Piala Eropa 2020: Ukraina dan Poros Kyiv

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Piala Eropa 2020: Ukraina dan Poros Kyiv

Prestasi terbaik Timnas Ukraina adalah mencapai perempat final Piala Dunia 2006. Sejak itu, mereka belum pernah mendekati level yang sama. Zhovto-Blakytni gagal lolos Piala Dunia dan dua kali gugur di fase grup Piala Eropa. Kiprah mereka di Perancis 2016 sangat mengecewakan: menjadi juru kunci dengan nol poin dan nol gol.

Perubahan mulai dilakukan setelah kegagalan Piala Eropa 2016. Mykhaylo Fomenko dipersilakan pergi dan top skor sepanjang masa Ukraina, Andriy Shevchenko, ditunjuk menggantikannya. Eks pemain AC Milan itu menjanjikan kiprah yang lebih baik bagi Timnas Ukraina.

“Pertama-tama, kami harus mengganti struktur permainan. Kami harus mendasarkan permainan kami dari keunggulan yang kami miliki. Kami memiliki banyak gelandang berkualitas dan bertalenta yang dapat membantu kami menjaga penguasaan bola,” kata Shevchenko pada 2016 silam.

Awalnya, Shevchenko gagal memenuhi target. Anak asuhnya tak lolos ke Piala Dunia 2018. Ukraina menghadapi persaingan sengit dari Islandia dan Kroasia di babak kualifikasi. Mereka finis di peringkat tiga setelah dikalahkan Kroasia di partai terakhir.

Di kualifikasi Piala Eropa 2020, legenda AC Milan itu menebus kegagalan. Skuad besutan Shevchenko tampil impresif dan menjuarai Grup B, mengungguli Portugal dan Serbia. Zhovto-Blakytni lolos tanpa menelan satu pun kekalahan. Serbia dihajar 5-0 dan Portugal dibungkam 2-1 dalam perjalanan mereka ke putaran final.

Kini, Shevchenko berpeluang meloloskan Ukraina ke fase gugur Piala Eropa, pertama kalinya sepanjang sejarah. Ia berkesempatan menyamai torehan striker legendaris Ukraina yang lain, Oleg Blokhin.



Blokhin membawa Ukraina ke perempat final Jerman 2006. Waktu itu, Shevchenko masih menjadi kapten dan penyerang andalannya.

Sukses meneruskan estafet Blokhin sebagai striker, Shevchenko mulai menapaki jejaknya sebagai pelatih. Sebagai pemain, mereka hanya terpaut enam gol internasional. Shevchenko 48 dan Blokhin 42. Bedanya, Blokhin bermain untuk Uni Soviet sedangkan Shevchenko masuk timnas ketika Ukraina sudah merdeka.

Keduanya juga dibesarkan oleh klub yang sama: Dynamo Kyiv. Sejak era Uni Soviet, klub ini telah menyumbangkan banyak pemain yang moncer bersama timnas. Hari ini pun tak berbeda.

Dari 26 pemain yang dibawa Shevchenko ke Piala Eropa 2020, hanya delapan orang yang merumput di liga asing. Hanya Inggris dan Rusia yang memiliki proporsi pemain liga domestik lebih banyak. 18 pemain berasal dari liga domestik. Dan 10 di antaranya merupakan pemain Dynamo Kyiv. Rival terbesar Dynamo, Shakhtar Donetsk menyumbangkan tujuh pemain.

Dinamo Ukraina, Dynamo Kyiv

Saat melakoni partai pembuka lawan Belanda, 14 Juni lalu, lima starter Ukraina merupakan pemain Dynamo Kyiv. Mereka adalah Sergiy Sydorchuk, Vitaliy Mykolenko, Ilya Zabarnyi, Oleksandr Kavayev, dan Gregoriy Bushchan.

Lawan Makedonia Utara, lima penggawa Dynamo Kyiv kembali masuk 11 utama. Bedanya, kali ini Sydorchuk keluar, Mykhola Shaparenko masuk. Shaparenko menggantikan Oleksandr Zubkov. Sedangkan peran Sydorchuk di pos holding midfielder digantikan ikon Shakhtar Donetsk, Taras Stepanenko.

Pengaruh besar Dynamo Kyiv terhadap Timnas Ukraina bukan terjadi di era Shevchenko saja. Di Piala Eropa 2012, skuad Ukraina juga didominasi klub ibukota tersebut. Oleg Blokhin juga membawa tujuh pemain Dynamo Kyiv di Jerman 2006. Piala Eropa 2016 merupakan satu-satunya turnamen di mana Dynamo tak menyumbang pemain terbanyak di skuad. Waktu itu, Shakhtar mengirimkan lebih banyak pemain (7) dibanding Dynamo (6).

Secara kebetulan, dominasi Dynamo di seleksi pemain untuk Piala Eropa 2020 beriringan dengan perpindahan tampuk kekuasaan di Liga Ukraina. Untuk pertama kalinya sejak 2016, Shakhtar Donetsk tak menjuarai liga. Dynamo merebutnya pada 2020/21 setelah empat musim beruntun menjadi runner-up.

