Waktunya Domenico Berardi Bersinar di Gli Azzurri

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Waktunya Domenico Berardi Bersinar di Gli Azzurri

Domenico Berardi mencetak gol indah saat Italia mengalahkan Irlandia Utara, Jumat (26/3/2021) lalu. Ia mencetak gol dari tiga aksi langsung. Antonio Florenzi mengirim umpan jauh ke sisi kiri kotak penalti. Berardi mengejarnya dan segera mendekati gawang. Pemain belakang Irlandia Utara menutup jalur umpan ke tengah, sedangkan kiper menghadap samping untuk menghalangi tembakan sang striker.

Berardi pun menunjukkan kejeniusannya. Dari sudut sempit, striker Sassuolo itu mengecoh Bailey Peacock-Farrell. Ia menembak dengan kaki bagian dalam. Bola melambung melewati bahu kiri kiper. 1-0 untuk Italia. Anak asuh Roberto Mancini kemudian memenangi laga tersebut dengan skor 2-0.

Gol itu secara paripurna menunjukkan talenta besar striker berusia 26 tahun itu. Sebagai penyerang kanan, Berardi doyan meneror pertahanan dan sigap menusuk ke dalam. Kaki kirinya cakap mengirim tembakan terarah yang mengelabui kiper.

Berardi sendiri selalu mencetak gol dalam tiga pertandingan terkini Italia. Ia menjadi pemain pertama yang melakukannya di era Mancini.

Sudah sejak lama bakat Berardi menjadi perbincangan hangat di Italia. Yang agak mengejutkan adalah kebetahannya membela I Neroverdi yang berkutat di papan tengah Serie A. Barangkali, yang lebih mengejutkan dari itu adalah fakta bahwa ia mendapat debut “telat” bersama Gli Azzurri.

Kendati sudah berusia 26 tahun, Berardi baru mendapat 10 caps Timnas Italia. Ia pun baru beroleh debut pada 2018 silam saat usianya 24. Sebenarnya, saat Italia dilatih Giampiero Ventura pada 2017, Berardi sudah mendapat debut. Tetapi ia diturunkan di partai persahabatan tidak resmi lawan San Marino. Laga itu tidak penting dan tidak memengaruhi apa pun. Gianluca Lapadula, yang waktu itu mendapat debut bareng Berardi, bahkan gagal memperkuat Gli Azzuri hingga kemudian membela Timnas Peru.

Berardi mengenalkan diri sebagai wonderkid sejak membawa timnya promosi dari Serie B. Di musim Serie A pertamanya, Berardi bersinar terang dengan mengemas 16 gol dan enam asis. Saat menghadapi AC Milan pada 2013/14, ia tampil fenomenal dan memborong empat gol.

Kampiun Serie A, Juventus bergerak cepat mendekati Berardi saat masih berumur belasan tahun. Pada 2013, Bianconeri membeli setengah kepemilikan (co-ownership) sang pemain. Kiprah di Juventus pun seakan telah jadi kemestian baginya.

Akan tetapi, Juventus kemudian menjual setengah kepemilikannya kepada Sassuolo pada 2015. Berardi memang masih dikaitkan dengan klub besar Italia macam Inter Milan, juga kepindahan ke klub top di luar negaranya seperti Arsenal dan Barcelona. Tetapi, rupanya ia nyaman di Sassuolo.

Di level klub, ada alasan kenyamanan yang membuatnya betah tak pindah. Tetapi di level timnas, Berardi menderita. Antonio Conte dan Giampiero Ventura terus-terusan mengesampingkannya.

Pada akhir era Cesare Prandelli, banyak yang mengeluhkan tiadanya striker berkualitas di Timnas Italia. Orang-orang mendapati Graziano Pelle dan Eder mengisi pos yang dulu ditempati Luca Toni, Filippo Inzaghi, hingga Christian Vieri. Mario Balotelli, Fabio Borini, hingga Manolo Gabbiadini pun gagal memenuhi ekspektasi Italia. Meskipun hal ini nyatanya bukan masalah besar di era Conte, rasanya aneh jika krisis striker tersebut tak membuat Gli Azzurri menjajal Berardi.

