Memori WE dan Hadirnya Pemain Liga Indonesia

Cerita

by Febrian Hafizh Muchtamar

Febrian Hafizh Muchtamar

All time poser.

Memori WE dan Hadirnya Pemain Liga Indonesia

Winning Eleven (WE), sebuah gim simulasi sepakbola yang tidak pernah larut dalam ingatan kita semua. Sekitar akhir tahun 90-an atau awal 2000-an, WE muncul menemani kita di masa kecil sampai remaja.

Saya merupakan penggemar berat WE sejak kecil. Meski bukan berstatus sebagai anak rental, saya tetap gembira memainkan WE sendiri di rumah. Pun, kadang-kadang ketika jenuh, saya menantang teman satu komplek bermain WE.

Lebih sering memilih bermain di rumah, saya kerap dianggap aneh oleh teman-teman rental. Bukan tanpa sebab. Sebagai anak kecil dan tunggal, orang tua saya selalu melarang bermain di rental yang harus merogoh kocek. Demi menyiasati gairah main gim, saya pun meminta orang tua untuk membelikan konsol PlayStation 1.

Saat memutuskan membeli konsol, WE adalah tajuk utama. Saya membeli konsol karena ingin bermain WE, bukan F1 ataupun Moto GP. Gairah sepakbola sudah mengalir deras dalam darah sejak saya kecil.

Pagi hari di sekolah, di tengah-tengah jam belajar, saya hampir selalu mengajak teman berdiskusi tentang mana yang terbaik di antara Ronaldo dan Zinedine Zidane. Namun sampai satu hari pun, tidak akan ada kesimpulan yang pas atas kedua pemain legendaris itu.

Sesaat jam belajar selesai, saya akan menuju lapangan sekolah dan bermain sepakbola untuk mengisi jam istirahat. Tapi tidak lupa, ditemani teh gelas dan satu bakwan goreng dari kantin sekolah.

Sepakbola tidak selesai sampai di sekolah. Saya akan bermain gim WE di rumah selama satu sampai dua jam setelah makan siang. Jika tidak makan, ibu yang menyuapkan sendok demi sendok makanan saat saya sibuk menggenggam stick konsol.

Ibu saya pernah berkata, “jangan sering bermain gim, nanti matamu sakit” sambil mengarahkan sendok ke mulut saya. Sesering apapun main gim, sampai sekarang kondisi mata saya masih terbilang normal. Entah pandangan saya selalu jauh dari layar televisi, atau grafik WE yang begitu bagus pada zamannya.

Tahun 2000-an, gim WE terbilang memiliki grafik termutakhir. Saya dan sederet pemain WE tidak peduli dengan Frame Per Second (FPS). FPS bisa diartikan sebagai tolak ukur seberapa bagus grafik sebuah gim.

Rasanya WE sudah terbilang gim dengan kualitas grafik terbaik, jika dipandang pada zamannya. Dari wujud pemain, wasit, lapangan, sampai suporter yang cukup menggema.

Tapi satu hal, WE di zaman PlayStation 1 tidak begitu banyak konten yang disediakan. Dari situ, modder pun muncul dan menambal semua kekurangan gim.

Pemain Indonesia di WE

Dari konsol PlayStation 1, saya menukarnya menjadi PlayStation 2. Ini adalah bentuk peralihan zaman, demi mendapat kualitas grafik gim yang lebih mumpuni. Terlebih lagi, modder atau sebutan pihak independen yang memodifikasi gim, kerap kali memoles gim di konsol generasi kedua ini.

Modder tidak bekerja secara resmi untuk perusahaan gim. Melainkan mereka hanya seseorang atau sekumpulan orang yang bertugas melengkapi konten-konten gim. Tidak sedikit konten di gim, salah satunya WE, tidak memasukkan sejumlah pemain atau lapangan.

Sama halnya konten asli Indonesia tidak hadir dalam gim sekaliber WE. Padahal dekade 2000-an, rental gim menggeliat di sudut-sudut daerah, ramai dikunjungi anak kecil sampai remaja. Demikian juga pemain konsol rumahan seperti saya. Setidaknya tempat tinggal rata-rata masyarakat kelas menengah ke atas memiliki konsol.

Untuk mengubah hal itu, modder Indonesia pun bergerak. Modder memasukkan berbagai konten, seperti pemain, lapangan, jersey, sampai papan skor asli kompetisi Indonesia di WE. Dikutip dari Remotivi, modder akan menjalankan teknik programing, membuat model 3D, dan juga penambahan tekstur konten gim.

Hasil kerja para modder, akan dipasarkan di toko-toko gim. Bentuknya tidak jauh berbeda dengan wujud kaset gim asli, hanya menambahkan tampilan depan sebuah kaset. Jika di WE, pemain-pemain Indonesia akan tampil di depan kaset sebagai konten dari modder.

Saya jelas kegirangan melihat penggawa yang berlaga di kompetisi Indonesia, bisa masuk ke WE. Pemain seperti Bambang Pamungkas, Zaenal Arif, Cristian Gonzales, Zah Rahan, dan masih banyak lagi, bisa saya mainkan di WE.

Kehadiran pemain-pemain Indonesia di WE sebenarnya tergolong ilegal. Pasalnya, WE tidak punya lisensi resmi pemain Indonesia. Tapi, pengalaman memainkan pemain lokal adalah kenangan paling indah di zaman itu.

Di sisi lain, saya juga merasa bersalah lantaran memakai produk ilegal. Namun yang patut merasa bersalah, adalah liga Indonesia itu sendiri. Jika liganya bagus, demikian juga pemainnya. Semakin bagus pemain, potensi tembus luar negeri juga besar. Ini lah yang menjadi pertimbangan gim sepakbola memasukkan pemain tersebut.

Sebagai contoh adalah Egy Maulana Vikri saat berkarir di klub Polandia, Lechia Gdansk. Ia masuk FIFA Mobile di musim keempat dan kelima. Bisa dibilang, Egy menjadi satu-satunya pemain Indonesia di gim FIFA Mobile besutan EA Sports.

Keberhasilan Egy masuk ranah gim, salah satunya, berkat menembus klub luar negeri (selain karena peran komunitas #FIFAMobileIndonesia). Egy memang terbilang beruntung, mengingat tidak banyak pemain asal Indonesia yang masuk gim sepakbola. Namun, sekarang peluang lebih banyak pemain Indonesia masuk gim, tentu terbuka lebar. Sebab selain Egy, ada beberapa pemain tengah bermain di klub luar negeri.

Kita bisa merasa agak lega, mengingat beberapa pemain Indonesia yang tengah berkarir di klub luar negeri, berpeluang masuk gim dengan resmi. Kita tidak perlu lagi meminta seorang modder untuk memasukkan pemain-pemain Indonesia ke dalam gim.

Komentar