Salah satu faktor dari kudeta Dynamo adalah peran eks pelatih Shakhtar, Mircea Lucescu. Pelatih asal Rumania ini menangani klub ibukota sejak awal 2020/21. Ia didapuk sebagai legenda Shakhtar, meraih delapan titel liga dan enam Piala Ukraina selama 12 tahun. Kini, Lucescu justru menyeberang ke rival terbesar dan membawa mereka bangkit.

Lucescu mengandalkan banyak pemain muda untuk mencuri trofi dari Shakhtar. Mykhola Shaparenko, Vitaliy Mykolenko, Vladyslav Supiraha, dan Denys Popov rutin dilibatkan. Viktor Tsygankov, bintang muda Dynamo, tampil impresif mengemas 12 gol dan empat asis dari 20 pertandingan.

Pelatih berusia 75 tahun itu juga mempromosikan bakat muda yang kini diandalkan Shevchenko di lini belakang, Ilya Zabarnyi. Bek tengah Dynamo ini belum pernah mencicipi pertandingan level senior sebelum musim 2020/21. Sejak diberi debut oleh Lucescu, ia segera menjadi pemain penting di klub maupun timnas. Usianya baru 18 tahun saat Piala Eropa 2020 bergulir.

Kemampuan Dynamo Kyiv membina pemain unggulan adalah hasil akademi berkualitas. Bersama Shakhtar, mereka memiliki akademi sepakbola terbaik di Ukraina.

Umum diketahui bahwa Liga Ukraina selama ini lebih mirip balapan antara Shakhtar dan Dynamo. Terakhir kali ada juara selain Shakhtar atau Dynamo terjadi pada 1992. Situasi di kompetisi junior pun tak jauh berbeda. Sejak kompetisi junior Ukraina dibuat, selalu ada Dynamo atau Shakhtar yang menjadi juara. Dynamo memenangi lima dari enam musim liga U-21 terkini.

Hal tersebut menegaskan kualitas pengembangan pemain muda dua raksasa Ukraina tersebut. Konsisten menghasilkan pemain bertalenta pun membuat Shakhtar atau Dynamo masih bisa bersaing ketika Liga Ukraina dilanda krisis. Saat ini, meskipun tim nasional semakin naik level di Eropa, kompetisi domestik menghadapi nasib merana.

Klub-klub Ukraina mesti berkutat dengan krisis finansial yang dipicu situasi politik di negara itu. Pada 2013, pecahan Uni Soviet ini menghadapi krisis politik yang disusul aneksasi Krimea dan perang di Donbass.

Konflik membuat banyak klub mesti menjadi musafir atau justru bubar. Dua klub Liga Primer, Shakhtar dan Olimpik Donetsk terpaksa meninggalkan rumah yang menjadi area perang Ukraina dan separatis pro-Rusia.

Tak sedikit klub yang mesti bangkrut di tengah kekisruhan. Metalist Kharkiv, klub bersejarah dengan partisipasi rutin di Europa League, dikeluarkan dari kompetisi profesional setelah pemilik klub ini terjerat kasus dan kabur ke luar negeri. Metalist tak mendapat pendanaan hingga bangkrut.

Dnipro Dnipropetrovsk mengalami hal serupa. Pada 2015, klub ini menghadapi Sevilla di final Europa League. Tiga tahun kemudian, akibat krisis finansial, Dnipro didegradasi ke kompetisi amatir.

Klub-klub lain pun mesti berjuang di tengah krisis finansial. Klub-klub Ukraina tak punya dana untuk menarik pemain-pemain bagus ke liga mereka. Melansir Transfermarkt, daya transfer klub berkurang jauh sejak krisis mendera. Sebelum krisis, di bursa transfer 2013/14, klub-klub Ukraina membelanjakan 137 juta euro untuk belanja pemain. Semusim kemudian, jumlahnya berkurang drastis menjadi 24 juta euro.

Situasi krisis terus berlanjut dan daya pengeluaran klub semakin terkikis. Pada 2020/21, total pengeluaran transfer semua klub Liga Primer Ukraina hanya sejumlah 1,2 juta euro.

Di tengah kondisi sulit, performa timnas setidaknya bisa membuat sepakbola Ukraina berbangga. Zhovto-Blakytni seakan tak terpengaruh krisis liga domestik. Keseriusan mengembangkan pemain muda, khususnya dari dua klub terbesar, serta generasi bertalenta yang dilahirkan Dynamo Kyiv membuat Timnas Ukraina memiliki skuad mumpuni.

Di Piala Eropa 2020, Ukraina sejauh ini menorehkan hasil yang cukup baik, kalah 3-2 dari Belanda dan menang 2-1 atas Makedonia Utara. Kemenangan atas Austria akan membawa mereka ke fase gugur. “Tugas utama bagi tim ini adalah lolos dari babak grup,” kata Shevchenko sebelum turnamen dimulai. Berbekal dinamo dari Kyiv, mampukah Sheva melakukannya?

Komentar