Pragmatisme Sepakbola sebagai Keindahan yang Lain

Cerita

by Zen RS 36954

Zen RS

Board of director | Panditfootball.com

Pragmatisme Sepakbola sebagai Keindahan yang Lain

Benarkah keindahan hanya milik taktik sepakbola menyerang? Benarkah keindahan itu, termasuk dalam sepakbola, hanya berdimensi tunggal? Mari kita kita periksa kembali dengan mencoba memahami alam pikiran Otto Rehhagel.

Masih ingat Otto Rehhagel? Orang yang secara luar biasa memimpin negeri kurcaci sepakbola seperti Yunani menjadi raja di Eropa pada 2004 lalu. Dengan taktik superdefensif, anak asuh Rehhagel berhasil mengandaskan semua unggulan, termasuk mengalahkan tuan rumah Portugal di partai puncak Piala Eropa 2004.

Rehhagel adalah orang yang sangat sederhana dalam cara berpikir. Dia bukan tipe pelatih yang senang menyusun teori dan gagasan-gagasan njlimet laiknya Cesar "El Flaco" Menotti dari Agentina atau Rinus Michels dari Belanda yang kerap dijuluki sebagai "para filsuf sepakbola". Prinsip permainan yang dianut Rehhagel memang sederhana: perkuat lini pertahanan, jangan beri celah kepada lawan untuk memasuki kotak penalti, lalu kirimlah serangan balik yang tidak harus cepat, tapi yang penting tertata dan tidak sembrono.

Itulah pragmatisme Rehhagel yang, suka atau tidak, telah terbukti membawa Yunani menjadi juara Eropa 2004 dengan menahan seri Spanyol, menaklukkan Ceko, Prancis dan Portugal (Portugal bahkan dipecundangi dua kali: di partai pembukaan dan partai final).

Dari situ, pelan-pelan terlihat bagaimana Otto Rehhagel membimbing anak asuhnya dengan sebentuk "pragmatisme".

Ditakik dari bahasa Yunani, "pragma", yang berarti perbuatan atau tindakan, pragmatisme sebenarnya ingin menunjukkan bahwa benar tidaknya sebuah teori atau gagasan hanya bisa diketahui setelah terbukti membawa hasil atau faedah yang bagus. Jika terbukti berfungsi dan berfaedah, sebuah teori atau gagasan bisa dinyatakan benar.

Pada Brazil, pragmatisme berarti bermain menyerang. Dengan bakat-bakat hebat, luar biasa, dan stok pemain bagus yang berlimpah, menyerang adalah -- dengan mengutip pengertian pragmatisme di atas -- sebuah teori yang diyakini akan membawa hasil atau faedah yang bagus yaitu kemenangan.

Pragmatisme Rehhagel terlihat sewaktu ia menerjemahkan apa arti dari "permainan modern". Modern, bagi Rehhagel, bukanlah permainan indah ala Brazil, cattenacio ala Italia, atau total footbal ala Belanda. Modern juga tidak berurusan dengan pola 4-4-2 atau 4-3-3. "Siapa yang menang, dialah yang modern," ucap Rehhagel, seperti yang dikutip Sindhunata.

Melalui parafrase dengan persistensi yang tinggi itulah, Rehhagel menjlentrehkan bukan hanya apa yang dimaksud sebagai "modern", tapi menjelaskan dengan gamblang apa yang dimaksud dengan pragmatisme. Siapa yang menang, siapa yang menghasilkan faedah yang paling maksimum, mereka yang pragmatis.

Mestikah diherankan jika cara berpikir Rehhagel itu nyaris segendang-sepenarian dengan kata-kata William James, filsuf yang memang diakui sebagai penubuh terpenting aliran pragmatisme: "If you care enough for a result, you will most certainly attain it."

Pragmatisme ala Rehhagel juga mengandung kejujuran yang tanpa cadang, sebab jika kalah Rehhagel tak akan pernah bisa merengek-rengek sembari berdalih begini: "Walaupun kami kalah tapi kami telah bermain indah" -itu dalih yang kerap dikerek tim-tim besar saat dipecundangi tim underdog yang memilih bermain sederhana dan tidak neko-neko.

Tentu saja tidak ada yang salah dengan pragmatisme. Ia hanya mengajarkan pada siapa saja untuk lebih realistis memandang hidup: lakukan apa yang memang mungkin dilakukan, hindari yang memang tidak mungkin menghasilkan.

Orang boleh menuduh Rehhagel telah membunuh kerinduan terhadap sepakbola yang indah. Masalahnya, Rehhagel tak memiliki materi pemain yang memungkinkan dihelatnya pagelaran sepakbola indah -- jika keindahan diringkus dan disederhanakan semata perkara dribling yang memukau, gocekan yang lihay atau umpan satu dua yang semulus sutera. Tak masuk akal meminta Yunani bermain indah seperti Prancis di bawah pengaruh sihir seorang balerina bernama Zidane atau seperti Belanda yang menyerang dengan heboh bak angin puting beliung di bawah kibaran panji-panji total-football.

Rehhagel hanya memilih strategi permainan yang paling mungkin direalisasikan oleh anak asuhnya. Dan ia jujur mengungkapkannya secara terbuka. Jika kelak pragmatisme permainan ala Rehhagel yang sederhana itu yang berhasil, seperti yang ditunjukkan pada Piala Eropa 2004, jangan salahkan Rehhagel, tapi salahkanlah total-football Belanda atau permainan cepat ala Ceko atau Jogo Bonito-nya versi Portugal yang gagal meluluh-lantakkan kesederhanaan permainan Yunani.

Lagi pula, menyerang dan mendominasi penguasaan bola tidak serta merta membuat sebuah tim menjadi indah dan enak dilihat. Ada banyak pertandingan yang membosankan bahkan walau pun sebuah tim begitu dominan menguasai bola. Sekadar menyerang, asal menguasai bola, tidak dengan otomatis membuat sebuah tim menjadi indah. Tentu saja menyerang dan mendominasi penguasaan bola lebih berpotensi menghadirkan penampilan yang enak ditonton. Tapi, sekali lagi, itu semua tidak serta merta. Apa lagi jika dominasi penguasaan bola dan penyerangan itu berlangsung tidak efektif, monoton, sporadis dan tidak tertata serta gagal menembus pertahanan lawan.

Memahami bahwa mendominasi penguasaan bola atau bermain menyerang tidak serta merta menjadikan sebuah tim sebagai indah itu penting sekali dicamkan agar tak kelewat enteng menilai pertandingan. Juga agar tidak gampangan menilai komposisi warna-warni dengan sendirinya indah. Tidak ada yang salah menganggap komposisi -- katakanlah foto-- yang berwarna-warni itu indah. Namun jangan pernah mengabaikan kemungkinan komposisi hitam-putih pun bisa menghadirkan imaji yang memukau.

Cukup jelas: keindahan tidak berdimensi tunggal. Dalam sepakbola, keindahan tidak selalu identik dengan kerumitan strategi, kecanggihan pola permainan, atau kedahsyatan skema penyerangan. Keindahan bisa saja ditemukan dalam kesederhanaan-kesederhanaan yang jujur, tak berpura-pura, dan apa adanya.

Lagipula, kita memang berasal dari keindahan yang sebenarnya sederhana. Itu kata-kata yang saya gubah dari parafrase yang ditulis penyair Ralph Waldo Emerson dalam bagian delapan dari buku tipisnya yang berjudul The Conduct of Life (1860).

Komentar