Keenganan Conte memanggil Berardi lebih karena alasan taktis. Eks pelatih Juventus itu mengandalkan pakem 3-5-2 atau 4-4-2 di timnas. Berardi merupakan penyerang sayap, bukan striker tengah yang dibutuhkan Conte.

Mengingat kontribusi impresifnya di level klub, keengganan untuk menjajalnya di sistem Conte cukup mengherankan. Berardi mencetak 15 gol dan 11 asis di Serie A 2014/15. Tetapi Conte sama sekali tak memanggilnya untuk kualifikasi Euro. Berardi sedianya dipanggil sekali pada era Conte. Sayangnya, waktu itu ia mendapat cedera.

Pengganti Conte, Giampiero Ventura juga tak memanggil Berardi karena alasan taktis. Sebagaimana pendahulunya, Ventura tak memiliki ruang bagi penyerang sayap. Namun ia juga enggan coba mengadaptasikan Berardi. Padahal, winger seperti Lorenzo Insigne, Stephan El Sharaawy, dan Federico Bernadeschi mampu beradaptasi dalam sistemnya.

“Dia [Berardi] semakin dewasa dan menorehkan statistik impresif. Saya akan mengambil kesempatan untuk menguatkan gagasan saya kepada pemain ini. Belakangan, dia tidak dipanggil karena alasan taktis dan kurangnya waktu kami untuk membuat perubahan di bagian itu [taktik], kata Ventura sebagaimana dikutip FourFourTwo pada 2016 silam.

“Kita sedang bicara tentang talenta terbaik Italia di sekitar sini dan kami akan menunggu untuknya. Di masa depan, kami akan mengganti cara bermain dan dia akan mendapat panggilan,” lanjutnya.

Perkataan Ventura betul-betul terjadi. Namun, bukan dia yang melakukannya. Ia dipecat usai gagal membawa Gli Azzurri ke Piala Dunia 2018. Pengganti Ventura, Roberto Mancini adalah orang yang mengganti cara bermain Italia dan memanggil Berardi.

Sang pemain sendiri harus bersabar sebelum mendapat tempat di skuad Mancini. Saat kualifikasi Euro, eks pelatih Manchester City itu lebih memilih Bernadeschi. Berardi mendapat debut pada 2018 dan baru rutin dilibatkan di tiga jeda internasional belakangan.

Tahun lalu, Mancini tak tergesa untuk menanti kontribusinya. Menurutnya, Berardi masih memiliki waktu untuk berkembang dan menjadi penyerang elite Eropa.

“Berardi, dengan kemampuan yang dia punya, seharusnya sudah menjadi seorang bintang. Tetapi dia masih muda, 25 tahun [kini 26], dia masih bisa jauh berkembang,” kata Mancini pada 2019 lalu.

Selama ini, meskipun sempat mengalami penurunan performa pada 2015-2019, ia tak pantas disebut bermain buruk. Jumlah golnya memang tak sampai 10 pada 2015/16-2018/19. Tetapi jumlah keterlibatan golnya (gol plus asis) selalu di atas 10. Bersama Gregoire Defrel dan Francesco Caputo, Berardi menjadi sosok vital di lini serang Sassuolo beberapa musim belakangan.

Pelatih Sassuolo, Roberto De Zerbi menyebut Berardi terlalu diremehkan sepanjang kariernya. Juru taktik berusia 41 tahun itu menegaskan bahwa sang pemain belum mendapat apresiasi yang sesuai kualitas.

“Dia, sebagaimana banyak hal di Sassuolo, terlalu diremehkan,” katanya dikutip Football Italia.

Kini, Mancini memasangnya di 11 utama dalam dua pertandingan terakhir. Kualifikasi Piala Dunia 2022 pun boleh jadi akan menjadi panggung seorang Domenico Berardi. Setelah lama dikesampingkan, kini saatnya dia bersinar di Gli Azzurri.

Komentar