Ketika Schalke dalam Masalah, Huub Stevens Tahu Jalan Pulang

Cerita

by Gilang Ramadhan

Gilang Ramadhan

Dapat disenggol lewat twitter @gilangdan

Ketika Schalke dalam Masalah, Huub Stevens Tahu Jalan Pulang

Kembalinya Huub Stevens ke Bundesliga sering kali menjadi kabar yang kurang menyenangkan. Pelatih asal Belanda itu sejatinya sudah pensiun. Tetapi pada satu dekade terakhir, Stevens selalu kembali dari masa pensiun untuk menyelamatkan klub-klub yang di ambang jurang degradasi.

Pelatih bernama lengkap Hubertus Jozef Margaretha Stevens tersebut dua kali menyelamatkan VfB Stuttgart pada akhir musim 2013/14 dan pertengahan musim 2014/15. Lalu TSG Hoffenheim ia tangani sebentar lantaran memulai musim 2015/16 dengan buruk. Satu setengah tahun lalu, giliran FC Schalke yang ia selamatkan dari jurang degradasi.

Kini, Stevens kembali menangani Schalke yang tengah terpuruk. Stevens tidak akan lama-lama di Veltins Arena. Senin (21/12) kemarin, pelatih 67 tahun itu mengungkap bahwa lisensi kepelatihan miliknya hanya berlaku hingga 1 Januari 2021. Alhasil, Stevens hanya akan menangani Schalke di dua laga terakhir tahun 2020.

Laga pertamanya berakhir dengan kekecewaan. Schalke takluk dari klub promosi Arminia Bielefeld. Hasil tersebut memperpanjang catatan tidak pernah menang secara beruntun di Bundesliga menjadi 29 laga. Schalke semakin dekat dengan rekor milik Tasmania Berlin (tidak menang di 31 laga Bundesliga beruntun).

Rabu (23/12) besok, Stevens akan melakoni laga terakhirnya bersama Schalke. Timnya akan melawan SSV Ulm, tim Regionalliga Sudwest (divisi keempat), di ajang DFB-Pokal. Seperti seorang teman lama yang mampir memberikan wejangan, kemenangan di laga tersebut dapat menjadi pemicu semangat tim untuk tidak menyerah di Rueckrunde (paruh kedua musim Bundesliga).

“Para pemain tidak diperbolehkan menyerah. Apa pentingnya menyerah? Masih banyak pertandingan yang tersisa. Kami tidak boleh menyerah. Kita harus berjuang dengan pikiran positif,” kata Stevens usai kekalahan melawan Bielefeld.

Selalu untuk Schalke

Ini merupakan kesempatan keempat Huub Stevens menangani Schalke. Meski kedatangannya akhir tahun ini bukan untuk menyelamatkan Schalke, setidaknya Stevens pernah menjadi juru selamat jelang akhir musim 2018/19.

Kondisi Schalke arahan Domenico Tedesco saat itu tidak jauh berbeda dari sekarang. Saat Stevens naik ke kursi pelatih, Schalke baru mampu mengoleksi 23 poin dari 25 pekan — kalah 15 kali, hanya meraih enam kemenangan, dan hanya berjarak tiga poin dari zona degradasi.

Walaupun tidak langsung tampil secara impresif dan dapat dipahami karena datang di akhir musim, Stevens pada akhirnya menyelamatkan Schalke dari jurang degradasi. Schalke mengakhiri musim di peringkat 14 klasemen akhir Bundesliga 2018/19 berkat 10 poin yang diraih bersama Stevens.

Di akhir masa pengabdian ketiganya bersama Schalke itu, Stevens sempat berujar tidak akan menangani lagi klub yang bermarkas di Veltins-Arena tersebut. Faktor kesehatan membuatnya harus mundur dari kiprah kepelatihan. Tetapi, ia tidak menutup kemungkinan jika klub memang benar-benar membutuhkannya di saat krisis. “Waktunya untuk pelatih yang lebih muda. Dan jika saat-saat krisis datang, saya harap keluarga saya mengizinkannya,” ucap Stevens kala itu.

Usai Stevens hengkang, Schalke belum berhasil menampilkan performa apik. Bersama David Wagner — yang mana juga merupakan eks pemain Stevens di era 90-an — die Koenigsblauen masih berjuang di papan bawah Bundesliga. Sementara penerus Wagner, Manuel Baum, juga tidak dapat mengangkat Schalke dari keterpurukan. Huub Stevens harus kembali ke Schalke.

Ksatria dari Kerkrade

Dua dekade terakhir, imaji tentang Schalke adalah sebuah klub yang mampu bersaing di empat besar Bundesliga, tampil di kompetisi Eropa, dan memiliki pemain-pemain berbakat. Bahkan, mereka sempat dijuluki Euro Fighters menyusul kemenangan di final UEFA Cup 1996/97 atas Inter Milan. Huub Stevens adalah pelatih mereka saat itu.

