Cerita di Balik Kambing Jantan FC Koeln

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Cerita di Balik Kambing Jantan FC Koeln

Maskot bukan barang baru di sepakbola modern. Banyak klub membuat karakter rekaan sebagai bagian identitas. Agar bisa hadir secara langsung ke publik, maskot-maskot ini biasanya dijadikan kostum yang disandang seorang manusia. Namun, hal itu tak berlaku bagi FC Koeln. Lebih dari setengah abad klub ini akrab dengan maskot yang cukup ikonis: seekor kambing jantan.

Kambing jantan itu bernama Hennes, dan ia hadir secara langsung di Stadion Muengersdorfer pada hampir tiap pertandingan. Hennes juga abadi tergambar di logo FC Koeln. Logo itu memuat gambar Hennes yang menapak lambang bundar FC Koeln dengan kaki depannya, seolah sedang bermain bola. Di dalam lingkaran, tertulis nama “1. FC Koeln” dengan warna latar belakang merah serta siluet ikon kota, Katedral Koeln.

Logo tersebut dipakai sejak 1973. Awalnya, logo Koeln hanya menyertakan siluet katedral dan warna merah yang jadi identitas mereka. Juara Bundesliga dua kali ini kemudian mempermanenkan kehadiran Hennes, sang maskot, dalam logo mereka.

Tayangan ulang pertandingan Bundesliga: Borussia Dortmund 1-2 FC Koeln

Jimat Keberuntungan dari Karnaval

Hennes pertama kali datang ke Koeln pada 1950. Waktu itu, Koeln baru dua tahun berdiri. Klub ini baru dibentuk pada 1948 lewat merger dua klub yang lebih tua, Koelner BC 1901 dan SpVgg Suelz 1907.

Pada 13 Februari 1950, Koeln didatangi rombongan sirkus yang dipimpin oleh Carola Williams. Rombongan itu melakukan perjalanan dari Praha, Ceko, ke Neustadt, Jerman, pada akhir Perang Dunia II. Dalam perjalanan, Carola dan rekan-rekannya menemukan seekor kambing yang tersesat beserta anaknya. Si kambing anakan sudah dewasa saat Carola menginjakkan kaki di Koeln. Rombongan sirkus kemudian menghadiahkan kambing itu ke FC Koeln sebagai jimat keberuntungan.

Pihak klub menyambutnya dengan baik. Koeln menamainya “Hennes”, diambil dari pemain yang merangkap pelatih klub saat itu, Hennes Weisweiler. Nama pelatih legendaris ini juga diabadikan sebagai nama akademi kepelatihan Jerman.

Sejak saat itu, Hennes selalu menemani pertandingan FC Koeln. Hennes I turut menjadi saksi perjuangan Koeln di Oberliga West pada masa awal.

Saking eratnya asosiasi dengan Hennes, Koeln bahkan dijuluki Die Geissboecke atau The Billy Goats (Inggris) atau Kambing Jantan atau Bandot (Indonesia).

Di Stadion Muengersdorfer (kini bernama RheinEnergie karena alasan komersial), Hennes tampil lebih dulu sebelum skuad yang bertanding memasuki lapangan. Tidak ada pertandingan sepakbola di Koeln bila Hennes belum mencicipi rumput lapangan.

Dari Hennes I hingga Hennes IX

Hingga saat ini, sembilan generasi Hennes telah menemani kiprah FC Koeln. Tetapi, tak ada hubungan darah antara Hennes pertama dan penerusnya. Gelar Hennes, tak seperti raja atau kaum bangsawan, didapatkan melalui pilihan, bukan privilese kelahiran.

Hennes VIII adalah seekor kambing dari Bergisch-Gladbach, kota di pinggiran wilayah Koeln. Nama lahirnya Berti. Ia ditunjuk menjadi maskot berdasarkan pilihan suporter. Pada 2019 lalu, Hennes pensiun dari tugasnya karena alasan kesehatan.

“Kami tidak mau maskot klub kami harus berdiri menahan sakit di stadion. Setelah promosi, sekarang adalah akhir yang tepat bagi Hennes VIII dan waktunya menikmati masa pensiun,” kata manajer umum FC Koeln, Alexander Wehrle, mengumumkan keputusan pensiun Hennes VIII.

Hennes VIII mengidap penyakit masa tua, osteoarthritis atau peradangan sendi. Direktur kebun binatang Koeln — tempat Hennes tinggal — Theo Pagel menyebut kondisi itu menghambat pergerakan sang bandot. “Seperti orang dengan osteoarthritis, ini bisa lebih atau kurang menyakitkan, tergantung kondisi cuaca,” ucapnya.

Pensiunnya Hennes pun menunjukkan besarnya respek dan perhatian klub terhadap kesejahteraan binatang. Sejak menjadi maskot, Hennes mendapat perawatan rutin dan kebutuhannya diakomodasi pihak klub.

Hildegard Schaefer dan Ingo Reipka adalah perawat sehari-hari Hennes. Riepka pun seringkali jadi sopir pribadi Hennes saat ada keperluan tertentu. Hildegard adalah janda dari Wilhelm Schaefer, peternak sekaligus perawat Hennes sejak 1970 hingga meninggal pada 2006. Sebelum pindah rumah ke kebun binatang Koeln, Hennes tinggal di peternakan Schaefer.

Selain mendapat perawatan istimewa semacam itu, seekor Hennes juga diabadikan menjadi cinderamata klub. Hennes juga sering membintangi iklan atau bahkan serial televisi.

Respek terhadap binatang pun menjadi kode etik tersendiri di klub FC Koeln. Pada 2015, striker Anthony Ujah dikritik keras karena melakukan selebrasi gol yang tak pantas dengan Hennes. Ujah, yang saking gembiranya usai mencetak gol, mendatangi Hennes di pinggir lapangan dan menarik tanduknya dengan kuat. Ujah pun mengumumkan kepada publik bahwa ia minta maaf atas kejadian itu. Pada ulang tahun Hennes VIII yang kedelapan, Ujah memerlukan datang ke kebun binatang dan memberi wortel sebagai ucapan selamat sekaligus permohonan maaf.

Kini, Hennes VIII digantikan oleh Hennes IX. Pada 2020/21, Hennes belum bisa kembali ke Stadion Muengersdorfer. Pasalnya, menanggapi pandemi korona, aturan kesehatan Bundesliga membatasi dengan ketat siapa saja yang boleh masuk ke stadion.

Situasi ini berbanding lurus dengan melempemnya performa skuad asuhan Markus Gisdol. Hingga Spieltag 8, Koeln belum meraih kemenangan di Bundesliga. Mereka pun terjerembap di peringkat 17, hanya unggul selisih gol dari Schalke 04 yang belum menang di Bundesliga sejak Januari 2020.

Koeln sepertinya butuh Hennes untuk mendukung mereka di lapangan.

FC Koeln berlaga di Bundesliga 1 2020/21. Seluruh pertandingan die Geissboecke dapat Anda saksikan di Mola TV. Klik di sini untuk menyaksikan seluruh tayangan langsung pertandingan Koeln, juga tayangan ulang dan highlights pertandingan-pertandingannya.

Komentar