Insiden Gerrard, Liverpool- Chelsea, dan Makna Kebetulan dalam Sepakbola

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Insiden Gerrard, Liverpool- Chelsea, dan Makna Kebetulan dalam Sepakbola

Menjelang akhir musim 2013/2014, di laga yang sangat amat menentukan, kapten Liverpool, Steven Gerrard, tiba-tiba terpeleset saat hendak menerima umpan pendek dari Mamadou Sakho. Lalu tanpa ada hambatan berarti, striker Chelsea, Demba Ba, yang berada di dekatnya, langsung mencuri bola dan menggiringnya ke depan gawang Liverpool dari sepertiga lapangan. Gol pun Ba ciptakan setelah memenangi duel satu lawan satu dengan Simon Mignolet.

Setelah pertandingan usai, selain taktik defensif Chelsea  saat itu yang dianggap anti-strategi, tentu saja blunder Gerrard tak luput menjadi bahan perbincangan. Jikalau Gerrard tak terjatuh, mungkin hasil pertandingan akan lain. Dan jika saja Gerrard tak jatuh, mungkin saat ini Liverpool sudah berhasil mengangkat trofi Liga Inggris-nya yang ke-19.

Gerrard tentunya tak ingin terpeleset. Atau bisa dibilang, ada unsur kebetulan pada laga tersebut yang mengakibatkan Liverpool kalah. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah benar sebuah kejadian yang tak disengaja dalam sepakbola bisa dikatakan menjadi penyebab hasil suatu pertandingan?

Coincidence atau ketidaksengajaan dalam sepak bola sering dituding sebagai biang kerok dari hasil suatu pertandingan. Banyak orang beranggapan bahwa jika insiden itu tak terjadi maka hasil pertandingan akan seperti ini, seperti itu dan sebagainya, misalnya seperti contoh kasus Gerrard di atas.

Jika berkaca kejadian yang menimpa Liverpool itu, mungkin anda juga akan mengamini bahwa ketidaksengajaan dalam sepakbola bisa menjadi faktor hasil akhir adalah benar adanya. Tapi, jika anda memang beranggapan seperti itu, mungkin saya akan bilang kalau anda enggak sepakbola banget. Ya, anda melupakan esensi dari sepakbola yang sebenarnya.

Seperti yang kita ketahui, sepakbola adalah sebuah olahraga yang paling banyak digemari dan dimainkan di seluruh dunia. Tercatat 250 juta orang telah memainkannya. Tentu ada alasan tersendiri mengapa sepak bola menjadi begitu ‘besar’.

Pada olahraga basket, postur tubuh tinggi menjulang adalah suatu keunggulan. Tapi dalam sepak bola, postur tubuh tidak menjadi suatu tolak ukur. Jika seseorang lemah secara kekuatan fisik dan stamina, jangan pernah bermimpi menjadi seorang bintang rubgy.

Tapi dalam sepakbola, ada peran yang bisa dimainkan untuk menutupi kelemahan itu. Di rugby, seorang winger biasanya adalah pemain dengan lari tercepat. Tapi di sepakbola, apakah David Beckham yang berposisi sebagai pemain sayap kanan memiliki kecepatan yang luar biasa?  Yang ada justru sebaliknya.

Itulah yang menyebabkan sepakbola berbeda dari olahraga lain. Sepakbola memiliki kemewahan taktik dan strategi. Taktik dan strategi tentu saja bukan hanya soal 4-4-2 melawan 4-3-3. Jika kita menggali lebih dalam tentang taktik dan strategi dalam sepakbola, kita akan seperti berjalan di sebuah rel kereta api. Taktik dan strategi dalam sepak bola terlalu sukar untuk dicari batasnya.

Berdasarkan hal itu, sepakbola seringkali diibaratkan perang. Kedua kubu berjuang saling mengalahkan demi sebuah harga diri, kehormatan, dan yang terpenting kemenangan. Memiliki prajurit terkuat pun tak menjamin sebuah kubu keluar sebagai pemenangnya. Diperlukan seorang jenderal yang mampu memimpin pasukannya dengan berbagai kelihaian masing-masing individu untuk menciptakan pertahanan yang kuat dan serangan yang mematikan dengan memaksimalkan kemampuan yang dimiliki.

Mengapa? Karena tidak ada formasi yang secara permanen dikatakan formasi pemenang. Adalah sang jenderal yang mampu menciptakan formasi pemenang-nya sendiri. Figur seorang jenderal ini harus ada dalam sosok pelatih sepakbola.

Kembali pada pertandingan Liverpool – Chelsea, pertandingan  yang berakhir kemenangan bagi sang tamu memang dibumbui oleh sebuah insiden yang tak terduga, dimana Gerrard tiba – tiba terpeleset menjelang akhir babak pertama. Tapi setelah kejadian itu, masih ada 45 menit babak kedua yang akan dimainkan kedua tim. 45 menit waktu bagi Brendan Rodgers untuk mencetak gol, menyamakan kedudukan, bahkan membalikkan keadaan.

Tapi yang kita lihat adalah ketidakmampuan Brendan Rodgers membongkar pertahanan Chelsea ala Mourinho  yang terkenal dengan sebutan ‘parkir bus’. Pada pertandingan itu terlihat sekali bagaimana para pemain Chelsea tahu betul apa yang diinginkan sang jenderal Mourinho.

Demba Ba memang seperti mendapatkan durian runtuh ketika Gerrard terpeleset, tapi itu pun bagian taktik dari Mourinho yang memfungsikan Ba agar selalu menjadi pemain pertama yang melakukan pressing ketika pemain Liverpool memegang bola di area tengah lapangan.

Bahkan tak hanya itu, gol kedua yang diciptakan Willian pun merupakan taktik jitu the special one. Willian masuk pada babak kedua menggantikan Mohammed Salah. Sementara yang memberikan assist bagi Willian, Fernando Torres, masuk 10 menit menjelang bubaran menggantikan Ba. Ini tentunya buka hal yang kebetulan, tapi kecerdikan Mou dalam pergantian pemain.

Sebenarnya masih banyak contoh lain bagaimana sebuah kejadian yang secara kebetulan menghiasi panggung lapangan hujau. Sebut saja seperti tendangan yang berkali – kali membentur mistar gawang pada satu pertandingan atau Gol kedua Inzaghi saat final Liga Champions 2007.

Namun, bukan berarti sebuah kejadian yang kebetulan terjadi itu membuat kita melupakan sisi lain di mana logika kita berada. Karena sesungguhnya, tak hanya dalam konteks sepakbola, kebetulan dalam kehidupan sehari – hari pun pastilah sering kita temui.

Setiap kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita selalu ada campur tangan dari sang pencipta kita. Dan sialnya, sang pencipta kita ini memiliki cara yang unik untuk menyuguhkan kehidupan yang harus kita jalani dan hadapi.

Tapi sebenarnya, ada hal yang lebih penting dari kejadian yang tak terduga itu. Yaitu, bagaimana cara kita mengeksekusi apa yang Tuhan suguhkan untuk kehidupan kita. Bagaimana cara kita menyikapi situasi yang ada dihadapan kita. Jika kita hanya memberi jawaban ‘kebetulan’ pada setiap hal yang terjadi, maka kita hanyalah seperti orang yang mencoba bersembunyi dari realita.

Baca juga: Mengingat Isyarat Blunder Steven Gerrard

foto: flickr.com

Komentar