Meskipun hanya trofi "kelas dua" Eropa, Stevens dan skuadnya sudah memberikan kebahagiaan bagi para suporter Schalke, membangkitkan gairah penduduk Gelsenkirchen dari trauma degradasi 1988. Trofi itu merupakan gelar kontinental pertama sepanjang sejarah klub.

Laju mereka ke babak final UEFA Cup tidak mudah. Di 64 besar, Schalke menekuk mantan tim Stevens, Roda JC, dengan agregat 5-2. Kemudian mereka menekuk wakil Turki, Trabzonspor, dan raksasa Belgia, Club Brugge. Segalanya terlihat cerah ketika Royal Blues mampu menekuk dua wakil Spanyol, Valencia dan Tenerife (yang saat itu ditangani Jupp Heynckes) di dua babak terakhir sebelum final.

Skuad Stevens saat itu memang bisa dikatakan jelek dan minim bermain kualitas. Mereka hampir kehilangan Marc Wilmots di musim dingin 1997 dan hanya bertumpu pada Olaf Thon, eks pemain Bayern Muenchen sekaligus pemenang Piala Dunia 1990. Selebihnya, pemain-pemain seperti Johan de Kock, Mike Buskens (saat ini menjabat sebagai asisten pelatih Schalke) atau Andreas Mueller bukanlah nama-nama besar di Eropa.

Di tangan Stevens, mereka tidak perlu memiliki kualitas hebat, hanya perlu disiplin. Euro Fighters menerjemahkan dengan baik strategi "harus nol" milik Huub Stevens. Strategi yang mengagungkan pertahanan sebagai kunci kemenangan. Disiplin, kuat dalam bertahan, pantang menyerah, dan terorganisasi adalah gambaran yang cocok untuk Schalke saat itu.

Bagi Stevens, dan di Gelsenkirchen, yang terpenting adalah menyelesaikan pekerjaan. Glamor dan kemewahan mungkin sangat penting di Muenchen. Tetapi, di kota industri seperti Gelsenkirchen, lebih penting untuk membuat wajah dan lutut Anda penuh lumpur.

Saat masih melatih Roda JC Kerkrade, Stevens bahkan melarang para pemainnya memakai anting atau berambut panjang. Raut mukanya yang seram sering disamakan dengan aktor Hollywood, Jack Nicholson.

“Stevens menyisir rambutnya dengan penggaris dan kompas,” sebut Jens Lehmann tentang eks pelatihnya tersebut. “Bagi kami [Schalke 04], dia terlihat lebih dalam segala hal; lebih disiplin, lebih teknis, lebih terorganisasi.”

Stevens sendiri pernah mengungkapkan, disiplin yang ia jadikan pendekatan melatih bermula dari pengalaman-pengalaman pribadinya di masa kecil. Di umur delapan tahun, Stevens hampir tenggelam dan sewindu kemudian, ayahnya meninggal dunia karena kecelakaan.

“Saya belajar bagaimana secara cepat mengatasi situasi sulit. Keluarga saya tidak kaya, jadi saya harus tegas sejak dini. Saya pernah hampir tenggelam, jadi saya tahu apa arti tertekan yang sebenarnya. Dan setelah ayah saya meninggal, saya membangun tong emosional di sekitar saya untuk melindungi saya,” sebut Stevens pada 1988 silam.

Media-media Jerman menjulukinya Ksatria dari Kerkrade, merujuk tempat asalnya di Belanda dan ketegasannya dalam memanajemen tim.

Hingga akhir masa pengabdian pertamanya bersama Schalke, Huub Stevens juga mempersembahkan dua gelar DFB-Pokal (2000/01 dan 2001/02) dan menjadi runner up Bundesliga 2000/01.

Namun, musim 2000/01 menyisakan kegetiran. Tidak hanya bagi Stevens, melainkan seluruh lapisan klub Schalke sendiri. Schalke gagal meraih gelar Bundesliga di empat menit terakhir musim itu.

Meski gagal memberikan Meisterschale untuk klub, Stevens tetap legenda bagi pencinta Schalke. Toh, seluruh pelatih Schalke di era Bundesliga belum pernah melakukannya. Dia dinobatkan sebagai Manager of the Century oleh klub. Dan ketika Schalke sedang dalam masalah, Huub Stevens selalu tahu jalan pulang.

FC Schalke 04 belum sekali pun menang di Bundesliga 2020/21. Dengan sembilan kekalahan dan empat hasil imbang, Schalke menyambut jeda musim dingin di posisi terbawah. Perjalanan Schalke yang penuh aral dapat Anda saksikan klik di sini).

Komentar