kesayangan berlaga dengan kesebelasan yang lebih rendah levelnya, entah kesebelasan dari divisi bawah atau bahkan kesebelasan lokal sebuah kota, juga bisa menjadi hal menyenangkan karena memungkinkan anda melihat-lihat pemain antah berantah. Cobalah perhatikan pemain-pemain dari kesebelasan antah berantah yang sedang berlaga dengan kesebelasan kesayanganmu. Nikmatilah bagaimana mereka berlaga. Simak groginya mereka, kikuknya mereka, atau bahkan seberapa semangat mereka bertarung demi unjuk kebolehan.

Selalu menyenangkan, loh, jika bisa menemukan ada pemain-pemain antah berantah itu tiba-tiba ada yang punya kemampuan oke dan lumayan. Anda bisa menikmati sensasi sebagai seorang -- katakanlah-- pemandu bakat amatir.

Menonton Latihan SSB dan Turnamen Junior

Biasanya pertandingan anak-anak di stadion kurang mendapat animo besar. Padahal, merekalah calon bintang sepakbola di masa depan. Dengan menyaksikan bagaimana anak-anak bermain bola, kita bisa mengetahui sejauh mana kualitas para penerus bangsa.

Dalam beberapa kali menyaksikan pertandingan anak-anak, kerap terdengar celotehan dari rekan penulis, “Suatu saat, dia pasti akan jadi pemain besar.”

Setelah menyaksikan pertandingan tersebut, saya segera sadar kalau sebenarnya Indonesia punya bakat yang luar biasa dalam sepakbola. Anak-anak berusia di bawah 12 tahun tersebut bermain dengan bola-bola pendek dalam tempo yang begitu cepat, dengan teknik yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Salah satu yang tidak bisa dinikmati oleh penggemar sepakbola Eropa adalah obrolan dan percakapan seperti: "Eh, pemain nasional yang itu tuh dulu waktu kecilnya aja sudah kelihatan jago." Atau mendengar celetukan, "Pemain itu sih temannya adik saya. Dulu waktu kecil dia latihan di lapangan dekat rumah." Dan atau kalimat-kalimat lain yang mirip.

Obrolan atau celetukan macam itu, percayalah, akang sangat sulit ditemukan atau dirasakan oleh para penggemar sepakbola Eropa yang tinggal di Indonesia. Mereka hanya bisa melakukannya dengan diimbuhi konon dan konon, berdasar tulisan ini dan itu. Penggemar sepakbola lokal punya keistimewaan mengalami dan merasakan percakapan-percakapan intim seperti ini. Dan percapakan seperti inilah yang membuat sepakbola justru terasa lebih hidup, menjadikan sepakbola sebagai denyut nadi dan debar jantung dalam kehidupan sehari-hari kita.

Sama seperti bagian pertama, untuk kegiatan ini pun anda bisa menjajal seberapa berbakat anda sebagai seorang pemandu bakat. Cobalah sesering mungkin datang dan menonton latihan SSB atau turnamen junior. Ingat baik-baik seperti apa pemain yang menurut anda bagus. Jika perlu catatlah. Jika beberapa tahun kemudian dia menjadi pemain yang berlaga di kesebelasan top Indonesia, boleh jadi anda memang punya bakat yang baik sebagai pemandu bakat.

Dan yang lebih penting, dari kegiatan seperti ini, anda bisa mengendus seberapa kuat sub-kultur sepakbola di wilayah anda. Biasanya, jika sebuah kota sudah memiliki atmosfir sepakbola yang kuat, sangat biasa tribun penonton dalam turnamen-turnamen junior seperti ini diwarnai oleh komentar-komentar tajam tentang pemain muda X, Y atau Z. Sangat biasa mendengar kalimat: "Dia sih biasa saja. Yang bagus sih Si X, anak kampung sebelah."

Tidak heran jika nama-nama top pemain bola sekarang itu sebenarnya sudah diendus lebih dulu oleh para pemandu bakat kelas tarkam ini. Misalnya, Evan Dimas. Nama Evan sudah banyak dibicarakan di Surabaya jauh sebelum moncer bersama timnas U-19. Moncer menurut siapa? Ya menurut mereka yang getol nonton turnamen junior di seantero dan sekitar Surabaya.

Simaklah pengalaman Bung Mifta ini yang mengisahkan pengalamannya mendengar, dan akhirnya penasaran, dan kemudian malah kenal baik dengan Evan Dimas -- bahkan menjadi negosiator ketika Evan sempat didekati Persija.

