Nasib Brendan Rodgers Ada di Tangan The Beatles

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Nasib Brendan Rodgers Ada di Tangan The Beatles

Semalam (2/10), Liverpool harus mengakui kehebatan FC Basel, klub asal Swiss. Gol semata wayang Basel yang diciptakan Marco Streller, menjadi satu-satunya gol yang tercipta pada laga yang berlangsung di St. Jakob Park, kandang Basel.

Ya, Liverpool gagal mencetak gol pada laga tersebut. Lini depan Liverpool tak berkutik menghadapi tim sekelas Basel yang sejatinya hanya juara Liga Swiss, sebuah liga yang kualitasnya jelas berada di bawah Liga Primer Inggris tempat Liverpool bernaung.

Lantas muncul pertanyaan, bagaimana bisa Liverpool tak mampu mencetak gol padahal mereka memiliki pemain seperti Mario Balotelli, Raheem Sterling, Philippe Coutinho, Rickie Lambert, dan Steven Gerrard?

Graeme Souness, mantan pemain dan manajer Liverpool, memiliki jawaban yang mungkin juga menjadi jawaban para Liverpudlian. Menurutnya, para pemain anyar Liverpool tak mampu menggantikan kehilangan dari Luis Suarez.

Seperti yang dikatakannya pada Sky Sports: “Musim lalu, Liverpool bermain dengan gembira. Mereka bermain ceria tak peduli pertandingan itu berjalan seperti apa. Karena mereka yakin, begitu mendominasi pertandingan, serangan bergelombang akan dilancarkan Luis Suarez dan tandemnya Daniel Sturridge. Di mana Suarez selalu berhasil mencatatkan namanya pada papan skor.”

Apa yang dikatakan Souness ada benarnya. Apalagi setelah Sturridge harus menepi karena cedera, Mario Balotelli yang diproyeksikan sebagai lumbung gol, tak berkutik dalam beberapa pertandingan Liverpool. Dan kala melawan Basel, pergerakannya berhasil dimatikan sepanjang pertandingan. Ia selalu kehilangan sentuhan ketika menguasai bola di area kotak penalti milik Basel.

Tapi tak adil jika menyalahkan Balotelli seorang. Karena pada kenyataannya, Brendan Rodgers telah menghamburkan lebih dari 120 juta poundsterling untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas mereka yang musim lalu berhasil menjadi runner up liga Inggris.

Ya, aktivitas transfer mereka jelas jauh dari harapan. Pasalnya, kekalahan semalam melengkapi rentetan hasil buruk The Reds di liga domestik. Dalam tiga pertandingan terakhir, Liverpool tak sekalipun meraih kemenangan. Ini jelas membuktikan bahwa para pemain anyar mereka belum bisa memberikan kontribusi maksimal.

Apa yang dialami Liverpool saat ini kurang lebih serupa dengan kondisi Tottenham Hotspur musim lalu. Musim lalu, Tottenham bersusah payah untuk meraih tiket bermain di kompetisi Eropa. Padahal di musim sebelumnya, Hotspur dengan gagah bersaing dengan Arsenal, Chelsea, Manchester United dan Manchester City untuk posisi top four Liga Primer Inggris. Walaupun pada akhirnya hanya finish di peringkat lima.

Penurunan kualitas yang dialami Tottenham tersebut diakibatkan oleh pembelian pemain yang gagal. Kepergian Gareth Bale yang menjadi pemain kunci Tottenham ketika bersaing di papan atas Liga Premier Inggris musim 2012-2013, tak mampu digantikan oleh sejumlah pemain yang ditransfer dengan total biaya 100 juta poundsterling lebih.

“Mereka (Tottenham Hotspur) menjual seorang Elvis untuk membeli The Beatles,” ujar Garth Crooks, legenda Tottenham Hotspur.

Ungkapan Crooks tersebut jelas merujuk pada kegiatan transfer Tottenham pasca kepergian Bale. Ia menganalogikan Bale sebagai Elvis Presley, seorang penyanyi rock n’ roll paling populer di dunia, dan suksesor Bale seperti Erik Lamela, Hugo Lloris, Paulinho, dan Roberto Soldado sebagai The Beatles, grup Band asal Liverpool yang populer secara kesatuan. Di mana menurut pandangan Crooks, The Beatles masih kurang powerful dalam dunia musik dibanding Elvis yang menjadi inspirasi banyak musisi dunia.

Analogi ini pun tampaknya sangat pas disematkan pada Liverpool jika kita mengamini apa yang dikatakan Graeme Souness. Dalam hal ini, Luis Suarez sebagai Elvis Presley, dan Balotelli-Lallana-Markovic-Lambert sebagai The Beatles.

Jika memang begitu adanya, Brendan Rodgers jelas perlu khawatir. Pasalnya, Andre Villas Boas, manajer Tottenham yang gagal menambal kehilangan sosok Bale dengan sejumlah pemain berkualitas itu, hanya bertahan setengah musim pada musim keduanya. Villas Boas dipecat pada Desember 2013 meski ia memiliki persentase kemenangan di liga tertinggi dalam sejarah Liga Inggris sejak 1992.

Maka itu artinya, jangan heran jika awal tahun nanti Liverpool sudah tak lagi ditangani Brendan Rodgers. Kecuali Rodgers segera berbenah dan menemukan formula pas yang bisa memaksimalkan potensi para ‘The Beatles’-nya agar tak kalah populer dari Elvis Presley.

foto: commons.wikimedia.org

Komentar