Di balik Momen Kritis Eriksen

Cerita

by Rahman Fauzi Pilihan

Rahman Fauzi

Homo Narrans.

Di balik Momen Kritis Eriksen

Christian Eriksen ambruk dan berjarak tipis dengan maut. Situasi buruk yang kadung mewarnai penghujung babak pertama duel Piala Eropa 2020, Denmark versus Finlandia, Sabtu (12/6).

Untungnya, penanganan cepat sanggup menyelamatkan nyawanya. Menurut dokter timnas Denmark, Morten Boesen, Eriksen benar-benar kritis.

“Dia sempat ‘berpulang’. Kami melakukan resusitasi jantung paru (RJP) dan berhasil. Seberapa nyaris kita kehilangan dia? Saya tidak tahu. Namun, kami mendapatkan (denyut jantung) kembali setelah satu kali defibrilasi, jadi itu cukup cepat,” ucap Boesen dilansir The Guardian.

RJP atau cardiopulmonary resuscitation (CPR) memang pertolongan pertama bagi orang yang mendadak hilang kesadaran seperti Eriksen. Praktik pijat jantung yang bisa meningkatkan potensi nyawa selamat sekitar 17-44%.

Gerak cepat tim medis Denmark yang dibantu sikap kooperatif Simon Kjaer, cs. menyelamatkan nyawa Eriksen. Sembari dikelilingi rekan-rekannya dan ditutupi bendera besar Finlandia, Eriksen dibawa ke luar Stadion Parken. Pelatih Kasper Hjulmand mengapresiasi setinggi langit respon mereka semua.

Eriksen dirawat di Rumah Sakit Rigshospitalet yang tidak jauh dari stadion. Ketika sepenuhnya tersadar, Eriksen mengaku tidak benar-benar tahu apa yang terjadi. Pada Minggu pagi, kondisinya perlahan stabil dan telah berkomunikasi dengan tim.

“Christian orang yang besar hatinya. Dia merasa bisa bermain karena paling bahagia kalau berada di lapangan. Dia bilang pada Minggu pagi, kalau kami malah yang merasa lebih buruk daripadanya karena dia ingin tampil di lapangan lagi. Kami harus bersama-sama tampil demi Eriksen,” ucap Hjulmand.

Kritik mengarah kepada UEFA yang hanya menyediakan dua opsi: Pertandingan berlanjut pada Sabtu malam atau Minggu siang. Boesen, Hjulmand, dan banyak pihak seperti Peter Schmeichel juga mempertanyakan pilihan tersebut.



Pada akhirnya, Denmark memutuskan tampil setelah tahu Eriksen tersadar. Sayang, mereka gagal mempersembahkan kemenangan untuk sang bintang setelah kebobolan gol tunggal Joel Pohjanpalo. Bagi Hjulmand, momen pada malam itu bukan melulu semata soal sepak bola.

“Kita semua diingatkan apa yang paling penting dalam hidup dan perlunya memiliki hubungan yang bernilai dengan orang lain. Saya punya sekumpulan pemain yang tidak bisa saya cukup sanjung. Tidak lebih membanggakan melihat mereka saling tolong menolong pada saat temannya menderita,” tambah Hjulmand.

Anumerta

Eriksen bukan orang pertama yang ambruk mendadak di lapangan. Legenda Kamerun dan Manchester City, Marc Vivien-Foe, alami kolaps pada pertandingan semifinal Piala Konfederasi 2003 melawan Kolombia. Menurut istrinya, Foe sebenernya menunjukkan gejala sakit beberapa hari sebelum bertanding.

Pelatihnya, Winfried Schafer juga ingin menarik Foe semenit sebelum dia hilang kesadaran. Foe merasa enggan, karena ingin terus memperkuat negara asalnya di kota yang dia tinggali, Lyon. Nahas, nyawanya tidak tertolong.

Bek Sevilla, Antonio Puerta juga tumbang di lapangan karena masalah jantung. Nyawa Puerta yang masih berusia 22 tahun tercabut Tuhan, tiga hari setelah insidennya terkapar saat melawan Getafe pada La Liga 2007-08. Sosoknya menjadi alasan utama Sergio Ramos konsisten memakai nomor punggung 15 tim nasional sejak 2008-09. Ketika Ramos absen di Piala Eropa 2020, semua pemain segan mengenakannya.