Dalam pengalaman saya, jika ada seorang bocah yang permainannya cukup menarik perhatian, biasanya sepanjang pertandingan akan memerhatikan pemain tersebut. Ini untuk sekadar memastikan insting saya pribadi apakah benar pemain tersebut memang memiliki potensi, atau hanya kebetulan mendapatkan situasi yang membuatnya terlihat lebih hebat.

Seperti saat menyaksikan Adidas Predator Hunt Bandung tahun lalu misalnya. Sejumlah pemain muda cukup menarik perhatian saya. Saya sempat mengingat nama-nama pemain tersebut. Dan tanpa disangka, beberapa pemain ini tampil saat Persib U-16 menghadapi timnas U-16 beberapa waktu lalu.

Belajar Taktik dengan Menonton Sesi Latihan

Salah satu cara untuk memahami taktik yang digunakan oleh pelatih adalah dengan menyaksikan sesi latihan. Lewat sesi latihan, kita bisa mengetahui bagaimana cara sebuah kesebelasan berlatih, entah itu taktik, teknik, maupun fisik.

Dengan berbekal menyaksikan dan memahami latihan, kita bisa lebih bisa menilai sejauh mana kualitas kesebelasan tersebut. Karena ketika sebuah kesebelasan bermain buruk, ada dua kemungkinan: skema pelatih yang buruk atau pemain yang tak bisa memahami apa yang diinginkan pelatih.

Persipura sebagaimana yang kita ketahui, memiliki pemain-pemain dengan kecepatan mumpuni. Serangan balik yang mereka lakukan pada pertandingan pun seringkali mampu menjadikan gol bagi Muiara Hitam. Dan lewat menyaksikan sesi latihan, saya pun bisa mengetahui bagaimana Persipura melatih serangan balik cepat mereka.

Lewat menonton latihan pun kita akan mendapatkan cerita-cerita menarik lebih dari sekadar kejutan yang didapatkan seorang pemain yang sedang berulang tahun. Misalnya saja ketika Piala AFF 2014 lalu.

Jika kita hanya mengetahui bahwa Alfred Riedl gemar menginstruksikan para pemain timnas melakukan umpan-umpan panjang untuk menyerang lini pertahanan lawan, dengan menyaksikan latihan timnas, kita bisa mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan pelatih asal Austria tersebut.

Saat saya mewawancarai Immanuel Wanggai beberapa waktu lalu, ia mengatakan bahwa pada sesi latihan timnas pada Piala AFF 2014, latihan tak kondusif setelah ditahan imbang 2-2 oleh tuan rumah Vietnam. Inilah yang membuat timnas saat itu dikalahkan Filipina pada pertandingan kedua dengan skor telak 4-0.

Pada kesempatan lain, saya pernah berbincang dengan bek muda Mitra Kukar, Yanto Basna. Yanto mengatakan bahwa saat sesi latihan Mitra Kukar pada SCM Cup beberapa waktu lalu, Zulkifli Syukur sempat memarahi seorang staf pelatih Mitra Kukar karena terjadi kesalahpahaman di antara keduanya.

Hal-hal di atas tentunya tak akan kita ketahui jika kita tak menyaksikan sesi latihan. Dari hal-hal di atas pula kita bisa mendapatkan cerita-cerita lain sepakbola yang tak tertangkap kamera atau pandangan kita saat menyaksikan sepakbola pada hari pertandingan.

Kegiatan Selingan yang Menyenangkan

Itulah hal-hal yang bisa kita lakukan untuk menikmati sepakbola di luar hari pertandingan. Dengan melakukan kegiatan-kegiatan di atas, kita akan mendapatkan pengalaman menarik dari sepakbola, lebih dari sekadar menyaksikan pertandingan untuk menantikan sebuah kesebelasan memenangi pertandingan.

Selama dua minggu, kesebelasan nasional akan berlaga, membuat tak akan ada pertandingan klub pada akhir pekan. Inilah yang biasanya membuat jeda internasional begitu dibenci oleh para pecinta sepakbola. Belum lagi ISL masih belum juga bergulir.

Tapi dengan tiga tips di atas, semoga bisa membuat kita lebih bergairah ketika tak ada pertandingan yang kita nantikan. Bahkan biasanya, pengalaman-pengalaman tersebut bisa menjadi cerita tersendiri yang bisa kita bagikan untuk orang lain. Jangan lupa, Pandit Sharing bisa menjadi panggung kalian untuk berbagi kisah.

Ini mungkin bisa menjadi tambahan kegiatan yang lebih menarik ketimbang melulu bermain game sepakbola, seperti FM misalnya, yang malah lebih sering membuat anda menjadi cenderung sok tahu.

*Foto di atas di ambil saat menyaksikan Persib Bandung uji tanding melawan Cilegon United

Komentar