Talenta muda Hungaria, Miklos Feher juga kolaps saat membantu Benfica menang atas Vitoria Guimares pada laga Liga Portugal musim 2004-05. Dia yang menyumbang asis pada gol tunggal Benfica, perlahan tidak sadarkan diri selepas wasit memberikan kartu kuning pada masa tambahan waktu.

Ketiganya mendapat penghormatan dari klub masing-masing. Secara simbolis, nomor punggung mereka dipensiunkan. Jelas masih banyak kisah serupa.

Fabrice Muamba juga alami nasib seperti itu saat memperkuat Bolton Wanderers melawan Tottenham Hotspur pada ajang Piala FA 2011-12. Untung, nyawa Muamba dapat terselamatkan meskipun mesti undur diri dari lapangan hijau.

Salah satu talenta terbaik Ajax Amsterdam, Abdelhak Nouri ditimpa derita yang sama saat bertanding pada laga pramusim melawan Werder Bremen pada 2017. Karier potensialnya tidak terselamatkan, selepas baru siuman dari koma nyaris tiga tahun kemudian.

Pemain Ajax lainnya ramai-ramai mengenakan nomor punggung 34 setelah pindah tim demi menghormati sosok Nouri semata. Pihak klub juga mempersembahkan trofi ke-34 mereka secara spesial untuknya.

Pasca Badai

Tahun 2021 sebetulnya perlahan berjalan begitu baik untuk Eriksen. CEO Inter, Beppe Marotta sebelumnya mencerocos melulu soal kemungkinan Eriksen pindah klub. Marotta kecewa, Eriksen yang telah setahun bergabung tim tidak kunjung tampil gemilang di Italia.

Beruntung, pada putaran kedua Serie-A, Eriksen akhirnya mendapat momentum untuk membantu Inter meraih scudetto. Tiga gol yang dia cetak selalu terjadi dalam momen genting.

Sumbangsih golnya di markas Napoli, membantu La Beneamata mencuri satu angka dan menjaga jarak dari para rivalnya. Sepakan Eriksen yang membobol gawang Crotone membantu mereka rileks untuk memastikan gelar juara sebelum berhadapan Juventus dan Roma. Terakhir, dia ikut memeriahkan pesta dalam pembantaian 5-1 atas Udinese.

Tidak heran, rekan-rekannya berseragam biru-hitam mengirim pesan simpatik secara kilat. Seperti Romelu Lukaku dan Achraf Hakimi yang bertanding bersama tim nasional tidak lama dari kejadian pilu rekan sejawat. Banyak pihak mendoakan kesehatan Eriksen, sosok peraih lima kali status Pesepak Bola Terbaik Denmark.

Kiprah Eriksen di Piala Eropa 2020 mungkin berakhir. Dari ruang perawatan, dia berharap rekan-rekannya bisa bangkit melawan Belgia (17/6) dan Rusia (22/6). Menyoal mentalitas kebangkitan, Denmark tercatat punya reputasi berdaya ledak mengejutkan sejak 1992. Mengubah status tidak lolos kualifikasi menjadi juara Eropa hanya dalam kurun dua minggu saja.

Kiprah Eriksen sebagai pesepakbola barang kali juga sudah berakhir. Menengok kisah para pemain yang terecoki serangan jantung, terasa mungkin karier sepak bolanya ikut purna.

Terasa berat menelan fakta demikian kalau memang adanya. Sekalipun bukan pemain yang membela tim favorit, kita tahu seberapa tokcernya daya kreasi pemain berusia 29 tahun di lini serang.

Lantas kita hanya bisa mengulang-ulang adegan ini dalam kepala: Joakim Maehle melakukan lemparan ke dalam dan Eriksen menerima bola.

Ada garis maut yang nyaris terlewat, sampai akhirnya terimbangi dengan respon tepat begitu cepat. Penuh syukur, nyawa Eriksen selamat.

Sumber: The Guardian/Alodokter/UEFA

Komentar